Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 11 Oktober 2017 | 14:01 WIB
  • Makam Lareh Canduang, Saksi Bisu Eksistensi Belanda di Agam

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Andri Mardiansyah (Padang)
Makam Lareh Canduang, Saksi Bisu Eksistensi Belanda di Agam
Photo :
  • VIVA.co.id/Andri Mardiansyah
Makam Lareh Canduang

VIVA.co.id – Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tak hanya dikenal dengan sejarah tentang sepak terjang Syekh Amrullah, yang merupakan kakek Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka, dengan sisa peninggalan berupa Masjid Syekh Amarullah yang dibangun pada abad ke-18. Namun, juga diketahui memiliki sejumlah benda peninggalan sejarah, sisa peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

Salah satunya adalah makam Lareh Canduang yang berada di Jorong Batu Belantai, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Makam ini merupakan makam Tuanku Lareh, atau dalam bahasa Belanda disebut dengan Larashoofd, yang artinya Kepala Laras.

Tuanku Lareh yang diketahui merupakan jabatan adat buatan Pemerintah Kolonial Belanda pada masa itu cukup bergengsi di Minangkabau. Jabatan Tuanku Lareh, secara umum berasal dari kalangan penghulu yang berpengaruh di suatu negeri tersebut, difungsikan untuk mengontrol masyarakat Minangkabau.

Situs Makam Lareh Canduang terletak di lahan seluas 663 meter persegi ini berada di kompleks pemakaman Keluarga Tuanku Lareh Canduang dari Suku Sikumbang. Dalam kompleks ini, sedikitnya terdapat tiga makam Lareh Canduang dengan ukuran 51x24 meter.

Ketiga makam Tuanku Lareh Canduang tersebut atas nama Oenus Rajo Lenggang yang menjabat pada tahun 1842 hingga 1848 Masehi, Makam Thaib yang bergelar Khatib Sampono yang menjabat sebagai Tuanku Lareh Canduang pada tahun 1848 hingga 1857 Masehi, dan Makam Abdul Karim bergelar Datuak Panduko Sianso, yang diketahui mulai menjabat pada tahun 1857.

Kompleks makam Lareh Canduang yang sejak 2007 lalu, sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat ini, mempunyai denah berbentuk empat persegi yang membujur arah barat-timur dengan panjang 51 meter, lebar sisi timur 21 meter dan lebar sisi barat 13 meter.

Untuk menjaganya, situs kompleks makam Lareh Canduang sudah dipagar dengan pagar kawat berduri. Namun, pengunjung masih bisa mendatangi lokasi itu untuk melihat secara dekat seperti apa rupa makam tersebut.

Pada kompleks makam itu, pengunjung atau penikmat wisata sejarah dapat menjumpai beberapa buah makam dengan nisan dari menhir. Makam dan nisan paling besar jiratnya berundak dari bahan batu kali yang direkat dengan semen. Kekhasan dari nisan-nisan tersebut terletak pada bentuk menhir yang sangat sederhana, pipih lebar, dan berukuran besar.

Nah, bagi Anda yang berminat mengunjungi lokasi ini, sangat mudah karena komplek situs makam Lareh Canduang berada persis di tepi jalan. Dengan demikian, akan sangat mudah dijangkau menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat atau dengan moda transportasi lainnya.

Jika dari kota Padang, lokasi ini hanya berjarak sekitar 59 kilometer atau bisa ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 2,5 jam. Sangat banyak moda transportasi yang bisa menghantar Anda menuju lokasi kompleks makam tersebut, mulai dari transportasi umum, hingga sewaan.

Sekadar diketahui, tokoh tetua yang menyandang gelar Tuanku Lareh pada masa dahulu merupakan orang yang betul-betul dipilih oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Mereka kebanyakan dari kalangan penghulu yang berpengaruh kuat terhadap suatu wilayah, yang juga bisa diajak bekerja sama oleh Belanda.

Pada masa itu, banyak Tuanku Lareh yang tetap memegang idealisme, namun juga tak sedikit yang dibenci oleh masyarakat. Sebab, secara langsung atau tidak, mereka juga tetap menjadi perpanjangan tangan kolonial Belanda untuk menekan dan mengontrol masyarakat Minangkabau di beberapa wilayah. Tuanku Lareh pada masa itu, selain dituntut harus loyal kepada Belanda, juga harus bisa melindungi rakyatnya. (asp)