Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 17 Oktober 2017 | 11:53 WIB
  • Kunjungan Wisman China ke Indonesia Melonjak

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Isra Berlian
Kunjungan Wisman China ke Indonesia Melonjak
Photo :
  • FOTO: Agustinus Hari/VIVA.co.id
Turis asal China serbu Manado rayakan Cap Go Meh.

VIVA.co.id – Tahun ini, pemerintah telah menetapkan 15 juta kunjungan wisatawan asing. Hingga Agustus 2017, telah mencapai 9,2 juta jumlah kunjungan wisatawan mancanegara. Jumlah wisman naik secara signifikan sebesar 25,68 persen dibandingkan dengan capaian di tahun 2016 lalu.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana, mengutarakan, China masih mendominasi kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, yakni sebesar 1.428.909 atau naik 47,83 persen dibanding tahun lalu. Disusul oleh Jepang sebesar 360 ribu atau naik 5,59 persen.

"Untuk urutan ketiga disusul Australia sebesar 804 ribu atau naik 1,73 persen. Di urutan keempat ada Malaysia sebesar 786 ribu atau naik sebesar 1,15 persen, dan posisi kelima ada Singapura dengan jumlah 945 ribu atau naik sebesar 0,62 persen," ucapnya di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Senin 16 Oktober 2017. .

Sedangkan untuk pertumbuhan kedatangan wisatawan mancanegara berdasarkan pintu masuk tahun ini, Bandara Juanda (Surabaya) menempati posisi pertama yakni sebesar 37,52 persen disusul Bandara Ngurah Rai (Bali) sebesar 36,8 persen, Batam-Kepulauan Riau sebesar 17,51 persen dan Bandara Soekarno Hatta sebesar 4,2 persen.

Ia melanjutkan, untuk memperoleh sisa target dari 15 juta tersebut, tahun ini pihaknya pun telah melakukan beberapa terobosan, seperti menawarkan paket wisata weekdays. Mengingat wisatawan lebih banyak datang ke Indonesia saat libur panjang. Seperti halnya terlihat di Batam-Bintan, yang ramai oleh wisatawan Singapura saat akhir pekan.

"Kita tawarkan paket yang kita kombinasikan dengan 3A (akses, atraksi, dan amenitas) kita buat ketiga jadi paket bundling dengan harga yang tidak mungkin ditolak. Ini mengingat kita punya banyak kapasitas yang bisa digunakan, tapi belum digunakan secara efektif," katanya. (one)