Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 6 Oktober 2017 | 13:31 WIB
  • Mitos Jalan Braga Bandung Jalur Rasialis Kolonial Terungkap

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Adi Suparman (Bandung)
Mitos Jalan Braga Bandung Jalur Rasialis Kolonial Terungkap
Photo :
  • VIVA.co.id/Adi Suparman
Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 1947.

VIVA.co.id - Jalan Braga. Namanya semasyhur kota Bandung. Bukan hanya karena sebagai jalan utama tetapi juga lantaran meninggalkan jejak sejarah era kolonial.

Tata letak kawasan itu pun dibangun mengikuti model di Eropa sesuai perkembangan Bandung pada masa tahun 1920-1940-an sebagai kota mode yang cukup beken seperti Paris di Prancis. Bangunan kompleks pertokoan di sisi kanan dan kiri jalan yang berciri arsitektur pada masa pemerintah Hindia Belanda masih dilestarikan hingga kini.

Berkembang satu mitos bahwa jalan itu disebut sebagai jalur rasialis bagi warga pribumi ketika masih bernama Jalan Pedati (Pedatiweg) pada tahun 1900-an. Konon, diberlakukan aturan warga pribumi dilarang melintasi jalan itu.

Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2017.

FOTO: Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2017. (VIVA.co.id/Adi Suparman)

Seorang pemandu wisata bus di Kota Bandung saat mendampingi sejumlah turis menceritakan betapa jalan itu dahulu haram bagi orang non-Eropa. Bahkan, katanya, ada semacam slogan bernada merendahkan orang pribumi. Diperkuat bukti bahwa bangunan pertokoan dan gedung-gedung di sana, termasuk Gedung Merdeka (dahulu bernama Societeit Concordia, tempat hiburan kalangan elite Belanda), hanya untuk orang Eropa.

Aji Bimarsono, pemerhati sejarah sekaligus Ketua Bandung Haritage, mengaku tak dapat memastikan mitos itu benar atau keliru. Tetapi, katanya, sejauh yang dia tahu tak ada jejak atau tanda-tanda bahwa Jalan Braga dahulu ialah jalur rasialis.

Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2017.

FOTO: Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2017. (VIVA.co.id/Adi Suparman)

Aji hanya memastikan bahwa Jalan Braga dahulu ialah jalur aktivitas perekonomian dan distribusi barang. Sebagai jalur niaga, dia meyakini, tentu membutuhkan tenaga warga pribumi untuk mengangkut barang-barang atau komoditas hasil pertanian dan perkebunan dengan pedati (gerobak yang dihela kuda, lembu, atau kerbau).

"Pasti semua pedati lewat juga. Yang ngangkut barang belum tentu (orang) Belanda juga. Kemungkinan ada tukang-tukang (orang pribumi), (sehingga) jalan itu tidak tertutup buat pribumi," katanya kepada VIVA.co.id.

Kawasan Jalan Braga sebagai kompleks pertokoan, menurut Aji, diketahui pada dekade kedua atau sekira tahun 1900-an. Memang menjadi kawasan perbelanjaan dan hiburan eksklusif, terutama karena keberadaan Societeit Concordia, tetapi kecil kemungkinan dilarang bagi kalangan pribumi.

Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2017.

FOTO: Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2017. (VIVA.co.id/Adi Suparman)

Dia menganalisis berkembang mitos Jalan Braga sebagai jalur rasialis karena barang-barang atau komoditas yang diperdagangkan di sana adalah barang impor, hanya sanggup dibeli kalangan elite orang Eropa. Mungkin, kata Aji, sebenarnya tak dimaksudkan sebagai kawasan eksklusif namun berkembang menjadi begitu karena harga komoditasnya yang tak terjangkau kalangan pribumi.

"Saya enggak tahu apakah itu diskriminasi atau enggak, tapi yang yang jelas, yang punya uang orang Belanda, jadi yang banyak ke situ orang Belanda," ujarnya.

Bahkan, pribumi yang merasa berada dalam kelas ekonomi menengah ke atas pun otomatis mencari kawasan perbelanjaan lain yang dianggap lebih murah, bukan di Braga. "(terjadi) karena (Braga sebagai kawasan perbelanjaan) ekslusifnya--mahal." Fenomena itu berkembang secara alamiah saja, tidak karena pembatasan bagi kalangan pribumi. (ase)