Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 8 April 2017 | 08:00 WIB
  • TNI AU, Tol Udara, dan Poros Maritim

  • Oleh
    • Hardani Triyoga
TNI AU, Tol Udara, dan Poros Maritim
Photo :
  • Antara Foto/M N Kanwa/ via REUTERS
Pesawat jet tempur Sukhoi TNI alutsista
File Not Found

VIVA.co.id – Sektor udara menjadi salah satu program pembangunan Minimum Essential Force (MEF), sebagai upaya penguatan pertahanan nasional. Hingga Rencana Strategi (Renstra) tahap dua, TNI AU sudah melakukan upaya membangun serta modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista).

Berbagai alutsista canggih sudah dimiliki TNI AU yang Minggu besok akan merayakan HUT ke-71. Mulai pesawat jet Sukhoi Su-27/30, F-16, Super Tucano, hingga CN 235 sudah ada untuk menjaga keamanan wilayah teritorial Republik Indonesia.

Mengacu cita-cita Indonesia yang diharapkan menjadi poros maritim dunia, Angkatan Udara tentu menjadi tumpuan. Dari segi armada alutsista, sektor udara memiliki keunggulan kecepatan dibandingkan sektor laut dan darat.

Namun, dibandingkan dengan luas wilayah negara, ukuran alutsista sektor udara yang saat ini dinilai masih belum ideal. Luas negara yang lebih lima juta kilometer persegi tak sebanding dengan kesiapan anggaran yang disediakan.

Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menyoroti masalah anggaran yang ada seperti hanya cukup untuk lima pesawat jet tempur yang beroperasi dalam sehari. Sementara itu, idealnya wilayah seperti Indonesia itu punya anggaran operasional untuk lebih dari 50 jet tempur dalam sehari.

"Kalau dari kapabilitas kebijakan, seharusnya dengan penyesuaian kebutuhan sekarang dalam ukuran masih jauh," kata Connie kepada VIVA.co.id, Jumat 7 April 2017.

Menurut dia, sistem pemerintah Indonesia dalam pemenuhan alutsista masih belum sesuai dengan kebutuhan. Menurutnya, Kementerian Pertahanan seharusnya yang memiliki roadmap dalam memetakan kebutuhan alutsista untuk TNI.

Selama ini, TNI harus menyesuaikan anggaran yang dialokasikan pemerintah. Namun, faktanya dalam kebutuhan alutsista cukup besar jika berdasarkan luas wilayah negara.

"Karena sistem yaitu TNI harus mengikuti negara, bukan bagaimana yang diminta TNI. Nah, dalam hal ini harusnya Kementerian Pertahanan yang punya roadmap. Bagaimana TNI AU harus bisa mengadakan pengadaan based on needs not based on want," tutur Connie.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara, Marsekal Pertama Jemi Trisonjaya mengatakan, TNI AU akan berupaya kuat mendukung kebijakan pemerintah terkait cita-cita sebagai poros maritim dunia. Salah satu yang masih terkait dengan memberikan dukungan terhadap program tol udara.

Jemi mengakui dengan luas geografis Indonesia, menjadi tantangan TNI AU. Rentan ancaman terhadap wilayah kedaulatan Republik Indonesia menjadi antisipasi TNI.

Selain menambah unit alutsista jet tempur, dalam Renstra MEF tahap dua, TNI AU menyiapkan fasilitas pendukung seperti membangun pangkalan udara di daerah perbatasan. Selain itu, menyiapkan rencana renovasi pelebaran landasan pacu.

"Kebijakan tol udara akan kami dukung yang masih menyangkut dari poros maritim dunia. Bagaimana tol udara dengan menyiapkan pangkalan udara di sejumlah daerah perbatasan," kata Jemi kepada VIVA.co.id, Jumat, 7 April 2017.

Selanjutnya...Deretan Alutsista Udara

File Not Found