Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 18 Oktober 2017 | 13:46 WIB
  • Desa Suku Cia-Cia di Sulawesi Berjuluk Kampung Korea

  • Oleh
    • Zahrotustianah,
    • Kamarudin Egi (Kendari)
Desa Suku Cia-Cia di Sulawesi Berjuluk Kampung Korea
Photo :
  • VIVA.co.id/Kamarudin Egi
Kampung Korea di Sulawesi Tenggara

VIVA – Bagi para pecinta budaya Korea di Indonesia, khususnya K-Popers, rasanya wajib meluangkan waktu ke Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Di kota ini ada sebuah daerah yang disebut dengan nama Kampung Korea. Letaknya di Kecamatan Sorawolio, Jalan Poros Kota Baubau menuju Kabupaten Buton.

Penduduk kampung ini didominasi oleh masyarakat Cia-Cia yang sukunya adalah Laporo. Masyarakat Cia-Cia Laporo ini mempunyai persamaan kata dengan aksara hangeul atau bahasa Korea. Bahkan, bahasanya banyak kemiripan dengan Bahasa Korea. Penduduk terbanyak Cia-Cia terletak di Kelurahan Karya Baru dan sudah masyhur sejak delapan tahun lalu.

Di wilayah ini hampir semua lokasi diberi nama Korea, seperti pada jalan, hingga sekolah. Pelajaran SMP dan SMA juga diberlakukan pelajaran Bahasa Korea. Dalam penelusuran VIVA.co.id memang ada kebudayaan-kebudayaan dan Bahasa Cia-Cia yang mirip, bahkan sama dengan apa yang dimiliki oleh Korea.

"Ada guru dari Korea yang datang belajar Bahasa Cia-Cia," kata Abidin seorang guru bahasa Korea di Karya Baru, Baubau.

Kampung Korea di Sulawesi Tenggara

Namun menurutnya, walau ada kesamaan kata, ia tidak mengetahui apakah Cia-Cia mempunyai garis keturunan dengan orang Korea. Kata Cia-Cia, kata Abidin, yang mirip dengan bahasa Korea di antaranya kata Gha, Gho, dan Bae.

"Bahasa Korea ada huruf-huruf ini. Maknanya sama bahasanya, tetapi Bahasa Cia-Cia sebenarnya tidak semua sama dengan bahasa Korea," jelasnya.  

Kampung Korea di Sulawesi Tenggara

Menurutnya, hingga sekarang belum ada kesimpulan resmi dari para peneliti apa yang mendasari Cia-Cia memiliki akar budaya yang mirip dengan Korea. Meski begitu, budaya Korea mulai disosialisasikan kepada masyarakat di sini. Bukan untuk menghilangkan bahasa Cia-Cia, namun malah untuk memperkenalkan lagi sejak dini agar bahasa daerah tidak hilang. (ren)