Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 16 Juni 2017 | 06:08 WIB
  • Cerita Berulang Sel Mewah Bandar Narkoba

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Lilis Khalisotussurur,
    • Edwin Firdaus,
    • Syaefullah
Cerita Berulang Sel Mewah Bandar Narkoba
Photo :
  • ANTARA FOTO/Galih Pradipta
BNN mengungkap TPPU kasus narkotika senilai Rp39 miliar
File Not Found

VIVA.co.id – Ruang sel itu memang tak seperti pada umumnya. Satu unit televisi LED terpasang di dinding, di atasnya menggantung jaringan internet nirkabel (Wifi) dan mesin pendingin ruangan (AC). Kasur pegas dengan seprai hijau lumut terbujur persis di bawah televisi.

Di sebelahnya, ada meja kayu cokelat yang di atasnya terdapat sebuah tas hitam berisi seperangkat komputer jinjing (laptop) dan beberapa telepon genggam. Di sisi lainnya, ada peralatan memasak dan bahan dapur untuk memasak makanan. Sebuah akuarium ikan air tawar, Arwana, juga jadi pemanis ruang persegi itu.

Luar biasanya, ruang tersebut dilengkapi kamera pengintai atau CCTV, untuk mengawasi siapa saja yang akan masuk ke ruang tersebut.

Itulah sekelumit pemandangan tak biasa dari sebuah sel milik Haryanto Chandra alias Gombak, terpidana kasus narkotika yang kini mendekam di Lapas Cipinang Klas IA, Jakarta Timur. Chandra yang divonis 14 tahun penjara itu, tinggal di sebuah sel mewah yang dilengkapi berbagai fasilitas layaknya kamar pribadi.

Badan Narkotika Nasional (BNN) memergoki pemandangan tak biasa sel bandar narkoba di Lapas Cipinang itu melalui operasi senyap pada 31 Mei 2017. Dalam operasi itu, BNN berhasil menangkap basah Chandra, saat tengah asyik bersama narapidana lainnya, menggunakan sabu di dalam lapas.

"Pada saat penggeledahan, tim juga menemukan aktivitas para narapidana sedang menghisap sabu di dalam ruang sel," kata Kepala BNN, Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso saat jumpa pers di kantornya, Selasa, 13 Juni 2017.

Buwas, begitu disapa, memang tak terlalu terkejut dengan temuan ini. Sebab, kejadian ini akan terus terulang sepanjang mata rantai jaringan narkoba dengan oknum lapas tidak diputus.

Menurut dia, para bandar narkoba itu tetap bisa mengendalikan peredaran narkoba dari dalam lapas, karena mendapatkan fasilitas dan dukungan melalui bantuan oknum lapas.

"Buktinya mereka bisa punya laptop, iPad bahkan bisa masang CCTV. Ini luar biasa, koordinasinya mudah. Bahkan, mereka masih aktif melakukan kegiatan jaringannya yang berada di luar lapas," ujarnya.

Mantan kabareskrim Polri itu menegaskan, kasus sel mewah bandar narkoba ini sudah berulang kali terjadi. Karenanya, dia meminta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly, untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh agar penemuan lapas dengan fasilitas mewah tidak terulang lagi.

"Sudah berkali-kali kami sampaikan (laporan), tergantung sana tindakannya seperti apa. Kalau masih pembiaran, besok akan kami temukan seperti ini kalau sistem tidak diperbaiki. Tidak ada pembersihan di internal maka besok akan kami temukan lagi," tuturnya.

Selanjutnya, Jaringan Freddy Budiman

File Not Found