Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 1 April 2017 | 05:45 WIB
  • Menjadikan Film Nasional Tuan Rumah di Negeri Sendiri

  • Oleh
    • Zahrotustianah,
    • Bobby Agung,
    • Bimo Aria,
    • Dinia Adrianjara,
    • Rintan Puspitasari,
    • Adinda Permatasari
Menjadikan Film Nasional Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Photo :
  • Perfini
Tiga Dara
File Not Found

VIVA.co.id – Tonggak perfilman Indonesia ditandai dengan lahirnya film Darah & Doa atau Long March of Siliwiangi pada tahun 1950. Hari pertama pengambilan gambar film ini jatuh pada tanggal 30 Maret yang kini diperingati sebagai Hari Film Nasional. Film yang disutradarai Usmar Ismail itu dianggap sebagai film pertama yang diproduksi awak dan studio asli dari Indonesia. Film ini juga disebut sebagai film lokal perdana yang ceritanya mencirikan Tanah Air.

Sebenarnya, era perfilman di Indonesia dimulai sejak tahun 1900 dengan berdirinya bioskop pertama di kawasan Tanah Abang. Namun saat itu, film yang diproduksi masih berupa film bisu dan dibuat oleh orang-orang asing, seperti Belanda. Begitu juga pada era 40-an di mana film masih jadi alat propaganda politik Jepang sehingga pemutarannya sangat dibatasi.

Pasang surut perfilman Indonesia memang masih berlangsung hingga sekarang. Indonesia jatuh bangun dalam upaya memajukan industri perfilman. Sempat redup di tahun 60-an karena dipengaruhi gejolak politik, film Indonesia mulai bangkit lagi pada tahun 70 dan 80-an.

Di era keemasannya, tentu saja nama-nama bintang film besar seperti Christine Hakim, Mieke Wijaya, Rima Melati, Widyawati, Sophan Sophiaan, Yati Oktavia, dan masih banyak lagi lahir mewarnai industri ini. Bukan hanya ngetren dengan kisah-kisah romantisnya saja, film Indonesia di era klasik tersebut juga ramai dengan film komedi dan sejarah.

Perfilman Indonesia memang sempat redup pada dekade selanjutnya. Era 90-an, penonton Indonesia mulai dimanjakan dengan aneka tontonan televisi dan juga film-film Hollywood. Sejumlah pakar bahkan melihat merosotnya industri film di Indonesia saat itu karena ikut dipengaruhi oleh minimnya produksi film nasional serta terbatasnya genre yang bisa dinikmati semua usia.

Film Indonesia bangkit lagi pada tahun 2000-an. Di era yang sering disebut sebagai tahun milenium itu Indonesia punya banyak film membanggakan. Sebut saja beberapa di antaranya Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta, Eiffel I'm in Love, Laskar Pelangi, dan lain sebagainya.

Perjuangan untuk membangkitkan perfilman Indonesia tentu saja tak bisa berhenti di satu titik saja. Hingga kini, Indonesia terus bergeliat untuk bersaing dengan negara-negara lain dalam sektor industri film. Apa saja upaya yang sudah dilakukan dan bagaimana kondisinya saat ini?

Verrys Yamarno sebagai Mahar di Film Laskar Pelangi

Tantangan Perfilman Indonesia

Dalam upaya memajukan industri film, Indonesia punya banyak tantangan yang harus dijawab. Serbuan film-film Hollywood sering kali dianggap sebagai faktor potensial yang mematikan industri perfilman di Indonesia. Namun aktris senior Christine Hakim punya pandangannya sendiri.

"Saya melihat film Hollywood bukan kompetitor kita. Dari pengalaman saya justru yang harus kita waspadai adalah film dari sesama Asia karena itu bisa jadi kompetitor kita," kata Christine Hakim usai acara Creative Economy and Cultural Industries in a Digital World di Hotel Harris Vertu, Jakarta Pusat, 29 Maret 2017.

Menurutnya, hal itu bisa dibuktikan dengan tingginya minat penonton untuk program-program Asia yang tayang di televisi Indonesia. Indonesia, menurutnya, harus mampu memproduksi lebih banyak film sendiri setiap tahunnya.

Nia Dinata pun punya kekhawatiran serupa, namun konsentrasinya terpusat pada kurangnya sumber daya manusia dalam bidang penulisan naskah. Baginya, sebuah cerita diibaratkan sebagai blueprint, sama ketika seseorang ingin membuat sebuah rumah. Sangat penting dalam sebuah film.

Menurut sutradara dan penulis naskah itu, perkembangan penulis naskah di Indonesia tengah berada di titik paling lemah. Secara ide cerita, banyak penulis yang memiliki ide luar biasa. Tapi, dalam hal bercerita mereka masih memiliki kelemahan.

"Sering kali ketika mengadakan workshop dengan memanggil mentor dari Hollywood atau Eropa, yang mereka keluhkan adalah orang Indonesia idenya bagus, tapi ketika menuliskan ke skenario masih memakai format sinetron, tidak out of the box," ujar Nia saat ditemui di The Hermitage Menteng, Jakarta, Jumat, 24 Maret 2017.

Padahal, dalam bercerita bisa dengan cara yang lebih kreatif dan beragam, bisa dengan linear, imajinatif, atau realistis. Jika terjebak dalam kotak, itulah yang berbahaya.

Penyebab kurangnya kemampuan mengembangkan cerita ini, Nia menilai, adalah minimnya alternatif tontonan selain televisi yang bisa dilihat sehingga membuat mereka terbawa dengan format yang sama. Penyebab lainnya adalah kurangnya minat anak-anak muda di bidang menulis skenario dibanding profesi lain di produksi film.

"Karena dari membuat film yang paling susah adalah naskah. Dan yang buat orang ketika masuk dunia film adalah ketika syutingnya. Kalau script mereka harus duduk lama, bosan, tidak dilihat orang, tidak ada di set, tidak bisa selfie terus di-upload di social media. Keinginan anak sekarang kelihatan kerja di set filmnya," ujar Nia.

File Not Found