Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 6 Oktober 2017 | 16:25 WIB
  • Gedung BI Berlatar Jembatan Sitti Nurbaya Lintas Empat Zaman

  • Oleh
    • Mohammad Arief Hidayat,
    • Andri Mardiansyah (Padang)
Gedung BI Berlatar Jembatan Sitti Nurbaya Lintas Empat Zaman
Photo :
  • Wikipedia
Gedung De Javasche Bank cabang Padang pada tahun 1931.

VIVA.co.id - Membayangkan kota Padang jangan cuma masakan Padang. Kota dengan legenda Sitti Nurbaya dan Malin Kundang itu salah satu kota tua di Nusantara. Riwayatnya membentang jauh sejak sebelum orang Belanda datang ke wilayah itu.

Padang awalnya berupa kota nelayan karena berada di pesisir barat Sumatera. Padang menjadi pusat perniagaan setelah Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) membangun pelabuhan di kota itu untuk memudahkan akses perdagangan dengan kawasan pedalaman pada abad 17. Sejak itu lah Padang berkembang menjadi pusat perdagangan.

Jejak perniagaan era kolonial dapat ditemui di banyak sudut kota itu. Salah satunya ialah keberadaan gedung Bank Indonesia di Jalan Batang Aau Nomor 60, Kelurahan Berok Nopah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.

Bangunan itu dahulu merupakan kantor De Javasche Bank (Bank Pulau Jawa) cabang Padang, cabang ketiga setelah Surabaya di Jawa Timur dan Semarang di Jawa Tengah. Gedung kokoh berciri arsitektur Eropa dengan pintu lebar itu berdiri tepat di samping Jembatan Sitti Nurbaya.

Gedung BI Berlatar Jembatan Sitti Nurbaya Lintas Empat Zaman

Gedung De Javasche Bank cabang Padang kali pertama dibuka pada 29 Agustus 1864. Lokasinya saat itu berada di Nipalaan Verpanding Nomor 1140 atau sekarang disebut Jalan Nipah. 

Pemerintah Hindia Belanda lantas membangun gedung baru perkantoran De Javasche Bank. Lokasi yang dipilih kali ini berada di Jalan Batang Arau Nomor 60. Kawasan itu lebih strategis dari sebelumnya karena berseberangan dengan dermaga Muaro Padang.

Pendirian De Javasche Bank di Padang pada masa itu bukan tanpa alasan. Menyandang sebagai salah satu bagian kota terpenting di Indonesia, terutama dalam menopang perekonomian dan kota perdagangan terbesar di pesisir pantai barat Sumatera, membuat pemerintah kolonial memutuskan untuk membangun gedung De Javasche Bank.

Kawasan Batang Arau menjadi pilihan terbaik karena jalur perniagaan, ada pelabuhan dan banyak moda transportasi laut. Kamer Van Koophandel En Nijverheid atau Kamar Dagang dan Industri Kota Padang-lah yang berperan dalam pembangunan itu.

Menurut Mestika Zed, sejarawan pada Universitas Negeri Padang, semasa pendudukan Jepang, sekira tahun 1942 hingga 1945, gedung De Javasche Bank, sempat diambil alih dan diganti oleh Jepang dengan nama Nanpo Kaihatsu.

Pada 1945, Belanda datang lagi dengan membonceng tentara Sekutu. Tak hanya kembali menguasai beberapa wilayah di Indonesia, Belanda juga merebut De Javasche Bank pada 23 Oktober 1947.

Gedung BI Berlatar Jembatan Sitti Nurbaya Lintas Empat Zaman

Hal terpenting dalam sejarah perkembangan De Javasche Bank, kata Mestika, terjadi pada 1951. Kala itu terjadi pengambilalihan oleh pemerintah Indonesia dari tangan pemerintah kolonial. Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia kala itu, Sjafruddin Prawiranegara, menjabat direktur pertama.

Pada 1953 juga merupakan tahun penting bagi perjalanan De Javasche Bank. De Javasche Bank berubah nama menjadi Bank Indonesia. Perubahan nama itu mempertegas simbol kedaulatan Indonesia di bidang moneter melalui mata uang yang kemudian disebut dengan rupiah.

Kelahiran Bank Indonesia menjadikannya sebagai bank sentral milik Indonesia, juga mengubah De Javasche Bank Agentschap Padang menjadi Bank Indonesia cabang Padang. Bank Indonesia cabang Padang berkantor di kawasan itu hingga 1977.

Tak lama kemudian, setelah tak lagi mampu menampung aktivitas yang kian padat, kantor Bank Indonesia cabang Padang di Batang Arau dipindahkan ke Jalan Sudirman Nomor 22, Jati Baru, Padang. Pada 2 April 2012, kantor Bank Indonesia cabang Padang berubah nama menjadi Kantor Perwakilan Wilayah VIII BI Padang.

Gedung BI Berlatar Jembatan Sitti Nurbaya Lintas Empat Zaman