Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 12 Mei 2017 | 06:03 WIB
  • Trump, FBI dan Pemakzulan

  • Oleh
    • Endah Lismartini
Trump, FBI dan Pemakzulan
Photo :
  • REUTERS/Carlos Barria
Presiden AS, Donald Trump.
File Not Found

VIVA.co.id – Belum reda kekagetan publik AS pada berbagai keputusan yang diambil presiden mereka, Donald Trump kembali menciptakan kekagetan. Selasa, 9 Mei 2017, Juru Bicara Gedung Putih Sean Spicer menyampaikan pengumuman pemecatan Direktur FBI James Comey di Washington DC.

Melalui jubir Gedung Putih, Trump mengatakan pemberhentian itu dilakukan agar penyelidikan soal email Clinton menjadi lebih independen.  Menurut Trump, berdasarkan rekomendasi dari Jaksa Agung Jeff Sessions, kepemimpinan Comey tak lagi efektif. "Sangat penting menemukan pemimpin yang baru untuk FBI. Guna mengembalikan kepercayaan publik dan lembaga FBI," ujarnya, seperti diberitakan oleh The Guardian, 9 Mei 2017.

Banyak yang menduga keputusan Trump adalah hal yang mendadak dan tiba-tiba, namun ternyata tak demikian. Dikutip dari The Guardian, Rabu, 10 Mei 2017, menurut Wakil Sekretaris Pers Gedung putih, Sarah Huckabee Sanders, keinginan Trump untuk memecat Comey sudah muncul sejak ia resmi terpilih. Tapi Trump baru membuat keputusan final setelah menerima masukan lisan dan tertulis dari Departemen Kehakiman.

Huckabee mengatakan, selain meragukan Comey soal penyelidikan email Clinton, Trump menganggap Comey telah melakukan tindakan yang merendahkan sebagai seorang Direktur FBI. Ia dikabarkan telah melakukan tindakan "tak sopan."

"Sepertinya setelah menerima surat dari Departemen Kehakiman dan melakukan pembicaraan soal ini, presiden harus mengambil keputusan, dan saya rasa ini adalah puncaknya," ujar Huckabee. Sedangkan Juru Bicara Gedung Putih Sean Spicer juga sempat menyinggung, bahwa presiden sempat memiliki kepercayaan penuh pada Comey, pada pekan-pekan sebelumnya. Namun beberapa kejadian terakhir mempengaruhi keputusannya.

Sanders mengatakan, beberapa pejabat Departemen Kehakiman mengungkapkan kepada Trump keraguan mereka tentang Comey dalam sebuah pertemuan dengan presiden. Trump lalu meminta para pejabat untuk menyampaikan kekhawatiran mengenai "hal tak sopan," yang dilakukan Comey secara tertulis. Beberapa dari kekhawatiran ini kemudian dipublikasikan, berupa surat dari Jaksa Agung Jeff Sessions dan Wakil Jaksa Agung Rod Rosenstein.

Dalam suratnya, Rosenstein menulis bahwa dia "tidak dapat mempertahankan cara penanganan Comey atas kesimpulan penyelidikan email Clinton." Dia menyalahkan Comey karena mengumumkan sarannya tentang bagaimana Clinton harus diadili dalam sebuah konferensi pers publik, sesuatu yang umumnya merupakan wilayah jaksa agung.

Menurut Huckabee, hal ini menunjukkan Comey telah melanggar rantai komando karena menggelar konferensi pers dan menyampaikan saran soal penanganan email Clinton.

Namun isu terus berkembang. Penjelasan Gedung Putih soal pemecatan Comey dianggap tak memadai. Sebuah sumber di Senat Amerika Serikat, menduga pemecatan Direktur FBI, James Comey, kemungkinan terkait dengan penyelidikannya soal keterlibatan Rusia dalam pilpres AS.

File Not Found