Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 19 Desember 2016 | 05:38 WIB
  • Duka Hercules di Penghujung Tahun

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Danar Dono
Duka Hercules di Penghujung Tahun
Photo :
  • Istimewa.
Pesawat Hercules tabrak gunung, Minggu, 18 Desember 2016.

VIVA.co.id – Belum hilang duka atas jatuhnya pesawat Skytruck Polri di Kepulauan Riau dua pekan lalu, dunia penerbangan Tanah Air kembali berduka. Pesawat Hercules C-130HS milik TNI Angkatan Udara dengan nomor pesawat A-1334 jatuh di Distrik Minimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Minggu pagi, 18 Desember 2016.

Pesawat yang membawa 12 kru pesawat, 1 penumpang dinas dan bahan pokok ini sebelumnya dalam misi perjalanan dari Timika menuju Wamena. Semua penumpang dan kru pesawat dinyatakan meninggal dunia.

Peristiwa nahas ini bermula ketika pesawat berangkat dari Timika menuju Wamena pukul 05.35 WIT, dan direncanakan tiba di Wamena pukul 06.13 WIT. Pesawat yang dipiloti Mayor Pnb Marlon A Kawer ini juga membawa misi pelatihan peningkatan kemampuan seorang co pilot menjadi kapten pilot.

Pesawat diketahui sempat mengontak tower di Wamena pukul 06.02 WIT, dan menyampaikan akan segera landing di ujung runway 15. Namun, karena ujung runway 15 di Wamena kurang baik, pesawat meminta merubah pendaratan di runway 33.

Pada 06.08 WIT, Tower Wamena secara manual sempat melihat pesawat akan landing. Tower kemudian berusaha kembali mengontak pesawat pada 06.09 WIT untuk memastikan pendaratan, tapi sudah tidak ada jawaban atau lost contact.  

"Pesawat kecelakaan di ujung landasan 33. Diawaki 12 orang, satu penumpang terusan dari Lanud Abdurahman Saleh. Jadi total korban 13 orang. Satu penumpang dinas atas nama Kapten Rino," kata Wakil Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya TNI Hadiyan Sumintaatmadja saat konferensi pers di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu, 18 Desember 2016.

Hadiyan memastikan Pesawat Hercules C-130 berserta kru pesawat dalam kondisi laik terbang. Dugaan awal, pesawat yang juga mengangkut sembako dan semen dengan berat total 12 ton itu, jatuh akibat cuaca buruk dan terperangkap kabut sebelum landing di Bandara Wamena.

"Ini perkiraan awal, jangan jadi patokan. Karena dalam kecelakaan ada lima faktor yang bisa berkontribusi langsung maupun tidak langsung. Sedang diinvestigasi," ujarnya.

Selanjutnya, seluruh korban sudah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian ke Bandara Wamena untuk diidentifikasi. Kemudian, jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga agar segera dimakamkan. Proses evakuasi di Bandara Wamena ini dipimpin langsung Panglima Komando Operasi TNI AU II Marsekal Muda TNI Umar Sugeng Hariyono.

Pesawat Bekas Australia

Menilik ke pesawat, Hercules C-130HS Nomor A-1334 ini merupakan pesawat angkut militer yang dibeli bekas dari militer Australia. Pesawat yang digunakan militer Australia sejak tahun 1980 ini baru diterima TNI AU pada Februari 2016 lalu. Basis dari pesawat ini adalah di Skadron 32 Pangkalan Udara Abdurachman Saleh, Malang.

"Pesawat Hercules A-1334 merupakan bagian yang kami beli (dari Australia). Yang hibah adalah pesawat sebelumnya," ujar Marsdya Hadiyan.

Kendati pun pesawat ini digunakan militer Australia sejak 1980, Hadiyan memastikan sebelum unit diserahkan kepada TNI AU, kondisi pesawat sudah mengalami upgrade dan perbaikan. "Sebelum dikirim ke kita sudah ada perbaikan dulu engine-nya, jadi pesawat ini laik terbang," paparnya.

Kemudian, sejak dioperasikan TNI AU pada Februari 2016, pesawat pabrikan Lockheed Martin, Amerika Serikat ini selalu melalui proses pemeliharaan yang teratur. Pemeliharaan pesawat dilakukan setiap kelipatan 50 jam terbang, dirawat dengan berbagai kegiatan dan ada peningkatan dalam pemeliharaannya sesuai kebutuhan pesawat.

