Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 18 Oktober 2017 | 16:52 WIB
  • Benteng Fort de Kock, Saksi Sejarah Perang Padri

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Andri Mardiansyah (Padang)
Benteng Fort de Kock, Saksi Sejarah Perang Padri
Photo :
  • VIVA.co.id/Andri Mardiansyah
Benteng Fort de Kock

VIVA – Selain Ngarai Sianok, Jam Gadang dan sejumlah objek wisata menarik lainnya, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, juga dikenal dengan kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia. Bukittinggi yang sempat mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatera pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda ini memiliki satu objek wisata sejarah yang tak kalah menarik untuk dikunjungi.

Objek wisata sejarah itu adalah Fort de Kock. Benteng Fort de Kock yang berlokasi di Nagari Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi didirikan oleh Kapten Johan Heinrich Conrad Bauer pada tahun 1830.

Benteng Fort de Kock yang pada masa itu dibangun saat Baron Hendrik Merkus de Kock menjadi Komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda, difungsikan sebagai benteng pertahanan dari serangan rakyat Minangkabau yang melakukan perlawanan atas penindasan dan bentuk kesewenang-wenangan Belanda, terutama sejak pecahnya Perang Padri pada tahun 1821-1837.

Bagi masyarakat Sumatera Barat, khususnya di Bukittinggi, keberadaan benteng Fort de Kock tidak hanya sebatas bangunan tua, namun menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun asing. Lebih dari itu, benteng yang berada di puncak Bukit Jirek tersebut memiliki catatan sejarah penting bagi masyarakat Bukittinggi dan menjadi saksi bisu kegigihan pasukan Padri yang dikomandoi Imam Bonjol dalam melawan dan mengusir pasukan Hindia Belanda di tanah Minang.

Nama Benteng Fort de Kock diambil dari nama Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda pada masa itu, yang sekaligus menjabat sebagai Komandan Militer (commandant der troepen), yakni Hendrik Merkus Baron de Kock. Bauer memberikan nama benteng itu dengan sebutan Benteng Fort de Kock sebagai bentuk dedikasi kepada Hendrik Merkus Baron de Kock.

Saat ini, bangunan benteng Fort de Kock di lokasi ini secara fisik sudah tidak ada. Bangunan yang masih tersisa hanya bangunan bak air dengan denah persegi empat. Areal bekas benteng, dibatasi oleh parit melingkar sedalam 1 meter dan lebar sekitar 3 meter.

Salah satu peninggalan yang masih berhubungan dengan benteng adalah delapan buah meriam besi yang dipasang di sekeliling area bekas benteng dengan panjang antara 116 hingga 280 sentimeter. Salah satu meriam tersebut terdapat inskripsi yang menunjukkan angka tahun 1813.

Walau demikian, lokasi benteng Fort de Kock hingga saat ini masih menjadi salah satu objek wisata unggulan Kota Bukittinggi. Banyak wisatawan yang datang dari dalam maupun luar negeri melihat secara langsung dan mengabadikan momen dalam bentuk foto maupun video bukti peninggalan sejarah itu.

Pemerintah Kota Bukittinggi pada tahun 2002 silam memberikan sentuhan baru pada lokasi benteng Fort de Kock ini, dengan melakukan renovasi yang kemudian dijadikan sebagai taman Kota Bukittinggi (Bukittinggi City Park) dan Taman Burung Tropis (Tropical Bird Park).

Berada di lokasi yang sama dengan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dan Museum Rumah Adat Baanjuang, membuat objek wisata benteng Fort de Kock memiliki nilai lebih ketimbang objek wisata lain.

Setelah puas melihat keberadaan benteng ini, setiap pengunjung yang datang juga dapat melepas penat dengan menikmati udara sejuk kota Bukittinggi dengan pemandangan Gunung Marapi serta ratusan jenis satwa yang dipelihara di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.

Sejarawan Universitas Andalas, Anatona Gulo menyebutkan, selain sebagai bangunan pertahanan, benteng Fort de Kock juga merupakan simbol keberhasilan Pemerintah Kolonial Belanda menduduki wilayah Sumatera Barat, terutama di wilayah Bukittinggi, Agam, dan Pasaman.

Keberhasilan Belanda pada masa itu, tak lepas dari kelicikan yang selalu mereka terapkan. Melihat adanya konflik antara kelompok adat dan kelompok agama, Belanda kemudian masuk dan mencoba memengaruhi. Bahkan Belanda bersedia memberikan bantuan kepada kelompok adat untuk memberikan perlawanan kepada kelompok agama selama Perang Padri meletus.

Pertikaian antara kaum adat yang masih berpegang teguh dengan tatanan adat lama dan kelompok Padri yang berpegang erat pada syariat Islam inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Belanda untuk masuk ke dalam konflik.

Dari situlah asal muasal adanya kesepakatan antara Belanda dengan kelompok adat. Kesepakatan tersebut diperbolehkan Belanda untuk membangun basis pertahanan militer di kawasan tersebut, yakni sebuah benteng yang diberi nama Fort de Kock. Bahkan benteng pertahanan itu didirikan Belanda tidak hanya di Bukittinggi, namun juga di kawasan Tanah Datar, yang diberi nama benteng Fort van der Capellen.