Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 21 November 2017 | 08:00 WIB
  • Balekambang, Bukti Besarnya Cinta Ayah untuk Putrinya

  • Oleh
    • Rochimawati,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Balekambang, Bukti Besarnya Cinta Ayah untuk Putrinya
Photo :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto
Bale Kambang, SOlo

VIVA – Berkunjung ke Kota Solo, Jawa Tengah belum lengkap rasanya, jika tak mengeksplore destinasi wisatanya. Kota kecil yang kental dengan budaya Jawa ini memiliki banyak lokasi gaul hingga tempat bersejarah yang cocok dengan wisatawan. 

Salah satu destinasi yang patut dikunjungi adalah Taman Balekambang di Jl. Balekambang No. 1, Manahan, Banjarsari, Kota Surakarta. Kawasan seluas 9,8 hektare ini memang kental akan nuansa keluarga Mangkunegaran.

Taman Balekambang dibangun pada 26 Oktober 1921, oleh KGPAA Mangkunegaran VII. Bangunan ini menjadi simbol besarnya kecintaan seorang ayah kepada putrinya, yakni persembahan Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati (KGPAA) Mangkunegoro VII kepada Gusti Raden Ayu Partini Husein Djayadiningrat dan Gusti Raden Ayu Partinah Sukanta. Figur kedua putri ini dapat dilihat dari patung yang berada di taman Balekambang.

Pada awal berdirinya, taman ini belumlah dinamai Balekambang. Melainkan ada dua nama yang disematkan yakni Partini Tuin (Taman air Partini) dan Partinah Bosch (Hutan Partinah). Patini Tuin, atau Taman Air Partini berfungsi sebagai penampungan air untuk membersihkan, atau menggelontor kotoran-kotoran sampah di dalam kota. 

Taman Bale Kambang

Area Partini Tuin terdapat sebuah kolam besar dan kolam renang dengan dua balai, yakni balai apung dan balai Tirtayasa. Kedua balai ini pula yang menjadi alasan panamaan Balekambang. Di masa lalu, balai-balai ini digunakan sebagai tempat bersantai anggota keluarga kerajaan.

Area berikutnya Partinah Bosch atau hutan Partinah, menyimpan berbagai koleksi tanaman langka, seperti beringin putih, beringin sungsang, kenari, apel coklat dan sebagainya. Partinah Bosch berfungsi sebagai resapan dan paru-paru kota.

Sejak direvalitasi pada 2007, kedua taman ini menyatu dijadikan ruang publik sebagai sarana wisata keluarga, edukasi dan kesenian.

"Dulunya taman ini adalah tempat rekreasi keluarga Mangkunegaran pada era KGPAA Mangkunegara VII, dan dibuka untuk umum pada era Mangkunegara VIII, " kata Martono, salah satu pengelola Taman Balekambang, Senin 20 November 2017.

Pengunjung juga dapat menikmati wisata air di kolam Partini dengan perahu dan becak air yang sudah disediakan. Di samping kanan terdapat kolam keceh. Bagi yang ingin belajar reptil di sebelah kiri kolam Partini terdapat taman reptil. Wahana lain terdapat juga becak hias, kereta kelinci, dan kuda wisata. 

Ketika capek berkeliling Taman Balekambang, pengunjung dapat bersantai di bangku-bangku bawah pohom rindang yang desainnya ala taman Eropa, sambil bercengkerama dengan kawanan rusa jinak seperti nuansa keluarga Mangkunegaran tempo dulu.

Dijelaskan Matono, pengunjung taman Balekambang setiap harinya mencapai 1.000 orang. Bahkan saat libur Lebaran dan sekolah dapat mencapai 2.500 per hari. Tidak ada tiket masuk, ketika berlibur di taman eksotis ini, namun hanya membayar parkir sebesar Rp3.000. 

"Selain biaya murah meriah, wisatawan dapat wawasan baru tentang kota Solo, serta bersantai bersama keluarga atau orang tercinta," kata Martono.

Sejak dibuka untuk umum ketika era Mangkunegaran VIII, Taman Balekambang tidak hanya sekadar tempat untuk bersantai. Kawasan ini juga menjadi kunci sukses berkembangnya kesenian di kota Solo, karena menjadi pusat hiburan rakyat seperti tari, ketoprak lesung dan srimulat.

Tempat pertunjukan di Balekambang terdapat dua tempat, area pertunjukan outdoor dan indoor. Tempat pertunjukan asyik, yakni sendratari Ramayana yang rutin digelar  setiap malam bulan purnama. Selain sendratari, tempat ini juga sebagai arena pertunjukan musik keroncong, tembang kenangan, serta genre-genre musik lainnya.