Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 31 Oktober 2017 | 15:30 WIB
  • Telusuri Madura, Eksotisme Cadas Manjakan Mata

  • Oleh
    • Beno Junianto,
    • Nur Faishal (Surabaya)
Telusuri Madura, Eksotisme Cadas Manjakan Mata
Photo :
  • Nur Faishal/Surabaya/VIVA.co.id
Pantai Utara Madura

VIVA – Ada hikmah di balik kabar macet berjam-jam karena perbaikan jembatan di Jalan Raya Blega Kabupaten Bangkalan kala VIVA.co.id dan beberapa kawan hendak melancong ke Pulau Madura, Jawa Timur, pada Senin, 30 Oktober 2017. Kami memutuskan melewati jalur pantai utara atau pantura.

Jalur pantura biasa digunakan warga Madura jika terjadi hambatan di jalur nasional. Jika tak ada perbaikan jembatan, biasanya jalur pantura dipakai pengendara dari Surabaya menuju Pamekasan atau Sumenep, kala banjir langganan di Kota Sampang terjadi.

Jalur pantura bisa diakses melalui Kecamatan Arosbaya di Bangkalan kota. Bila Anda dari arah Jembatan Surabaya-Madura, sesampai mulut akses Suramadu sisi Madura di Pertigaan Tangkel, berbeloklah ke kiri menuju arah Kota Bangkalan. Lurus saja. Menjelang kota, ada pertigaan, jika lurus menuju kota, bila ke kanan menuju Kecamatan Arosbaya. Ambillah arah kanan.

Jalur pantura Madura tidak membuat pusing, begitupun bagi pengendara yang pertama kali melewati jalur itu. Dari Arosbaya di Bangkalan, Anda lurus saja mengkuti jalan beraspal hingga Kecamatan Ambunten di Sumenep. VIVA.co.id mencatat, waktu tempuh dari Arosbaya hingga Ambunten cuma tiga jam perjalanan dengan kecepatan 60 kilometer pe jam.

Kami hanya agak bingung ketika sampai di Ambunten. Terdapat beberapa pecahan jalan yang tidak kami ketahui sampai di sana. Kami pasrahkan kemudi mobil pada naluri. Jalan yang bermarka putih kami pilih sebagai penanda menuju kota. Perkiraan kami benar. Praktis empat jam perjalanan ditempuh karena melaju pelan mengira-ngira arah kota.

Lupakan soal jalur dan waktu tempuh. VIVA.co.id lebih tertarik mengamati pemandangan alam dan desa sepanjang perjalanan dari Arosbaya hingga Ambunten. Kebetulan, cuaca begitu mendukung. Cerah bersuhu 35 derajat celsius. Terik matahari tanpa penghalang awan memudahkan mata menelanjangi apapun yang kami lewati.

Madura sebagai tanah gersang kesan awal yang muncul. Kesan gersang itulah yang memang sejak lama identik dengan Madura. Tetapi di situlah justru nilai lebihnya: pantura Madura tampak masih perawan dibandingkan pemandangan yang biasa terlihat sepanjang jalan arteri yang biasa dilewati banyak pengendara.

Dari Arosbaya hingga Sepuluh, tidak ada hal yang begitu istimewa. Kondisi jalan sepanjang dua kecamatan ini tidak begitu bagus. Aspalnya banyak luka-luka dan bergelombang. Rumah-rumah warga sedikit yang menunjukkan kekhasan Madura. Maklum, Arosbaya dan Sepuluh berada di wilayah administratif Bangkalan, kabupaten terdekat di dengan Surabaya di Madura.

Sampai di Banyuates, Sampang, barulah alam Madura pesisir terlihat terang. Di sisi kiri jalan, lautan luas terpampang. Di kanan jalan, sawah dan ladang bertanah merah dengan latar gundukan bukit-bukit cadas memenuhi pandangan mata. Pepohonan biasa ditemukan di kawasan tandus berdiri jarang-jarang.

Di beberapa titik, warung berdinding anyaman bambu berdiri di tepi jalan. Beberapa orang duduk menikmati menu yang dijajakan sang penjual. Kebanyakan dari warung itu menjajakan kuliner rujak petis Madura, atau soto rujak. Di Sumenep, soto rujak biasa disebut dengan soto selingkuh, karena perpaduan antara rujak petis dengan soto khas Madura.

Pemandangan alam agak berbeda terlihat kala kami melewati Batumarmar, Pamekasan. Memasuki Pasean, kecamatan yang berbatasan dengan kabupaten Sumenep, alam lebih subur merengkuh suasana. Apalagi ketika mobil kami memasuki Kecamatan Pasongsongan hingga Ambunten, Sumenep.

Badan jalan kian lebar. Aspalnya mulus. Tetapi kanan-kiri jalan tampak lebih sepi. Rumah-rumah sedikit sekali terliha berdiri di tepi jalan. Pohon siwalan dan nyiur yang jangkung berbaris di ladang dan sawah perbukitan sepanjang jalan ini. Pohon-pohon asam dengan daun rindangnya memagari tepian jalan.

Ada pula batang-batang pohon kelor berdiri satu-satu mengikuti pematang sawah dan ladang. Batang kelor itu sepertinya dipakai petani sebagai rambatan cabai gunung, atau yang biasa disebut warga setempat dengan cabai jamu. Satu hal yang sama sepanjang perjalanan dari Arosbaya hingga Ambunten: tanahnya berwarna merah.

Pantai Utara Madura (VIVA/Nur Faishal)