Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 10 Mei 2017 | 05:37 WIB
  • Meredam Ujaran Kebencian di Media Sosial

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Meredam Ujaran Kebencian di Media Sosial
Photo :
Hate speech atau ujaran kebencian
File Not Found

VIVA.co.id – Eropa selalu identik dengan nilai kebebasan, terutama dalam mengungkapkan pendapat. Kondisi ini karena sejarah panjang negara-negara di Benua Biru untuk mewujudkan hak, penghormatan, dan kebebasan.

Namun, nilai kebebasan itu kini perlahan terkikis. Buktinya, Komisi Uni Eropa melayangkan ancaman kepada perusahaan teknologi berbasis aplikasi media sosial. Apa penyebabnya?

Saat ini marak sekali mengungkapkan ujaran kebencian di media sosial. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat tetapi Eropa. Facebook dan Twitter, adalah dua jejaring sosial yang paling sering dijadikan sarana tersebut.

Maka, muncul istilah "trolling" atau secara sengaja mendorong kebencian di media sosial. Tak pelak, situasi tersebut membuat gerah petinggi Uni Eropa. Mereka berpandangan jika fenomena ini, cepat atau lambat, akan berpengaruh pada sektor keamanan.

Selain itu, Facebook dan Twitter, dianggap abai alias cuek karena tidak mengambil "tindakan tegas". Eropa juga menilai bahwa hal yang aneh jika pengguna melaporkan hal tersebut, namun hampir tidak ada tindakan dari perusahaan.

Alhasil, kedua perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu diancam untuk lebih keras dan tegas terhadap ujaran kebencian. Mengutip situs The Telegraph, peringatan ini sudah dilakukan sejak Desember 2016.

Komisi Uni Eropa memperingatkan bahwa tidak saja Facebook dan Twitter, namun termasuk Google, YouTube, dan Microsoft, harus secara sukarela menandatangani seperangkat aturan anti ujaran kebencian awal tahun lalu. Tetapi, mereka masih tidak melakukan usaha yang cukup untuk menghapus penyalahgunaan ilegal pada platform mereka.

Komisioner Kehakiman Uni Eropa, Vera Jourova mengatakan, perusahaan harus bertindak cepat untuk menghentikan Uni Eropa dari memperkenalkan undang-undang yang mengamanatkan tindakan pada ujaran kebencian.

Dengan mendaftar ke code of conduct tersebut, lanjut Vera, perusahaan seperti Facebook, Twitter dan lainnya setuju untuk menindak postingan ujaran kebencian yang dikirim dalam waktu 24 jam dari yang dipublikasikan di Eropa.

"Kami sangat khawatir setelah adanya krisis pengungsi dan serangan teror yang diperkirakan memicu gelombang kebencian ilegal secara online," ungkapnya.

Perusahaan-perusahaan tersebut setuju untuk menghapus atau menonaktifkan akses ke postingan ujaran kebencian dalam kerangka waktu yang tepat. Kemudian, secara aktif mempromosikan kontra narasi dan bekerja dengan kelompok-kelompok masyarakat sipil.

Selanjutnya, Ancaman Hukuman

File Not Found