Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 14 November 2017 | 08:07 WIB
  • Menyusuri Kisah Pilu Bencana Tsunami Aceh

  • Oleh
    • Daurina Lestari
Menyusuri Kisah Pilu Bencana Tsunami Aceh
Photo :
  • VIVA.co.id/Daurina Lestari
Museum Tsunami Aceh

VIVA – Banda Aceh memiliki kisah pilu, dihantam bencana gempa berkekuatan 9,1 skala richer, disusul dengan gelombang Tsunami, hingga menewaskan 126 ribu jiwa pada 26 Desember 2004. Tsunami menyapu seluruh Banda Aceh dan meluluhlantakkan hampir semua bangunan di dataran sekitar enam kilometer dari pesisir pantai samudera Hindia Belanda.

Museum Tsunami Aceh menjadi monumen sejarah peristiwa bencana dahsyat tersebut. Museum berbentuk seperti kapal dan didesain tahan gempa. Gedung ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi dan evakuasi warga bila terjadi tsunami.

“Museum ini menjadi bangunan evakuasi jika terjadi tsunami. Lantai empat bisa menampung 3.000 orang,” kata Pemandu Wisata Museum Tsunami Aceh, Amir Faisal, kepada VIVA saat mengunjungi museum di Banda Aceh.

Ia menuturkan, lantai empat museum tidak dibuka untuk umum. Lantai ini dibuka hanya bila ada kegiatan simulasi evakuasi tsunami untuk edukasi anak-anak sekolah. Saat itu lah pengunjung museum bisa ikut serta dalam simulasi evakuasi dan merasakan kepanikan bencana tsunami.  

Masuk ke Museum Tsunami Aceh, pengunjung harus melewati lorong gelap yang disebut Space of Fear. Lorong gelap sepanjang 30 meter ini membuat bulu kuduk merinding, seolah ingin membuat pengunjung merasakan kelamnya peristiwa bencana tsunami.

Setelah itu pengunjung akan memasuki ruang kenangan. Di sini terdapat monitor-monitor yang menampilkan visual foto-foto dampak bencana tsunami 13 tahun lalu.

Di lantai dasar ini juga terdapat Ruang Sumur Doa. Dinding ruang Sumur Doa terpasang 4.000 nama korban tsunami dan beratapkan lafadz Allah. Sumur ini dirancang untuk mengingatkan manusia bahwa segala sesuatunya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Sumur Doa di Museum Tsunami Aceh

Naik ke lantai dua adalah ruang pameran dan edukasi. Di lantai ini terdapat foto-foto, simulasi elektronik tsunami, dan benda-benda sisa hempasan gelombang tsunami.  

Serta, dipamerkan diorama-diorama menggambarkan bencana tsunami. Seperti miniatur ombak tsunami yang menghantam penduduk, kapal PLTD Apung, yang terhempas hingga ke permukiman penduduk, dan Masjid Rahmatullah, bangunan satu-satunya, yang selamat dari terjangan tsunami.

Untuk masuk ke museum, wisatawan tidak dikenai biaya alias gratis. Namun promo ini berlaku hanya sampai tahun ini, karena tahun depan wisatawan yang masuk ke museum harus membayar tiket Rp3.000 dan tamu asing Rp10.000.

Diorama gelombang Tsunami