Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 9 November 2017 | 18:34 WIB
  • Waspada, 4 Daerah Wisata Ini Rawan Eksploitasi Seksual Anak

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Isra Berlian
Waspada, 4 Daerah Wisata Ini Rawan Eksploitasi Seksual Anak
Photo :
  • Viva.co.id/Anisa Widiarini
Desa Tuk-tuk Pulau Samosir Sumatera Utara

VIVA – Indonesia menjadi salah satu tujuan wisata dunia. Hal ini menyebabkan, banyak turis dari berbagai negara yang berkunjung ke Indonesia setiap tahunnya.

Tingginya jumlah kunjungan wisatawan ini mengakibatkan terjadi peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak di beberapa destinasi wisata  yang ada di Indonesia.

Berdasarkan studi End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficiking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia tentang situasi kekerasan seksual dan eksploitasi seksual terhadap anak di destinasi wisata 2017 ditemukan empat daerah yang masih marak eksploitasi seksual anak.

Empat daerah yaitu, di Kabupaten Karang Asem, Bali, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, Kabupaten Garut, Jawa Barat dan Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara.

Di daerah tersebut  kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak. Kekerasan seksual itu tidak hanya dilakukan oleh wisatawan luar negeri tapi juga oleh para wisatawan lokal.

"Kita tahu bahwa pariwisata saat ini meningkat. Ketika meningkat, traveller yang datang bukan hanya melihat alam dan budaya saja tapi di situ terjadi eksploitasi anak," ungkap ECPAT Internasional, Gabriela di Jakarta, Kamis 9 November 2017.

Ia menyebut, fenomena eksploitasi seksual anak di destinasi wisata tidak hanya terjadi di Indonesia tapi terjadi secara global. Fenomena eksploitasi seksual anak terus meluas hingga ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Hal Ini tak lain dipengaruhi karena semakin mudahnya akses internet sehingga membuat para pelaku lebih mudah untuk mencari informasi mengenai prostitusi anak. Selain itu, keterbukaan wilayah pariwisata juga dampak negatif bagi masyarakat sekitar khususnya anak-anak.

"Sekarang penggunaan internet makin luas para pelaku lebih mudah. Dulu fisik ketemu fisik sekarang beda makin tinggi kerentanan anak," ujarnya menjelaskan.

Berdasarkan situasi-situasi di atas, peran media menjadi penting untuk menghapuskan eksploitasi seksual anak di destinasi wisata. ECPAT Indonesia mendesak beberapa hal seperti mendorong Kementerian Pariwisata dan penegak hukum agar ada upaya-upaya konkret untuk menanggulangi masalah eksploitasi seksual anak di destinasi wisata segera dilakukan.

"Kami pun mendesak agar pemerintah memberikan informasi dan edukasi kepada wisatawan agar menjadi wisatawan yang bertanggung jawab dan tidak melakukan kekerasan dan eksploitasi seksual anak di destinasi wisata.” (mus)