Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 20 Januari 2017 | 04:12 WIB
  • Pasar Senen, dari VOC hingga Rentetan Kebakaran

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono,
    • Danar Dono,
    • Fajar Ginanjar Mukti,
    • Raudhatul Zannah,
    • Foe Peace Simbolon
Pasar Senen, dari VOC hingga Rentetan Kebakaran
Photo :
  • ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Kebakaran di Pasar Senen Jakarta
File Not Found

VIVA.co.id – Dalam perjalanan usia ke-282, kebakaran besar melanda Pasar Senen, Jakarta Pusat. Tercatat ada sekitar 1.000 kios yang hangus dilalap si jago merah.

Lebih dari 15 jam api berkobar menghanguskan pasar yang dibangun pemerintahan VOC pada 30 Agustus 1735 itu. Ratusan petugas pemadam kebakaran dan 57 mobil pemadam sudah dikerahkan ke lokasi.

Pasar tertua di Jakarta ini terbakar hebat sejak pukul 04.00 WIB, Kamis, 19 Januari 2017. Memang, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, tapi sebagian besar pasar dan isinya tak terselamatkan.

DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mencatat, kerugian materi akibat kebakaran itu ditaksir mencapai Rp101,2 miliar. Angka itu didapat dari pencatatan saat api masih berkobar.

"Namun, kami pastikan bahwa kerugian yang timbul tidak kecil dan masih bisa bertambah sampai api benar benar bisa dipadamkan," ujar Ketum DPP Ikappi, Abdullah Mansuri di Jakarta, Kamis 19 Januari 2017.

Sebenarnya, pasar yang dahulu kala bernama Pasar Snees ini, sudah delapan kali mengalami kebakaran. Dimulai dari kebakaran pada 1974. Tapi, hanya tiga peristiwa kebakaran yang dampak kerugiannya dinilai paling besar.

Seperti kebakaran besar Pasar Senen yang terjadi 26 April 2014. "Belum lekang dalam ingatan kita terjadi kebakaran besar di wilayah yang sama di Pasar Senen Blok III yang menghanguskan kurang lebih 3.000 kios," kata Abdullah.

Dan, kebakaran besar Maret 2010, yang menyebabkan 250 kios pedagang di lantai I, Blok VI hangus, dengan total kerugian mencapai Rp8,5 miliar. Serta kebakaran di Pasar Senen yang terjadi kemarin.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengetahui faktor yang menjadi penyebab kebakaran Pasar Senen, Jakarta Pusat menjadi besar.

Berdasarkan pengetahuannya, di pasar itu ada sebuah kebiasaan yang secara tak sadar dilakukan pedagang. Menurut Ahok, pedagang di Blok I dan II, mayoritas menjual pakaian dan memiliki kebiasaan menyewa lebih dari satu kios. Kios utama dipakai berjualan. Sementara itu, kios-kios lain, difungsikan sebagai gudang.

Ahok berpandangan kondisi itu berbahaya. Kebakaran hari ini saja, hanya berawal dari satu kios di salah satu lantai. Namun, hingga siang, api merembet hingga menghanguskan hampir semua kios. Ahok mengatakan, tumpukan barang di kios-kios yang difungsikan sebagai gudang adalah penyebab api cepat merembet. Hal itu memicu kebakaran hebat.

"Konsep pasar memang saya sudah sampaikan, tidak boleh orang menumpuk-numpuk barang di toko yang dijadikan gudang. Karena konsep pasar itu sebenarnya untuk dagang. Jadi barang-barang tidak boleh ditumpuk terlalu banyak. Sekarang kita jadi setengah mati memadamkannya," ujar Ahok di kawasan Tamansari, Jakarta Barat.

Aktivitas di Pasar Senen sekitar tahun 1930.

Awalnya Hanya Ada di Hari Senin

Di awal-awal tahun berdirinya, tidak ada peristiwa kebakaran yang terjadi. Karena, para pedagang berlaku tertib. Pasar ini dalam sejarahnya hanya ada ketika hari Senin. Lalu, setelah lebih dari 30 tahun menjadi salah satu pusat perekonomian warga dan pasar mulai ramai, tepatnya pada 1766, Pasar Senen tak hanya dibuka satu hari, aktivitas pasar berjalan di hari-hari lainnya.

Sejak berdiri, wajah Pasar Senen terus berubah, dari yang tadinya hanya tempat yang dipakai pedagang untuk berjualan hasil bumi dengan pola pasar jongkok dan hanya diisi warga dari etnis Tionghoa.

Seiring dengan berkembangnya zaman, Pasar Senen menjelma menjadi pusat kegiatan masyarakat Jakarta. Berdasarkan catatan sejarah, di masa sebelum Indonesia Merdeka, atau sekitar tahun 1930an, kawasan sekitar Pasar Senen menjadi tempat berkumpulnya para intelektual muda dan pejuang bawah tanah dari Stovia. 

Tokoh pergerakan kemerdekaan RI yang sering menghabiskan waktu di kawasan itu di antaranya Soekarno, Mohammad Hatta, Adam Malik, dan Chairul Saleh. Ketika Jepang menjajah Indonesia antara tahun 1942 hingga 1950, Pasar Senen menjadi tempat favorit seniman kondang seperti HB Yasin, Sukarno M Noor, Wim Umboh, dan lainnya.

Berlanjut pada sekitar tahun 1970 hingga 1990, Pasar Senen mengalami pertumbuhan sangat pesat. Kawasan itu tak hanya menjadi tempat berjualan, tapi juga pusat hiburan. Kondisi itu terbukti dengan dibukanya dua gedung bioskop bernama Rex dan Grand. 

Bahkan, saat Ali Sadikin menjabat gubernur DKI Jakarta, kawasan itu dicanangkan sebagai pusat pembangunan bernama Proyek Senen. Dan Proyek Senen merupakan pasar yang memiliki tempat parkir melingkar pertama di Jakarta. (art)

Diolah dari berbagai sumber.

File Not Found