Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 2 Januari 2017 | 08:33 WIB
  • Akhir Pelarian Buron Perampok Pulomas

  • Oleh
    • Krisna Wicaksono,
    • Bayu Nugraha,
    • Irwandi Arsyad,
    • antv/tvOne
Akhir Pelarian Buron Perampok Pulomas
Photo :
  • VIVA.co.id / Irwandi
Kapolda rilis penangkapan Ius Pane (lingkar merah).
File Not Found

VIVA.co.id – Saat keluarga lain sedang menikmati libur panjang Natal dan tahun baru, keluarga Dody Triono justru berduka.

Tiga anggota keluarga mereka, yakni Dody, anak pertama Diona Arika Andra dan Dianita Gemma, tewas kehabisan oksigen di kamar mandi yang terkunci dari luar.

Kejadian ini bermula saat rumah mereka di Pulomas, Jakarta Timur, didatangi kawanan perampok yang berjumlah empat orang, Selasa 27 Desember 2016 lalu.

Dipimpin oleh Ramlan Butarbutar, kawanan perampok itu masuk dari pintu gerbang yang tidak tertutup. Berbekal senjata api dan senjata tajam, mereka memaksa penghuni rumah yang berjumlah 10 orang masuk ke kamar mandi tanpa ventilasi.

Salah satu perampok, Ridwan Sitorus alias Ius Pane, naik ke lantai dua rumah mewah tersebut. Di atas, ia bertemu dengan Diona. Gadis berusia 16 tahun itu diseret Ius ke lantai bawah.

Bahkan, Ius juga sempat melayangkan beberapa pukulan ke Diona, karena memberontak dan berteriak saat dipaksa turun. Rambut Diona dijambak agar mau menuruti kemauan Ius turun ke lantai bawah.

Dodi Triono, pengusaha kaya yang menjadi korban pembunuhan di perumahan mewah Pulomas Jakarta Timur, Selasa (27/12/2016)

Dody Triono, pemilik rumah sekaligus korban dari perampokan di Pulomas (Foto: Instagram)

Setelah semua penghuni terkunci, mereka kemudian mencari barang-barang berharga yang ada di dalam rumah.

Nahas, saat hendak meninggalkan lokasi, Dody datang mengendarai mobil. Dengan cepat, Ius keluar dan menyambut kedatangan Dody.

Dengan santai, Ius kemudian menggandeng Dody masuk ke rumah, sembari mengancamnya dengan todongan pistol.

Dody kemudian bergabung dengan penghuni rumah lain di kamar mandi. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, adalah ide Ius untuk memasukkan mereka ke kamar mandi.

Disekap selama belasan jam, enam dari 11 korban akhirnya tewas kehabisan oksigen. Anak kedua Dody, Zaneeta Kalila, dan beberapa asisten rumah tangga, berhasil diselamatkan.

 

Polisi buru pelaku

Setelah mendapat laporan adanya perampokan yang berujung pada tewasnya korban, pihak kepolisian langsung melakukan pengejaran terhadap tersangka.

Dua tersangka, yakni Ramlan dan Erwin Situmorang, disergap saat bersembunyi di sebuah kontrakan di Rawalumbu, Bekasi. Penangkapan ini hanya berselang satu hari para korban ditemukan.

Rabu 28 Desember 2016 malam, polisi kembali menangkap satu tersangka, yakni Alfins Bernius Sinaga. “Ditangkap di rumah temannya,” ujar Argo.

Saat penangkapan, ketiganya harus dilumpuhkan, karena melakukan perlawanan. Bahkan, Ramlan meregang nyawa, karena kehabisan darah saat diterjang timah panas polisi.

Usai peristiwa tersebut, polisi terus melanjutkan perburuan tersangka terakhir, yakni Ius. Ia disebut-sebut kerap menjadi wakil Ramlan saat beraksi.

Butuh tiga hari bagi polisi untuk berhasil mengendus keberadaan pria yang memiliki luka di pipi kiri itu. Akhirnya, pada Minggu 1 Januari 2017, Ius berhasil diringkus saat turun dari bus.

Penangkapan Ridwan Sitorus alias Ius Pane di Medan, Sumatera Utara.

Ridwan Sitorus alias Ius Pane ditangkap di Medan, Sumatera Utara (Foto: Bayu Nugraha)

Penangkapan Ius berlangsung di pangkalan bus Antar Lintas Sumatera, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara.

Menurut keterangan sopir bus, Marwan Nasution, tersangka naik bus dari Bogor, Jawa Barat. “Kamis siang naik dari Bogor,” ujarnya.

Marwan mengatakan, awalnya ia tidak curiga dengan kehadiran Ius. Namun, beberapa kali ia melihat ada kebiasaan aneh pada pria itu.

