Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 9 Desember 2016 | 06:00 WIB
  • Berdamai dengan Alam di Daerah Rawan Gempa

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Eduward Ambarita,
    • Foe Peace Simbolon
Berdamai dengan Alam di Daerah Rawan Gempa
Photo :
  • REUTERS/Beawiharta
Ilustrasi/Seorang warga Aceh menangis sambil berdoa memperingati 10 tahun bencana tsunami Aceh
File Not Found

VIVA.co.id – Indonesia negeri rawan bencana. Sejak lama kalimat itu tersemat untuk negara berpenduduk ratusan juta jiwa ini.

Sebab itu, mahfum kemudian Badan Dunia untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) menasbihkan Indonesia sebagai negara paling rawan dengan risiko dan dampak bencana alam.

Maklum, mulai dari enam jenis bencana yang dicatat UNISDR, yakni tsunami, tanah longsor, banjir, gempa bumi, angin topan, dan kekeringan.

Indonesia meraih posisi pertama pada dua bencana alam yakni tsunami dan tanah longsor dan peringkat ketiga dunia untuk kejadian gempa bumi. Lalu, peringkat enam untuk bencana banjir. Hanya kekeringan dan angin topan saja Indonesia tak mendapat peringkat.

tsunami Aceh 2004

FOTO: Dampak bencana gempa dan tsunami yang melanda wilayah Aceh pada akhir tahun 2004. Tsunami menjadi bencana dengan peringat pertama di Indonesia menurut PBB

Ya, negara ini sudah rawan bencana sejak lahir. Dasarnya, seperti yang pernah disampaikan peneliti gempa Indonesia Danny Hilman, ada dua hal yakni faktor alam dan nonalam.

Faktor alam, yakni posisi Indonesia yang berdiri di atas lempeng gempa. Lalu, melimpahnya gunung api dan pengaruh iklim tropis yang melahirkan curah hujan yang tinggi.

"Untuk nonalam, negeri kita berpenduduk padat, tata ruang tak ramah bencana, infrastruktur kita tidak didesain sesuai alam dan kebijakan kebencanaan yang terlambat. Jadi, dalam menghadapi bencana, meski semenjak dahulu kala sudah terjadi, kita sangat telat," kata Danny.

148 Juta Orang Terancam
Pekan pertama di pengujung tahun 2016, sebuah gempa darat meratakan sejumlah bangunan di Kabupaten Pidie Jaya Aceh. Gempa dengan kekuatan 6,5 skala Richter (SR) ini menewaskan sedikitnya 102 orang dan menghancurkan ratusan rumah warga.

Kejadian ini cukup mengejutkan. Meski Aceh diakui terbilang daerah yang memang kerap menjadi langganan gempa. Namun, gempa darat kali ini ternyata cukup banyak memakan korban jiwa dan terasa hingga ke Kabupaten Bireun dan Pidi.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, terdapat sejumlah faktor yang membuat gempa itu cukup banyak memakan korban jiwa.

Sejumlah warga melihat masjid yang runtuh akibat gempa 6.5 SR, di Meuredu, Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12/2016).

FOTO: Salah satu bangunan mesjid di Kabupaten Pidie Jaya Aceh yang ambruk usai diguncang gempa 6,5 SR pada Rabu (7/12/2016)

Pertama, karena kejadiannya pada pagi hari, sekira pukul 05.03 WIB, diduga masih banyak yang belum terjaga. Kedua, guncangan itu sangat keras ditambah lagi mayoritas bangunan yang belum siap dengan gempa dan ketiga karena faktor topografi, yakni daerah itu memang masuk dalam patahan gempa.

Namun demikian, Sutopo menggarisbawahi bahwa penyebab banyaknya kematian itu bisa dipastikan bukan karena gempa bumi yang terjadi. "Korban meninggal bukan karena gempa. Tapi karena bangunan rumahnya sendiri," kata Sutopo, Rabu, 7 Desember 2016.

Apa yang diucapkan Sutopo tersebut jelas bukan bermaksud tak menghargai korban gempa. Namun, memang fakta menunjukkan bahwa seluruh korban gempa Pidie Jaya memang ditemukan tertimbun reruntuhan bangunan.

Pidie Jaya atau Aceh secara keseluruhan, kata Sutopo, sejak dahulu memang sudah masuk dalam zona merah gempa. Di ujung barat Indonesia ini tersebar sejumlah sesar aktif, baik di daratan maupun laut.

Di daratan, tercatat ada segmen sesar aktif seperti segmen Aceh, Seulimeum, dan Tripa. Tak cuma itu tercatat juga ada Sesar Lhokseumawe dan Sesar Samalanga dan Sipopoh yang kini mendera Pidie Jaya.

Lalu di dasar laut, Aceh menjadi kawasan Seismik aktif yang kompleks. Sebabnya ada aktivitas subduksi lempeng di Samudera Hindia dan sistem sesar Sumatera (Sumatera Fault Zone) yang berada di daratan. Ya, singkatnya Aceh memang sarangnya gempa dari mana pun kejadiannya.

Peta patahan di Indonesia

FOTO: Sebaran sesar (patahan) gempa yang ada di Indonesia

Meski begitu, kondisi Aceh itu ternyata tak sendiri. Fakta nyatanya, Indonesia memang daerah rawan bencana. Dan terkhusus gempa, BNPB mencatat risiko itu akan ditemui oleh 148 juta orang Indonesia yang tersebar membujur dari Aceh hingga Papua.

