Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 5 Januari 2017 | 00:58 WIB
  • Murka Sri Mulyani pada JPMorgan

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Chandra G. Asmara,
    • Romys Binekasri
Murka Sri Mulyani pada JPMorgan
Photo :
  • Getty Images
JP Morgan Chase Profit
File Not Found

VIVA.co.id – Pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, akhirnya memutus kerja sama dengan JPMorgan Chese Bank. Keputusan itu dituangkan dalam Surat Menteri Keuangan Nomor S-1006/MK.08/2016 pada 17 November 2016 lalu.

Langkah pemutusan hubungan kerja sama tersebut diakui pemerintah sangat final, lantaran lembaga tersebut mengeluarkan riset yang sangat merugikan bagi ekonomi Indonesia, yaitu menurunkan peringkat surat utang RI dari overweight menjadi underweight.

Riset kontroversial yang diterbitkan JPMorgan pada 13 November 2016 tersebut, ternyata bukan yang pertama dilakukan. Sebab, pada Juli 2015, lembaga itu juga pernah mengeluarkan riset yang merugikan Indonesia dan disambut sanksi oleh menteri keuangan saat itu, Bambang Brodjonegoro.

Ani panggilan akrab Sri Mulyani mengakui, riset yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan asal Amerika Serikat itu berpotensi dapat mengganggu stabilitas keuangan nasional, sehingga sangat merugikan, terlebih JPMorgan miliki kesepakatan dengan pemerintah.

Menteri Keuangan<a class='auto-tokoh' title='Profil Sri Mulyani' href='http://m.viva.co.id/siapa/read/14-sri-mulyani?ref=vivasiapa'> Sri Mulyani </a>Indrawati

Ia menjelaskan, langkah yang dilakukan JPMorgan dinilai tidak baik dalam pola hubungan kerja sama, di mana seharusnya kedua belah pihak harus saling menguntungkan. Untuk itu, Ani berharap, JPMorgan bersikap profesional dan akuntabel dalam setiap langkahnya.

“Hasil riset JPMorgan tersebut, sama sekali tidak menghormati kerja sama yang dilakukan kedua belah pihak. Terlebih, hasil riset tersebut sama sekali bertolak belakang dengan kondisi perekonomian secara menyeluruh,” jelas Ani, Selasa 3 Januari 2017.

Direktur Strategis dan Portfolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Scenaider Clasein H. Siahaan mengatakan, sebagai salah satu mitra penjualan surat utang pemerintah, JPMorgan justru berkhianat atas norma perjanjian kedua belah pihak.

Tercatat JPMorgan telah berulang kali melakukan hal yang merugikan Indonesia, dan patut diduga telah membuat para investor enggan membeli surat utang pemerintah. Padahal, sebagai dealer utama, tugas JPMorgan adalah mencari para investor, bukan justru membeli surat utang pemerintah, demi meraup keuntungan lebih.

“Mana mau investor beli, kalau begitu. Kami yang rugi. Di balik itu, diam-diam dia (JPMorgan) yang beli SBN (Surat Berharga Negara) dengan murah, lalu jual lagi. Kami di sini jadi mainan dia saja,” katanya.

Adapun riset JPMorgan pada pertengahan 2015 lalu, adalah merekomendasikan pada investor, agar mengurangi kepemilikan Surat Utang Indonesia. Alasannya, ada peningkatan risiko aset portfolio yang semakin meningkat, karena devaluasi yuan dan kekhawatiran bunga utang yang meningkat.

Selanjutnya, hormati perjanjian dengan RI>>>

File Not Found