Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 6 November 2017 | 10:45 WIB
  • Uniknya Oleh-oleh dari Kayu Langka Khas Karimunjawa

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Uniknya Oleh-oleh dari Kayu Langka Khas Karimunjawa
Photo :
  • Viva.co.id/Dwi Royanto
Ahmad Biki pengrajin kayu khas Pulau Kaimunjawa

VIVA – Pulau Karimunjawa Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, memang dikenal menjadi surga eksotis bagi wisatawan. Selain wisata pantai, daerah di pesisir Pantai Utara Jawa itu juga dikenal memiliki aneka ragam kerajinan khas yang cocok untuk buah tangan.

Salah satu yang legendaris ada di Karimunjawa adalah kerajinan yang terbuat dari tiga jenis kayu khas Karimunjawa berjenis Dewandaru, Stigi, dan Kalimasada.

Tiga jenis kayu yang banyak tumbuh di kawasan tersebut, kerap dijadikan aneka ragam kerajinan seperti keris, cincin, pipa rokok, batu kalung, aksesoris unik hingga tongkat yang sering digunakan para pejabat.

Ahmad Biki (41 tahun), seorang pengrajin kayu khas Karimunjawa mengaku tiga jenis kayu khas Karimunjawa kerap disebut sebagai kayu ajaib. Ia menceritakan bahwa dirinya kerap menemukan hal-hal unik di dalamnya selama selama puluhan menggeluti sebagai pengrajin kayu.

"Tiga kayu khas Karimunjawa ini, memang banyak memiliki keunikan. Barangnya juga semakin hari makin langka," kata Biki, ditemui di bengkel kerajinannya di Jl Danang Doyo, Karimunjawa, Minggu 5 November 2017.

Ia menjelaskan, jenis kayu Dewandaru banyak dipercaya sebagai simbol kewibawaan. Orang percaya, jika mendapat kayu tersebut di Karimunjawa akan mendapatkan banyak sugesti. Seperti bisa menjaga rumah maupun penangkal segala macam santet.

"Orang yang pesan kayu Dewandaru, biasanya minta dibuat tongkat, keris, cincin, batu kalung, serta pipa rokok," kata dia.

Khusus kayu jenis Stigi. Kayu ini memiliki keunikan sebagai penawar jenis racun, khususnya racun ular. Menurut Biki, kandungan di dalam serat kayu itu mampu mengeluarkan racun dan telah terbukti secara medis.

"Kalau digigit ular ditempel saja, nanti racun akan tersedot dan keluar sendiri," tambah pria yang telah 30 tahun tinggal di Karimunjawa itu. 

Selain kayu penawar, Biki menyebut kayu Stigi juga memiliki nilai artistik tinggi. Di mana, kayu itu memiliki corak tiga dimensi. Ia menyebut corak kayu itu sebagai barik, atau doreng yang setiap bagiannya seolah tampak hidup. Namun, corak khas ini kini sangat langka meski peminatnya begitu banyak. 

"Kayu yang paling berkualitas ini bisa bernilai jual tinggi. Saya pernah menjualnya Rp3 juta dengan jenis tongkat," katanya.

Sama seperti Dewandaru dan Stigi, kayu jenis Kalimasada juga memiliki segudang keunikan. Kebanyakan kayu ini banyak menjadi beragam aksesoris yang banyak dijual kepada para wisatawan yang datang ke Karimunjawa. 

Sebagai pengrajin kayu, Biki pun mengaku kini kesulitan untuk mendapatkan tiga jenis kayu khas tersebut yang benar-benar berkualitas unggul. 

"Pas ada pesanan bisa mencapai 20 sampai 25 jenis tongkat. Kalau untuk keris kayu kuno, saya jual Rp1 juta, tetapi rata-rata Rp250 ribu dan aksesoris Rp20-Rp100 ribu, " ujarnya. 

Nur Soleh, Sekretaris Camat Karimunjawa mengungkapkan, pihaknya akan terus melestarikan keberadaan kayu-kayu khas Karimunjawa itu, karena menjadi keunikan di wilayahnya. Bahkan, ia sangat menyayangkan masih banyak warga yang nekad menebang pohon stigi secara liar di hutan-hutan yang ada di Karimun. 

"Kayu ini, termasuk langka dan sebenarnya jadi ekosistem yang dilindungi oleh Balai Taman Karimunjawa dan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), " katanya.

Selain di Kaimunjawa, kayu Stigi juga banyak tumbuh di kawasan tropis lain. Mulai dari  pesisir pantai Asia Selatan dan Asia Tenggara, macam Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, Sri Lanka, hingga pesisir Tazmania Australia. Pohon jenis ini juga tumbuh di kawasan Samudera Pasifik, seperti Mikronesia, Fuji, dan Guam. (asp)