Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 24 Desember 2016 | 05:42 WIB
  • Di Balik Bergesernya Jembatan Cisomang Tol Purbaleunyi

  • Oleh
    • Siti Ruqoyah,
    • Mohammad Yudha Prasetya,
    • Syaefullah
Di Balik Bergesernya Jembatan Cisomang Tol Purbaleunyi
Photo :
  • Istimewa
Ilustrasi jembatan Cisomang di Tol Purbaleunyi
File Not Found

VIVA.co.id – Kamis malam,22 Desember 2016, tanah di bawah jembatan Cisomang, Purwakarta, Jawa Barat bergeser. Hal tersebut ternyata berdampak besar pada bergesernya pilar jembatan Cisomang yang menyangga jalan tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi) KM 100+700.

Tak tanggung-tanggung, pergeserannya di bagian atas jembatan hingga lebih dari setengah meter atau tepatnya 57 cm, padahal di bagian bawah hanya bergeser 1,5 cm.

Diketahui, jembatan ini digunakan untuk menghubungkan Kota Bandung dengan Jakarta. Di samping jalan tol, dibangun juga jembatan untuk perlintasan kereta api yang  peresmiannya dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputeri, pada 3 Agustus 2004 lalu. Jalan kereta di atas Sungai Cisomang ini ternyata bangunan baru sebagai pengganti jembatan lama yang telah berusia lebih dari 100 tahun.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia, Basuki Hadimuljono, mengatakan, penyebab pergeseran tanah itu dikarenakan tanah yang labil disertai dengan tergerusnya tanah akibat Sungai Cisomang yang masih aktif hingga saat ini.

Tergerusnya tanah ini diketahui berdasarkan hasil evaluasi Direktorat Jenderal Bina Marga terhadap kondisi jembatan secara keseluruhan, termasuk pengukuran pilar, yang dilakukan 9 November 2016 lalu.

Hasil evaluasi secara umum menyebutkan kondisi siar muai sudah rusak dan berlubang. Selain itu, lapis perkerasan sudah bergelombang, dan ditemukan keretakan beton di berbagai pilar penyangga jembatan.

"(Penyebab) karena gerakan tanah. Memang di sana daerah labil," kata Basuki Hadimuljono di kantornya di Jakarta, Jumat, 23 Desember 2016.

Akibat kejadian ini, Basuki telah menginstruksikan kepada jajarannya untuk segera melakukan perbaikan agar jembatan tol tersebut bisa dilalui dengan baik oleh kendaraan besar. "Mulai mobilisasi peralatan dan material untuk perbaikan dan menghentikan pergerakan tanah tersebut," katanya.

Sementara itu, untuk kendaraan yang bisa melintas di jalan tersebut juga dibatasi, hanya kendaraan golongan I saja. Kendaraan yang boleh melintas adalah jenis sedan, jip, mobil pick up atau truk kecil, dan bus.

Pengalihan arus lalu lintas mulai berlaku pukul 00.00 WIB, Jumat, 23 Desember 2016, hingga tiga bulan ke depan. Selanjutnya, kebijakan ini akan dievaluasi kembali secara periodik.

"Mulai hari ini saya sudah perintahkan BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol) ke Jasa Marga untuk mengalihkan kendaraan bus keluar, atau menghindari jembatan itu dari Jakarta ke Bandung, begitu juga sebaliknya," ujar Basuki.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Arie Setiadi Moerwanto, menjelaskan lebih mendalam bagaimana tanah di atas pilar penyangga jembatan itu bisa bergeser.

"Ada pergerakan di kaki pilar. Karena tinggi pilar (jembatan) 40 meter, pergerakan sedikit saja di atas akan besar (dampaknya)," kata Arie.

Namun, Arie memastikan jika secara keseluruhan pergeseran ini masih dapat ditoleransi. Ia menilai batas berat kendaraan yang di dalam desain awal jembatan hanya dibatasi hingga 40 ton, kerap dilanggar oleh para pengendara truk yang berat totalnya mencapai 50 ton-80 ton.

"Secara umum masih dalam toleransi. Kan struktur itu punya keamanan sendiri. Bebannya masih ringan, tidak akan ada kerusakan lebih. Walaupun di dalam desain hanya batasi 40 ton, tapi truk di sana itu lebih dari 50 ton-80 ton. Jembatan sehat pun akan jadi rusak. Nah ini yang harus kita hindari," ujarnya.

Selain itu, Arie juga menjelaskan jika jembatan-jembatan yang masuk pengamatan pihaknya, umumnya mengalami pengikisan pilar akibat arus air sungai yang mengalir di bawah jembatan.

"Dari sekitar enam ribu jembatan yang kami amati, kebanyakan pilarnya tergerus arus sungai yang tinggi. Ini agak susah diprediksi. Awalnya aman, tapi karena kondisi tergerus terus ya akhirnya seperti itu," kata Arie.

Hingga kini, tim evaluasi telah dikirimkan ke titik lokasi jembatan yang bergeser itu. Diharapkan, dengan pembatasan gerak, kondisi Jembatan Cisomang itu tidak semakin memburuk.

Arie juga meminta kepada masyarakat agar tetap tenang, dan menghindari jalur yang dirasa kurang aman, dalam perjalanan liburan menjelang Natal dan Tahun Baru ini.

"Kami minta masyarakat untuk tetap tenang dan senantiasa menjaga keselamatan berkendara, khususnya dalam masa libur Natal dan Tahun Baru ini," ujarnya.

Bahaya jembatan bergeser

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengatakan akan menakar kapasitas jembatan yang bergeser tersebut, untuk mengantisipasi volume kendaraan yang akan melintasinya.

