Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 25 Mei 2017 | 07:48 WIB
  • Jejak Baru Asal Usul Manusia

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis
Jejak Baru Asal Usul Manusia
Photo :
  • www.telegraph.co.uk/University of Toronto
Fosil tua nenek moyang manusia
File Not Found

VIVA.co.id – Asal usul manusia menjadi bahan hangat baru bagi ilmuwan dalam pekan ini. Sebab sebuah penelitian terbaru yang dirilis tim peneliti dari Jerman, Bulgaria, Yunani, Kanada, Prancis dan Australia, menunjukkan bukti manusia asal usulnya dari Mediterania Timur, Eropa. 

Hasil studi itu bisa dibilang mengguncang, sebab selama ini sebagian besar ilmuwan meyakini asal usul manusia berasal dari Benua Afrika. Dalam literatur, teori manusia berasal dari Benua Hitam itu dikenal dengan teori Out of Africa. Dalam teori itu, manusia mulai menyebar ke seluruh bagian dunia dari Afrika sekitar 200 ribu tahun lalu.

Temuan yang menyatakan nenek moyang manusia berasal dari Eropa diklaim berpeluang mengubah pemahaman asal usul manusia secara radikal. 

Studi yang menyimpulkan nenek moyang manusia berasal dari Benua Biru itu, dikutip dari Reuters, merupakan analisis fosil tulang rahang di Yunani dan fosil gigi di Bulgaria. Fosil yang diteliti ilmuwan merupakan fosil mahluk mirip kera, yang dinamai Graecopithecus freybergi.

Fosil tulang rahang beserta gigi sejatinya ditemukan di tentara Jerman di Athena yang sedang membangun bungker pada 1944. Saat itu fosil itu kondisinya buruk, dengan sebagian besar giginya terkelupas. Saat itu spesimen itu dianggap tak punya nilai sehingga tak begitu dihiraukan. Sedangkan fosil gigi ditemukan di Bulgaria selatan-tengah pada 2009. 

Setelah ditemukan, ilmuwan mengujinya dengan menggunakan cara canggih, termasuk dengan CT scan. Umur fosil itu ditentukan dengan mengukur karbon pada batuan sedimen yang ditemukan pada fosil tersebut. Hasilnya, fosil tulang rahang beserta gigi berusia sekitar 7,4 juta tahun, sedangkan fosil gigi di Bulgaria berusia 7,14 juta tahun.

Ilmuwan juga menemukan, karakteristik akar gigi pada fosil itu berbeda dengan simpanse dan nenek moyang makhluk itu, sehingga peneliti yakin Graecopithecus freybergi adalah bagian dari keturunan manusia awal atau dikenal hominin. Temuan fosil hominin ini mengalahkan 'rekor' hominin tertua selama ini, Sahelanthropus, yang hidup sekitar 6-7 juta tahun lalu di Chad, Afrika Tengah.

"Kami terkejut dengan hasil studi kami, karena sebelumnya nenek moyang manusia hanya berasal dari sub sahara Afrika," jelas mahasiswa doktoral Jochen Fuss yang terlibat dalam penelitian itu. 

Peneliti lain dalam tim tersebut juga terkesiap. Sebab dengan kesimpulan itu, maka teori utama nenek moyang manusia bisa usang. 

"Spesies kita kita berevolusi di Afrika, tapi garis keturunan mungkin tidak dari sana," jelas ahli paleoantropologi Universitas Tübingen, Jerman, Madelaine Böhme.

Selain dua peneliti itu, ahli paleoantropologi Universitas Toronto, Amerika Serikat, David Begun juga termasuk dalam tim tersebut.

Graecopithecus tergolong spesies yang misterius, sebab fosilnya sangat jarang. Ukuran nenek moyang manusia ini diperkirakan seukuran simpanse betina dan tinggal di lingkungan padang rumput kering, mirip savana Afrika pada masa kini. Maka tak heran teori Out of Africa bertahan lama sampai saat ini. 

File Not Found