Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 17 Mei 2017 | 07:01 WIB
  • Minahasa Merdeka, Haruskah?

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Fajar Ginanjar Mukti,
    • Agustinus Hari (Manado)
Minahasa Merdeka, Haruskah?
Photo :
  • VIVA.co.id/Facebook@Ancient of Minahasa
Bendera lambang MInahasa Merdeka
File Not Found

VIVA.co.id – Kata Minahasa Merdeka menggema di jejaring sosial. Sejumlah akun membumbuinya dengan beragam foto yang cukup mengejutkan. Salah satunya adalah judul tiras sebuah surat kabar harian lokal, Radar Manado, terpampang jelas dengan judul Tahan Ahok atau Minahasa Merdeka.

Meski sedikit membingungkan dengan judul yang terpampang. Namun tampilan muka tiras koran ini menjadi penambah ramai kicauan pengguna internet di media massa.

VIVA.co.id, mencoba menelusur ke laman resmi surat kabar ini. Namun sayangnya tak bisa ditemukan. Terlepas itu, Minahasa Merdeka, kini terlanjur menjadi perbincangan publik.

Headline Surat Kabar Radar Manado soal Minahasa Merdeka

FOTO: Halaman depan Surat Kabar Harian Radar Manado yang menampilkan kabar soal Minahasa Merdeka/Facebook

Di jejaring sosial Facebook misalnya, sebuah akun bernama Ancient fo Minahasa, yang memiliki pengikut hingga lebih dari 17 ribu orang, sepertinya menjadi akun yang paling getol menyuarakan ini.

Di beranda akun ini, masif menautkan sejumlah konten yang berkaitan dengan Minahasa Merdeka. Beberapanya diambil dari sejumlah informasi di media yang menampilkan berita tentang harapan akun ini. Lalu sesunggunya seperti apa isu Minahasa Merdeka ini bisa meluas dan menggema?

Pekan lalu, tepatnya Rabu, 10 Mei 2017, atau sehari usai vonis terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, secara simultan di sejumlah daerah memunculkan reaksi.

Vonis dua tahun atas kasus penodaan agama untuk Ahok itu seperti menjadi muatan awal publik berpandangan bahwa ada ketidakadilan.

Di Papua, Bali, Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera hingga ke tanah Sulawesi pun ikut menyampaikan aspirasinya. Aksinya seragam yakni berupa menyalakan lilin. Semua berjalan tertib dan penuh dengan pesan kedamaian, seperti yang dijargonkan para peserta.

Pendukung Ahok.

FOTO: Aksi pendukung Ahok saat menyalakan lilin serentak di sejumlah daerah

Namun memang ada sesuatu yang berbeda di Manado Sulawesi Utara. Dalam aksi Sejuta Lilin untuk Ahok yang digelar, Rabu, 10 Mei 2017, memang berseliweran isu soal Minahasa Merdeka.

Riak itu makin meluas, ketika Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah ketiban sial lantaran ditolak kedatangannya di Manado. Pria yang kini tak diakui lagi sebagai kader Partai keadilan Sejahtera (PKS) itu diadang oleh sejumlah warga yang menggunakan pakaian lengkap adat Minahasa di Bandara Samratulangi Manado pada Sabtu, 13 Mei 2017.

Lengkap dengan senjata tajam khas Minahasa, kehadiran Fahri pun sempat memicu ketegangan urat. Namun beruntung, Fahri tetap 'lolos' dan bisa melanjutkan kunjungannya di Manado.

Aksi Masyarakat Adat Minahasa menolak kedatangan<a class='auto-tokoh' title='Profil Fahri Hamzah' href='http://m.viva.co.id/siapa/read/175-fahri-hamzah?ref=vivasiapa'> Fahri Hamzah </a>di Bandara

FOTO: Aksi sejumlah warga Minahasa menggunakan pakaian adat saat menolak kehadiran Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah di Manado, Sabtu (13/5/2017)

Sejalan itulah kemudian isu Minahasa Merdeka makin meluas dan menjadi perbincangan. Jejaring sosial Facebook dan Twitter menjadi wadah yang membuat gema ini makin meluas.

Aksi simpatik terhadap Ahok pun akhirnya terpelintir dan kemudian dianggap berkaitan dengan Minahasa Merdeka. Lengkap sudah, isu ini mendapat tempat dan dibumbui jargon perlawanan minoritas.

"Kami bangsa Minahasa Raya berhak eksis sebagai negara yang merdeka. Freedom. I yayat u santi," demikian salah satu tulisan di Facebook menggaungkan isu Minahasa Merdeka.

File Not Found