"Kita akan koordinasikan. Sekarang Dirjen Darat ada di sana untuk koordinasikan berapa kapasitas yang dimungkinkan (untuk melintas). Ini memang harus dikalkulasi dengan baik," kata Budi saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta Pusat.

Budi menjelaskan, jembatan yang sebenarnya dijadikan alternatif jika ruas tol Cikopo-Palimanan macet itu mengalami pergeseran akibat pergerakan tanah yang terjadi pada Kamis malam. "Pergerakan sejak tadi malam, tapi tidak terlalu signifikan," kata Budi.

Oleh karenanya, sambil menunggu hasil pengecekan Jembatan Cisomang dari pihak Dirjen Perhubungan Darat, Budi berharap arus lalu lintas yang akan melewatinya tidak terlalu besar. Sehingga, jembatan yang dikhawatirkan akibat pergeserannya itu tidak menerima beban kendaraan yang terlalu tinggi.

"Kita harapkan penumpang atau arus mudik menuju Cipali tidak terlalu besar, sehingga tidak ada tambahan (volume kendaraan) ke Ciomas atau Bandung," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Riset dan Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia, Joko Setijowarno, mengatakan dengan adanya pergeseran permukaan Jembatan Cisomang yang berada di ruas jalan tol Purbaleunyi, Jawa Barat, sebaiknya pengguna jalan dilarang melewati kawasan tersebut.

"Keselamatan pengguna menjadi prioritas. Jika dianggap membahayakan, sebaiknya pengguna jalan tol dilarang melewati jalur tersebut," kata Joko saat dihubungi VIVA.co.id.

Ia  berpendapat, jika sudah diketahui ada pergeseran tanah yang dinilai membahayakan di jembatan tersebut seharusnya beban lalu lintas dikurangi agar tidak berdampak lebih lanjut.

"Kalau sudah bergeser sebesar ini, mestinya jangan dibebani lalu lintas kendaraan yang cukup banyak. Apalagi kendaraan berat, risikonya besar nanti," ujarnya.

Pengalihan arus lalu lintas

PT Jasa Marga Tbk melakukan pengalihan arus lalu lintas di Jalan Tol Padaleunyi selama berlangsungnya perbaikan Jembatan Cisomang, Purbaleunyi, Jawa Barat.

"Menindaklanjuti perintah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terkait dengan perbaikan Jembatan Cisomang di Jalan Tol Padaleunyi, kami akan melakukan berbagai langkah, di antaranya pengalihan arus lalu lintas," kata Dwimawan Heru, AVP Corporate Communication PT Jasa Marga Tbk, dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 23 Desember 2016.

Untuk perbaikan Jembatan Cisomang yang dilakukan adalah perbaikan sementara dengan grouting pada pilar yang bermasalah dan wrapping untuk mencegah kerusakan. "Selanjutnya kami akan melakukan perbaikan permanen yang diperkirakan memakan waktu tiga bulan," ujarnya.

Terkait pengalihan arus lalu lintas, Dwimawan menjelaskan, selama proses perbaikan jembatan berlangsung, Jasa Marga melalui koordinasi dengan Pihak Kepolisian akan melakukan pengalihan arus lalu lintas, khusus untuk kendaraan besar/kendaraan Non Golongan I.

Adapun kendaraan kecil/kendaraan Golongan I masih dapat menggunakan jalan tol seperti biasa. Pembatasan kendaraan non golongan I di Tol Padaleunyi diberlakukan secara efektif mulai hari Jumat, 23 Desember 2016, pukul 00.00 WIB

Dengan pengaturan sebagai berikut:

A. Kendaraan menuju Bandung

Ruas Cipularang KM 84 s.d. KM 122 hanya dapat dilalui oleh kendaraan Golongan I. Kendaraan Non Golongan I yang berasal dari ruas Jakarta-Cikampek atau Cikampek-Palimanan menuju ruas Padalarang – Cileunyi dialihkan menuju jalan non tol dan melakukan transaksi tol di Gerbang Tol Sadang (KM 76) atau Gerbang Tol Jatiluhur (KM 84), selanjutnya dapat masuk kembali ke Jalan Tol Padaleunyi melalui Gerbang Tol Padalarang Timur (KM 122).

B. Kendaraan menuju Jakarta

Ruas Cipularang KM 116 s.d. KM 84 hanya dapat dilalui oleh kendaraan Golongan I. Kendaraan Non Golongan I yang berasal dari ruas Padalarang – Cileunyi menuju ruas Jakarta-Cikampek atau Cikampek-Palimanan dialihkan menuju jalan non tol dan melakukan transaksi tol di Gerbang Tol Padalarang Timur (KM 122) atau Gerbang Tol Cikamuning (KM 116), selanjutnya dapat masuk kembali ke Jalan Tol Cipularang melalui Gerbang Tol Sadang (KM 76) atau Gerbang Tol Jatiluhur (KM 84)

Bagi pengguna Jalan Tol Padaleunyi, alternatif lain menuju Jakarta/Bandung atau sebaliknya adalah melalui Jalan Arteri Puncak-Cianjur-Padalarang.

“Kepada pengguna jalan selama pekerjaan perbaikan jembatan berlangsung agar berhati-hati memperhatikan rambu/petunjuk yang ada,” Dwimawan.

Sementara itu, untuk mengantisipasi perjalanan melalui informasi kondisi lalu lintas terkini di ruas jalan tol Jasa Marga, bisa didapatkan melalui :
-    Jasa Marga Traffic Information Center (14080)
-    Twitter @PTJASAMARGA
-    Live Streaming www.jasamargalive.com
-    Mobile Apps JMCARe.

File Not Found