"Ada 148 juta orang Indonesia tinggal di daerah rawan gempa. Kerentanan ini tinggi karena bangunan rumah yang ada masih belum menyesuaikan dengan kondisi kondisi alam," kata Sutopo.

Jelas ini menuntut kesadaran menyeluruh untuk menghadapi bencana gempa. Bayangkan saja, jika merujuk ke data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), setidaknya di Indonesia terjadi 4.500 kali gempa dalam setahun.

Dan dari total rata-rata itu, sebanyak 365 kalinya adalah gempa bumi dengan kekuatan di atas 5,0 SR atau dengan kata lain siap tidak siap dalam sehari itu pasti ada gempa 5,0 SR yang terjadi di mana pun wilayah Indonesia.

Berdamai dengan bencana
Lalu, jika memang Indonesia ini rawan bencana, apa yang mesti dihadapi?

Pakar geofisika dan vulkanolog Surono pernah menyebutkan, sejatinya seluruh orang Indonesia memang sudah beradaptasi dengan bencana alam. Salah satunya adalah gempa.

Kondisi itu, kata Surono, ditunjukkan dengan kilasan sejarah dari budaya dan gaya arsitektur bangunan orang dahulu yang banyak menggunakan rumah panggung berbahan kayu. "Itu (contoh) rumah tahan gempa. Tiangnya menjadi satu kesatuan," kata Surono akhir November 2016.

Karena itu, kata Surono, idealnya Indonesia tidak perlu lagi belajar dengan negara lain soal menangani dampak gempa. Namun demikian, sayangnya pada masa lampau itu leluhur orang Indonesia tidak pernah menuliskannya.

Ilmu itu hanya diturunkan lewat lisan yang dirupakan dalam bentuk kesenian berupa kidung, dongeng maupun cerita rakyat.

Warga menyaksikan puing bangunan pasar Meuredu yang rubuh akibat gempa di Pidie Jaya, Aceh, Kamis (8/12/2016). Gempa di daerah ini telah menewaskan 102 orang.

FOTO: Seorang warga di Kabupaten Pidie Jaya Aceh memandangi sisa reruntuhan bangunan akibat terkena gempa, Kamis (8/12/2016)

Menurut Surono, gempa bumi sejauh ini belum ada satu pun alat yang bisa mendeteksi kedatangannya. Karena itulah, satu-satunya peluang terbaik yang bisa dilakukan untuk berhadapan dengan bencana ini adalah dengan 'berdamai' atau menguatkan kesadaran mitigasi bencana kepada masyarakat.

"Gempa tidak bisa di-engineer (rancang), yang harus di-engineer adalah masyarakatnya," kata Surono.

Ya, mitigasi menjadi dasar penting penanganan bencana apa pun di Indonesia. Melawan fenomena alam ini jelas hal yang mustahil. Orang Indonesia lah yang harus bersiaga.

Bagaimana bentuknya? Menurut Kepala Pusdatin Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, terkait dengan gempa idealnya saat ini memang diperlukan perombakan tata ruang permukiman di Indonesia.

Angka 148 juta penduduk bermukim di daerah rawan gempa menunjukkan bahwa tata ruang di dalam negeri bermasalah. Perlu upaya bertahap untuk ini. "Daerah sesar gempa jangan lagi untuk permukiman," kata Sutopo.

Selanjutnya, kata Sutopo, pemerintah juga sepatutnya menerbitkan semacam regulasi khusus yang mengatur soal pemberian insentif khusus bagi warga yang membuat rumahnya dengan konstruksi tahan gempa.

Atau setidaknya bisa memberikan subsidi khusus kepada masyarakat yang berinisiatif untuk membuat rumah atau bangunan yang tahan gempa. "(Jadi jangan) Dibebankan kepada masyarakat. Kasihan mereka yang tidak mampu," kata Sutopo.

Rumah dome, rumah tahan gempa bantuan Amerika di Sleman

FOTO: Rumah tahan gempa yang dibangun di Desa Ngelepen Yogyakarta usai gempa besar tahun 2006. Rumah ini dibangun dengan dana Rp53 juta dan diyakini bisa tahan terhadap guncangan gempa.

Lantas cukupkah itu? Seperti yang disampaikan Surono, menghadapi bencana tidak cukup dengan teknologi saja. Namun kunci paling pentingya adalah manusianya. Sebagus apa pun rumah tahan gempa atau teknologi yang melimpah, jika tak dibarengi dengan kesadaran manusianya, akan percuma.

Dampak bencana berupa kematian bukan tidak mungkin akan terus terjadi. Sederhananya, jika gempa atau bencana alam di Indonesia itu memang sudah menjadi sebuah kepastian yang tak terbantahkan. Maka, seharusnya juga orang Indonesia bisa menyadari dan belajar dari hal itu.

"Kematian itu Tuhan yang menentukan. Tapi jangan menyerah. Bahwa akhirnya bencana adalah takdir, tapi kita sebagai manusia punya akal dan pikiran. Agar kita bisa rekayasa dan berdamai dengan alam," kata Surono.

File Not Found