Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 19 Oktober 2017 | 09:36 WIB
  • Reservoir Siranda, Saksi Bisu Perang 5 Hari di Semarang

  • Oleh
    • Rochimawati,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Reservoir Siranda, Saksi Bisu Perang 5 Hari di Semarang
Photo :
  • VIVA.co.id / Dwi Royanto
Reservoir Siranda Semarang

VIVA –  Ada sejumlah jejak perjuangan kemerdekaan di Kota Semarang yang kini masih terjaga. Salah satunya keberadaan bak penampungan air atau tandon air tertua bernama Reservoir Siranda. 

Reservoir Siranda menjadi saksi bisu kepahlawanan mendiang dokter Kariadi yang tewas oleh tentara Jepang. Tewasnya dr Kariadi memicu pertempuran dahsyat mengusir Jepang yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari Semarang. Perang itu pecah pada 14 Oktober hingga 19 Oktober 1945.

Berlokasi di Jl Diponegoro, tandon air pertama di Semarang ini dibangun pemerintah kolonial Belanda pada 1912 hingga 1923. Sebelum diubah namanya menjadi Reservoir Siranda, tandon tersebut bernama water leiding.

Menurut Yongky Tio, sejarawan Semarang, Reservoir Siranda memang menjadi saksi bisu pecahnya pertempuran lima hari di Semarang. Kala itu pasukan penjajah Jepang diketahui masih ada di Semarang pada era setelah kemerdekaan.

"Waktu itu tersiar kabar bahwa Jepang meracunkan air di situ, supaya membikin repot warga Semarang di wilayah bawah, " kata Yongky kepada VIVA co.id, Rabu 18 Oktober 2017.

Kabar tentang tandon air itu diracun Jepang, lanjut Yongky, rupanya terdengar oleh para pemuda Semarang yang tengah mengadakan rapat di rumah Sakit Purusara (sekarang RSUP dr Kariadi). Saat itu Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara adalah Dr Kariadi. 

"Nah Dr Kariadi memberanikan diri untuk memeriksa apakah betul air di Siranda diracun atau tidak, " jelasnya. Bersama sopirnya dr Kariadi mengendarai sebuah mobil dan mengecek di kawasan tandon air Siranda.

Namun dalam perjalanannya, dr Kariadi tertembak oleh tentara Jepang yang telah berjaga di kawasan Jl Pandanaran. Cerita lain menyebut, dr Kariadi tewas setelah ditangkap Jepang di kawasan Reservoir Siranda.

Tewasnya dr Kariadi tersebut lalu memicu kemarahan pemuda Semarang saat itu. Hingga akhirnya pertempuran dahsyat terjadi selama lima hari berturut-turut di sejumlah tempat. Hingga akhirnya perang dimenangkan oleh pemuda Semarang. 

Peristiwa paling terkenal tersebut kini terus diperingati oleh masyarakat Semarang. Setiap tanggal 14 Oktober peringatan Pertempuran Lima Hari selalu digelar dengan drama teatrikal untuk mengenang gugurnya dr. Kariadi serta perjuangan pemuda kala itu.

"Maka nama Rumah Sakit Purusara akhirnya dinamakan RS dr Kariadi untuk mengenang jasa dr Kariadi, " kata Yongky. Pasca kemerdekaan, bangunan Reservoir Siranda sendiri masih tetap dipergunakan hingga kini.

Selalu Digembok

Tandon air itu kini dikelola oleh PDAM Kota Semarang. Luas lahan reservoir Siranda yakni 2.500 meter persegi. Ada dua bangunan tandon, salah satunya berbentuk kubah dan berlapis rumput. Namun kawasan itu kini tertutup, karena pintu utama menuju Reservoir selalu digembok oleh pengelola. 

"Memang sekarang dikunci terus karena dikelola PDAM. Saat ini fungsinya sudah tidak terlalu penting karena telah ada pipa-pipa PDAM, " tutur Yongky. 

Resevoir Siranda Semarang

Foto: VIVA.co.id / Dwi Royanto

Ia menyebut, awalnya tandon tesebut memiliki fungsi sentral penyediaan dan penyaluran air di Kota Semarang. Selain di Siranda, tandon serupa juga ada di Jl Mbangkong. Belanda juga membuat pos-pos penampung air  di Pecinan dan kawasan Kota Lama. (ren)
 

  • Bendungan Pamarayan, Saksi Perbudakan Belanda di Banten
    Bendungan Pamarayan, Saksi Perbudakan Belanda di Banten
  • Kejanggalan Angka Empat pada Jam Gadang Masih Misteri
    Kejanggalan Angka Empat pada Jam Gadang Masih Misteri
  • Perang Kamang, Pertempuran Hidup-Mati Selain Padri
    Perang Kamang, Pertempuran Hidup-Mati Selain Padri
  • Pembunuhan Wanita Ubah Citra Sunan Kuning Jadi Lokalisasi
    Pembunuhan Wanita Ubah Citra Sunan Kuning Jadi Lokalisasi
  • Sunan Kuning, Jejak Ulama Tionghoa yang Tercoreng Lokalisasi
    Sunan Kuning, Jejak Ulama Tionghoa yang Tercoreng Lokalisasi
  • Gedung 'Hantu Besar' Itu Kini Jadi Mal Pelayanan Publik
    Gedung 'Hantu Besar' Itu Kini Jadi Mal Pelayanan Publik