“Tiap penumpang turun, ia pasti ikut turun. Periksa kopernya, terus masuk lagi ke bus,” ungkap Marwan saat diwawancara tvOne, Minggu 1 Januari 2017.

Ius juga sempat minta diturunkan di Terminal Amplas, yang berada di ujung Selatan Kota Medan. Namun, kebijakan perusahaan otobus ALS yang tidak memperbolehkan sopir berhenti di terminal atau pinggir jalan, membuat ia terpaksa mengurungkan niatnya.

 

Ius dibawa ke Jakarta

Setibanya di pangkalan, pria berusia 45 tahun itu langsung diamankan tujuh anggota polisi yang sudah menunggu. “Polisi sudah menunggu sejak semalam,” ungkap petugas keamanan pangkalan bus, Eddy Prasetyo.

Usai ditangkap, Ius kemudian dibawa ke Bandara Kualanamu, Medan. Ia diterbangkan ke Jakarta dengan pengawalan ketat. Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M Iriawan, hadir di Bandara Halim Perdanakusuma untuk menyambutnya.

"Setelah kami ketahui tempat kosnya di Bekasi, maka yang bersangkutan mau lari ke Medan. Mau aman di sana," kata Iriawan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu 1 Januari 2017.

Iriawan menambahkan, dari keterangan Ius, yang bersangkutan ingin ke tempat saudaranya. Kebetulan, Sumatera Utara memang kampung halaman Ius.

"Ke tempat saudaranya, akan pulang kampung. Enggak tahu kerjaannya apa, bisa bekerja di perkebunan sawit atau apa," ujarnya.

Mengenai alasan mengapa Ius susah baru ditangkap selama enam hari, Mantan Kapolda Jawa Barat ini menyebut, usai melakukan aksinya, keempat tersangka berpencar.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M. Iriawan saat jumpa pers di Halim

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M Iriawan saat konferensi pers di Halim Perdanakusuma (Foto: VIVA.co.id/Irwandi Arsyad)

"Mereka berpencar. Kemudian beberapa kali pindah tempat. Sehingga akhirnya, kami ketahui yang bersangkutan lari ke Medan," katanya.

Menurut Iriawan, untuk biaya selama kabur, Ius menjual ponsel. Namun, belum diketahui apakah ponsel tersebut merupakan hasil kejahatannya atau bukan.

"Dia jual handphone di Warung Jambu, Bogor, untuk bekal yang bersangkutan," ujarnya menambahkan.

 

Polisi lakukan pengembangan

Setelah keempat tersangka berhasil ditangkap, polisi langsung melakukan pengembangan kasus tersebut.

"Semua pelaku perampokan, pembunuhan dan penyekapan, sudah bisa kami ungkap semua. Setelah ini, kami akan lakukan pengembangan," jelas Iriawan.

Mantan Kadiv Propam Mabes Polri itu juga mengatakan, sebagai langkah pertama, penyidik akan mencari mobil Suzuki Ertiga yang disewa oleh para pelaku.

"Langsung (pengembangan). Yang pertama, mobil yang dipakai untuk alat melakukan kejahatan tersebut," ujarnya.

Selain itu, penyidik akan melakukan pengembangan terkait barang bukti senjata api dan senjata tajam yang digunakan pelaku.

"Kedua adalah senjata api, dan ketiga parang atau senjata tajam. Dan berikutnya, barang bukti yang tersisa yang kita ambil di lokasi," ungkapnya menambahkan.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M. Iriawan

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M Iriawan (Foto: Instagram Polri)

Diketahui, dua pucuk senjata api berhasil ditemukan polisi di sebuah rumah di kawasan Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos, Depok, Jawa Barat, Jumat 30 Desember 2016 lalu.

Dari rumah tersebut, polisi juga membawa seorang pria bernama Ginon. Berdasarkan keterangan keluarga, Ginon memang kenal dengan Erwin Situmorang.

“Ya, si Ginon ini memang sempat kenal sama si Peter, panggilannya si Erwin. Mereka kenal di Pasar Cibinong. Ginon itu pedagang daun pisang,” kata Kamel, adik Ginon.

Sementara itu, usai penangkapan Ius, pihak kepolisian juga berhasil menemukan senjata jenis air soft gun saat menggeledah rumah Ius di daerah Tapos, Depok, Jawa Barat.

"Hasil pengembangan, sudah ditemukan (air soft gun) di rumahnya, di Depok," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur, Ajun Komisaris Besar Polisi Sapta Maulana, saat dikonfirmasi, Minggu 1 Januari 2017.

Tak hanya air soft gun, tas yang diduga milik Dody juga ditemukan di rumah tersebut. Namun, Sapta belum mau menjelaskan lebih detail soal penemuan tas itu.

File Not Found