"Pesawat (yang jatuh) ini masih punya 69 jam untuk kelipatan menuju perawatan ke-1.000 jam (terbang)," tutur Hadiyan.

Marsdya Hadiyan yang juga Ketua Dewan Keselamatan Terbang dan Kerja TNI AU, tak ingin buru-buru mengambil kesimpulan terkait penyebab jatuhnya pesawat. Meski sebelumnya, Ia menduga cuaca lah yang menjadi salah satu penyebabnya, tapi penyebabnya pastinya tengah diinvestigasi oleh tim internal TNI AU.

Menurut dia, ada lima faktor yang bisa berhubungan langsung atau tidak langsung dengan peristiwa kecelakaan pesawat. Pertama adalah manusia, bicara manusia tak selamanya human error  karena pilot penerbang. Bisa juga navigator, teknisi atau operator di tower. Kedua adalah materil, yaitu mesin pesawat, apakah sebelum melakukan misi sudah sesuai prosedur atau belum.

Ketiga adalah media atau cuaca, penerbang selalu menerima data cuaca sebelum terbang. Dari laporan cuaca itu seorang penerbang akan memutuskan akan lanjut terbang atau tidak. Keempat adalah misi, seorang penerbang harus tahu misi yang akan dihadapi. Andaikan penerbang merasa tak menguasai misi tersebut, bisa minta komandannya untuk diganti atau minta pendamping.

"Kelima adalah manajemen, nah ini adalah inti, semua manusia ada manajemen, material ada manajemen, itu yang akan dianalisa pada saat investigasi," katanya.

Deretan Tragedi Hercules

Bagaimana pun, insiden jatuhnya pesawat Hercules C130HS dengan nomor penerbangan A-1334 di Wamena, yang menewaskan 13 orang kru pesawat dan penumpang ini, menambah daftar panjang jatuhnya pesawat angkut militer TNI di Tanah Air. Peristiwa serupa, juga pernah terjadi di Medan, Sumatera Utara, akhir Juni 2015 silam.

Kala itu, Pesawat Hercules tipe C130 milik TNI AU dengan nomor registrasi A-1310 jatuh di pemukiman warga di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara, Selasa, 30 Juni 2015. Pesawat jatuh setelah dua menit take off dari Lanud Soewondo, Medan. Korban tewas dalam peristiwa tersebut dilaporkan berjumlah 141 orang.

Tujuh tahun silam, tepatnya 20 Mei 2009, Hercules C-130 TNI AU dengan nomor registrasi A-1325 jatuh di desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Pesawat tersebut mengangkut 110 orang yang terdiri atas 99 penumpang dan 11 kru. 98 orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk dua orang warga setempat.

Tragedi kelam Hercules juga pernah menggemparkan Tanah Air pada 5 Oktober 1991. Pesawat nahas itu jatuh di kawasan Condet, Jakarta Timur, bertepatan dengan peringatan Hari ABRI 5 Oktober.

Pesawat membawa 135 orang yang terdiri dari 12 awak dan 121 anggota Pasukan Khas (Paskhas) TNI-AU itu jatuh setelah mengikuti upacara peringatan hari ABRI ke-46 yang digelar di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Pesawat berangkat dari Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta, menuju Bandung, Jawa Barat.

Namun, baru 3 menit mengudara, pesawat kehilangan kendali dan jatuh di area permukiman penduduk di daerah Condet, Jakarta Timur. Hanya satu penumpang yang dilaporkan selamat, sisanya meninggal dunia.

Anggota Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, meminta TNI AU segera melakukan investigasi atas kecelakaan Pesawat Hercules A 1334 di Wamena, Papua. Pasalnya, berdasarkan pengetahuannya selama ini, pesawat tersebut termasuk dalam kondisi yang baik.

Disamping itu, pesawat tersebut termasuk kategori canggih untuk mengangkut pasukan. Bisa beroperasi di segala cuaca dengan dilengkapi radar bagus, dan kemampuan pendaratan di tempat yang cukup pendek.

"Profesionalisme di TNI sudah cukup baik, sistem pemeliharaannya, SDM para penerbangnya. Kembali lagi, harus ada investigasi menyeluruh. Kami siap kalau memang ada kesimpulan, diputuskan sudah tidak layak, kita harus mencari jalan lain. Tapi harus ada kesimpulan yang baik, komprehensif, bisa dipertanggungjawabkan," tuturnya.