Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 17 November 2017 | 17:38 WIB
  • Kampung Seribu Payung di Malang Gerakan Roda Ekonomi Warga

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Lucky Aditya (Malang)
Kampung Seribu Payung di Malang Gerakan Roda Ekonomi Warga
Photo :
  • Viva.co.id/Lucky Aditya
Kampung Seribu Payung di Malang

VIVA – Kampung Lowokpadas di Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang Taruna 3 RT 04 RW 03, dulu terkenal sebagai sentra payung kertas pada tahun 1950-1970an. Untuk mengembalikan kejayaan industri payung, warga sekitar membuat kampung tematik bernama 'Kampung Payung Lowokpadas'.

Kampung Payung tidak hanya menyuguhkan ornamen payung mulai pintu masuk kampung hingga sudut-sudut kampung saja. Kampung Payung dihidupkan kembali untuk menggerakan roda ekonomi warga Lowokpadas.

"Karena, selain ingin mewariskan payung kertas karya sang maestro Mbah Rasimun, kita juga ingin menggerakkan roda perekonomian warga. Warga akan diajak bekerja membuat payung dan menjual ke pasaran," kata Humas Kampung Payung, Dimiyanti, Jumat 17 November 2017.

Di Kampung Payung saat ini, memang tinggal seorang maestro payung kertas Mbah Rasimun yang tetap mempertahankan kerajinan tradisional itu. Atas jasanya, Mbah Rasimun pernah mendapat penghargaan dari Sri Paduka Mangkunagoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya.

"Karena tinggal seorang Mbah Rasimun, kita ingin mempertahankan identitas kampung sentra payung. Setiap penjualan payung akan diberikan sebagian keuntungan untuk keluarga Mbah Rasimun. Beliau yang menularkan ilmunya, beliau yang menilai hasil karya, beliau juga layak mendapat timbal balik dari warga berupa bagian keuntungan," papar Dimiyati.

Rencananya akan ada seribu payung yang dipasang di wilayah Kampung Lowokpadas. Warga akan membentuk sebuah organisasi, atau manajemen untuk memodernisasi industri payung. Manajemen akan mengatur proses produksi, melakukan pemasaran hingga menyediakan bahan baku.

"Saat ini, sudah 50 warga yang bersedia membuat industri rumahan payung kertas. Bahan baku sampai setengah jadi disiapkan oleh manajemen. Mulai tangkai, jari-jari semua distandarkan oleh manajemen, setelah itu bahan diberikan untuk dirakit warga," ujar Dimiyati.

Manajemen Kampung Payung telah membuat perhitungan nilai ekonomi. Jika satu payung laku Rp50 ribu, Rp20 ribu akan dikembalikan sebagai biaya bahan baku. Rp30 ribu akan dibagi dua untuk warga penggarap dan manajemen. Hasil yang didapat manajemen akan diberikan sebagian ke Mbah Rasimun dan biaya perawatan Kampung Payung.

"Harapannya mengangkat pengangguran. Di kampung kita banyak pengangguran. Harapannya, mulai dewasa hingga tua terserap sebagai pekerja. Kalau sudah terlaksana, kita melestarikan budaya dan mengangkat ekonomi," kata Dimiyati.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendi menyebut atas kegigihan dan ketulusan mbah Rasimun. Pihaknya akan mengusulkan penganugerahan penghargaan untuk Mbah Rasimun sebagai pelestari budaya bangsa.

"Mbah Rasimun tetap konsisten menularkan keahliannya membuat payung tradisional yang saat ini mulai terlupakan. Untuk manajemen Kampung Payung, saya berharap segera mendaftarkan hak paten, agar di masa mendatang tidak ada pihak yang mengklaim kreativitas ini sebagai milik mereka," ujar Muhadjir. (asp)