Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 26 April 2016 | 09:46 WIB
  • Menelusuri Jejak Hitam Kuburan Massal Tragedi 1965

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Moh Nadlir,
    • Agus Rahmat,
    • Ade Alfath,
    • Dwi Royanto (Semarang)
Menelusuri Jejak Hitam Kuburan Massal Tragedi 1965
Photo :
  • AP Photo/ Amel Emric
Ilustrasi/Kuburan pembantaian massal
File Not Found

VIVA.co.id – Ratusan orang berkumpul di sebuah pabrik padi di belantara Kaliwungu Kendal Jawa Tengah. Malam itu, di waktu yang sudah tak diingat Sudirman. Ia diangkut paksa dengan sebuah truk sampah ke sebuah hutan di Dusun Plombon Wonosari.

"Malam itu ratusan orang dikumpulkan dan diperiksa. Yang akan ditembak dijejer-jejer (berbaris). Saya salah satunya," kata Sudirman mengenang tragedi pembantaian massal pada tahun 1965.

Sudirman mengingat betul bagaimana mencekamnya hari itu. Hujan yang gerimis dan lubang kubur yang sudah disiapkan menjadi 'hantu' kenangan di kepalanya.

"Saya menyaksikan teman-teman perjuangan saya ditembaki berkali-kali di badan," tutur Sudirman dengan mata berkaca-kaca.

Malam itu, Sudirman menghitung sudah ada 28 orang yang meninggal ditembaki. Darah menggenang dan setiap yang mati dengan sendirinya bergelimpangan di lubang yang telah disiapkan.

Desing peluru dan aroma mesiu mencekat hidung. Sudirman bergidik dan gemetar hebat di barisan. Lalu, ketika tiba gilirannya. Letupan peluru mendadak berhenti. Rupanya, Tuhan berpihak kepada pria yang mengaku waktu ditangkap masih berusia 34 tahun tersebut.

http://media.viva.co.id/thumbs2/2015/06/01/316743_mbah-sudirman--84--_663_382.jpg

FOTO: Sudirman (84), pria yang selamat dari pembantaian massal yang dilakukan militer Indonesia pada tahun 1965.

 

"Saya selamat karena peluru aparat yang menembaki itu habis. Kemudian saya dibawa lagi ke tahanan di Kendal," kata Sudirman dalam perbincangan dengan VIVA.co.id tahun lalu.

Tapi sial. Selamat dari pembantaian massal itu tak membuat Sudirman bernasib baik. Ia habis dipukuli selama di penjara. Keluar masuk penjara pun menjadi langganan. Dari lembaga pemasyarakatan Nusakambangan, Kendal hingga Semarang pun dicicipi Sudirman.

Dan kini, berpuluh tahun berlalu. Kenangan kejam itu tak bisa begitu saja lenyap di kepala Sudirman. Apa yang disaksikannya menjadi anyaman sejarah yang kini hendak diberangus. Sudirman menjadi saksi praktik pembunuhan massal yang mengatasnamakan negara.

File Not Found