Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 Desember 2017 | 13:48 WIB
  • Menguak Misteri Watu Tugu di Kota Semarang

  • Oleh
    • Jujuk Ernawati,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Menguak Misteri Watu Tugu di Kota Semarang
Photo :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto
Watu Tugu di Semarang

VIVA – Sebagian masyarakat Semarang sudah tentu tak asing dengan keberadaan situs Watu Tugu. Situs tua di Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang itu selama ini dikenal sebagai destinasi Candi Tugu.

Penamaan candi Tugu oleh masyarakat memang masuk akal. Kawasan puncak bukit itu memang terdapat bangunan candi yang kerap menjadi tujuan wisata. Letaknya di puncak ketinggian memang cocok untuk refresing serta menyepi di sela penatnya suasana perkotaan.

Tapi sebenarnya, kawasan Candi Tugu bukanlah situs candi asli. Candi itu hanya duplikat dari Candi Gedong Songo yang dibangun oleh PT Djamin pada 1985 silam. Situ asli Candi Tugu sebenarnya hanya sebuah batu yang lokasinya di samping duplikat candi.

Warga menamakan situs batu itu sebagai Watu Tugu. Bentuknya berupa batu asli setinggi 4 meter dan menyerupai stupa dengan bentuk mengecil di puncaknya. Watu Tugu diyakini sebagai sebuah prasasti karena terdapat tulisan di bagian tengah.

Tulisan itu menggunakan dua bahasa, yakni Belanda dan Jawa. Bunyi tulisan tersebut menerangkan bahwa situs ini pernah dipugar oleh kolonial Belanda pada tahun 1938 atas prakasa sejarawan J. Knebel.

Beberapa literatur sejarah menyebutkan, Watu Tugu ditemukan kali pertama oleh Verbeek pada tahun 1891. Dapat dilihat dari buku Veronique Myriam Yvonne Degroot, Watu ini adalah sisa-sisa pondasi persegi bersama dengan pilar puncak.

Kontroversi

Keberadaan Watu Tugu selama ini memang masih cukup kontroversi. Belum ada sumber yang valid terkait sejarah lengkap Watu Tugu di puncak bukit tersebut. Itu sebabnya, Watu Tugu masih menyimpan seabrek misteri hingga kini.

Zaenal, salah seorang sesepuh Desa Tugurejo menyebut, sebagian masyarakat meyakini bahwa situs Watu Tugu merupakan tapal batas dua kerajaan, yaitu Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Majapahit. Konon, daerah di kawasan situs itu dahulunya merupakan lautan dan bukan pemukiman.

"Masyarakat memang mempercayai tapal batas ini. Bukan hanya digunakan pada masa Majapahit, melainkan Kerajaan Demak dan Cirebon masih menggunakan batas ini, " kata Zaenal kepada VIVA, Senin, 4 Desember 2017.

Menurut dia, Watu Tugu konon juga menjadi tempat perdamaian dan pembebasan antara kerajaan Majapahit dan Pajajaran saat konflik pecah kala itu.

"Nah, prasasti Watu Tugu itu kemudian dibangun sebagai simbol perdamaian kedua kerajaan. Tapi bukti otentik itu juga masih simpang siur," ujarnya.

Watu Tugu di Semarang

Cerita lain diungkapkan Sumarto, seorang juru kunci Watu Tugu. Ia menuturkan bahwa Watu Tugu dijadikan tempat tambatan perahu berlabuh di era kerajaan Majapahit dan Pajajaran.

Kawasan ini juga dijadikan tempat mengintai musuh. Hal itu karena lokasinya yang tinggi serta strategis untuk melihat musuh yang datang.

"Tempatnya di atas bukit, dekat dengan laut. Mungkin saja dahulu di sini dermaga. Sangat strategis untuk mengintai musuh," katanya.

Salah satu bukti situs Watu Tugu dengan dua kerajaan, lanjut Sumarto adalah kisah turun temuun makam Lanji di sebelah timur Tugurejo. Konon, makam Lanji merupakan tempat peristirahatan para punggawa dua kerajaan tersebut.

"Sekarang makam itu sudah dibongkar untuk pabrik baja sekitar tahun 1970-an. Menurut cerita, saat pembongkaran pernah ditemukan kepingan mirip koin peninggalan masa lalu," kata dia.

Sejarawan Semarang, Djawahir Muhammad mengungkapkan, belum lengkapnya bukti otentik mengenai Watu Tugu memang membuat situs di Semarang Barat itu masih misterius hingga kini. Tapi jika dilihat dari infografis sejarah, menurut Djawahir, sangat mungkin jika situs Tugu memang dibangun saat era dua kerajaan tersebut.

"Masa kejayaan kerajaan Majapahit dan Pajajaran memang selisih tahunnya tidak jauh berbeda. Ada kemungkinan Watu Tugu menjadi tapal batas kedua kerajaan tersebut. Tapi tidak ada fakta yang mendukung, masih perlu ditelusuri lagi, " tutur Djawahir.

Terlepas dari kontoversi itu, saat ini masih menarik untuk menjadi pilihan berlibur maupun jelajah sejarah. Itu lantaran lokasinya yang strategis yakni KM 11 jalan utama Semarang-Jakarta. Pengunjung dijamin akan merasakan sensasi berbeda untuk naik ke lokasi, karena harus menaiki jalan setapak yang cukup tinggi.