Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 6 November 2017 | 06:00 WIB
  • Berpetualang ke Ie, Gua Cantik yang Tersembunyi di Aceh

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Dani Randi (Banda Aceh)
Berpetualang ke Ie, Gua Cantik yang Tersembunyi di Aceh
Photo :
  • VIVA.co.id/Dani Randi (Aceh)
Gua Ie di Aceh Besar.

VIVA – Keindahan Gua Ie di perbukitan Desa Leupung Bruek, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, menyihir para wisatawan pecinta petualang untuk menjelajahi isi perutnya.

Gua yang belum terjamah banyak orang ini menyimpan potensi keindahan yang begitu menarik untuk dikunjungi. Apalagi, untuk menuju ke gua harus melewati dan membabat semak belukar demi mencari jalan.

Ya, keberadaan gua yang memiliki stalaktit dan stalagmit hidup itu bisa menjadi alternatif destinasi wisata tak biasa bagi wisatawan.

Konon, hanya orang-orang tertentu saja mengetahui keberadaanya, seperti Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) dari Universitas Muhamadiyah Aceh yang pertama membuka jalur menuju ke sana pada tahun 2008.

Kemudian, warga yang membuka lahan perkebunan di sekitar gua dan Mantan Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dulu pernah bersembunyi di dalam Gua Ie.

Mantan kombatan GAM di wilayah Aceh Besar, Lem Zi mengatakan, dulunya ia mengaku pernah bersembunyi dalam gua. Kemudian ia menjadi pendamping ketika Mahasiswa Pecinta Alam membuka jalur menuju Gua Ie.

“Saya yang mengantarkan anggota Mapala kemari, itu pada tahun 2008 lalu. Kalau untuk gua ini bagi saya sudah seperti rumah,” kata Lem Zi kepada VIVA baru-baru ini.

Ia mengatakan, setelah perjanjian damai RI dan Aceh Tahun 2006 silam, dua tahun berikutnya, barulah ia perkenalkan gua itu kepada anggota Mapala untuk dieksplorasi. “Setelah kenalkan tempat ini, baru banyak yang datang, tapi khususnya anak-anak Mapala, kalau untuk wisatawan belum,” ujarnya.

Menurut dia, dulu pada saat konflik GAM-RI, Ia bersama puluhan kombatan lainya memilih untuk bersembunyi di gua tersebut. “Tempat ini dulu aman untuk bersembunyi. Tidak ada yang tahu. Jangankan orang lain, warga sekitar tidak tahu,” ucapnya.

Ke depannya, kata dia, tempat ini bisa dijadikan lokasi wisata yang memiliki nuansa lain dari destinasi wisata lain yang ada di Aceh.

Gua Ie di Aceh Besar.

                                        (VIVA.co.id/Dani Randi)

Saat VIVA mengunjungi tempat ini, medan jalannya sudah dipenuhi semak belukar dan harus dibabat kembali. Sesampainya di lokasi, rasa lelah menempuh perjalanan terbayar dengan panorama yang eksotis.

Gua Ie menawarkan pemandangan indah bias cahaya matahari yang berbentuk garis-garis karena efek melewati sela-sela ranting pepohonan sebelum jatuh ke dasar gua. Pemandangan itu menjadi sajian istimewa.

Hendri Abik (26), spesialis gua dan tebing dari Universitas Muhammadiyah Aceh menyatakan, Gua Ie sangat layak dikembangkan menjadi lokasi wisata petualang. Namun, pemerintah harus menyediakan pendamping profesional guna memajukan wisata gua. Pendamping profesional berguna untuk memastikan keselamatan para wisatawan yang berkunjung.

Untuk peralatan sendiri, kata Hendri, harus mengunakan alat standar caver, serta harus dipandu oleh tim yang mampu dalam bidang caving.

Selain itu, kata dia, mereka bisa mengontrol serta mengingatkan wisatawan dan warga untuk menjaga kelestarian alam gua, terutama stalaktit dan stalagmit, yang pembentukannya butuh ratusan tahun tetapi sangat mudah rusak. ”Kelestarian gua sangat penting karena menjadi tempat sumber air bersih. Kalau gua rusak, sumber air akan hilang. Apalagi kalau sudah mudah terjamah oleh orang,” ujar Hendri.

Jika ingin mengunjungi tempat ini, dari Kota Banda Aceh, pengunjung harus menumpuh sekitar satu jam perjalanan hingga ke Desa Leupung Bruek. Perjalanan harus dilakukan dengan menggunakan transportasi pribadi, karena akses transportasi terbatas.

Dari desa tersebut, pengunjung kembali harus menempuh waktu sekitar 45 menit untuk menuju lokasi. 500 meter awal perjalanan, tersaji pemandangan hamparan ilalang yang eksotis. Pengunjung lalu akan memasuki kawasan hutan primer yang terbentang sekitar dua kilometer sebelum tiba di Gua Ie. (mus)