Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 21 Juni 2017 | 06:06 WIB
  • Denyut Kencang Mobil Bekas Jelang Lebaran

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Dian Tami,
    • Pius Yosep Mali,
    • Jeffry Yanto Sudibyo,
    • Yunisa Herawati
Denyut Kencang Mobil Bekas Jelang Lebaran
Photo :
  • VIVA.co.id/Pius Mali
Penjualan mobil bekas di MGK Kemayoran.
File Not Found

VIVA.co.id – Kebutuhan alat transportasi jelang mudik Lebaran melonjak signifikan. Tak hanya permintaan unit kendaraan baru, mobil edisi bekas pun banjir peminat. Berdasarkan data yang disampaikan sentra kendaraan bekas WTC Mangga Dua, trafik penjualan mobil bekas mereka bahkan sudah meningkat 100 persen sejak Mei lalu.

Model terlaris masih didominasi Multi Purpose Vehicle (MPV) alias mobil keluarga. Jika di bulan-bulan biasa hanya laku terjual sebanyak 300 unit per minggu, saat ini penjualannya sudah sampai 500-600 unit per minggu. Diprediksi, trafik penjualan mobil bekas dapat terus berlanjut sampai mendekati Lebaran dan bisa mencapai 2.800 unit dalam sebulan.

Bicara kendaraan untuk mudik, ternyata tidak hanya khusus segmen low dan medium saja yang menjadi pilihan. MPV kelas premium bekas pakai seperti Toyota Alphard bahkan ikut terdongkrak penjualannya dan banyak diburu sebagai pilihan transportasi.

"Mendekati Lebaran, Alphard bekas saja juga laku. Untuk tahun 2010 harganya di kisaran Rp380 juta. Orang yang menengah ke atas daripada dia beli Innova mending tambahin buat beli Alphard. Lebih mewah dan bergengsi. Sudah puluhan Alphard dijual pedagang," kata Senior Manager WTC Mangga Dua Herijanto Kosasih kepada VIVA.co.id.

Dari data yang berhasil dihimpun, model Low MVP masih jadi yang terlaris dan diburu masyarakat jelang Lebaran. Pendapatan ini tentu membuat kantong mereka menebal. Model-modelnya yakni Avanza, Xenia, Innova dan Grand Livina. Ini karena rentang harga yang dibanderol masih lumayan terjangkau. Untuk Avanza tahun 2013 saja dijual dengan kisaran Rp135 juta sampai Rp145 juta. Innova lebih mahal, di kisaran Rp170 juta untuk mesin bensin dan Rp200 juta untuk mesin diesel. Sementara Grand Livina di kisaran Rp140 juta.

Menurut Herjanto, ada empat keuntungan yang menjadi alasan kuat mengapa mobil bekas menjadi pilihan menarik untuk diburu jelang Lebaran. Pertama, dengan membeli mobil bekas dapat langsung dikirim dan digunakan oleh konsumen. Hal ini cukup berbeda dengan mobil baru yang harus menunggu pengiriman dari gudang. Kedua, surat-surat mobil telah tersedia, tidak seperti mobil baru yang juga harus menunggu cukup lama untuk ketersediaan surat-surat kendaraan. Alasan ketiga, harga yang ditawarkan tentu lebih murah dan terjangkau.

"Keempat, pilihan mobil lebih beragam yang dapat disesuaikan dengan kemampuan. Untuk mobil bekas, tersedia unit dari berbagai tahun sehingga konsumen bebas memilih tahun dan jenis mobil, sesuai dana dan kebutuhan mereka,” kata Herjanto.

APM Ikut Bermain

Gurihnya pasar mobil bekas ternyata turut memantik bermunculannya pelakon penjual mobil bekas dalam skala raksasa. Tak hanya datang dari penjual pinggir jalan, namun kini sudah merambah ke Agen Pemegang Merek (APM). Berdasarkan data, sudah ada Mercedes-Benz, BMW, hingga Suzuki yang melakukannya. Suzuki bahkan memberi iming-iming garansi satu tahun bagi mobil-mobil bekas yang dijual.

Menurut Business Development PT SIS, Hendro H. Kaligis, banyak APM melirik bisnis mobil bekas karena besarnya peluang terlebih jelang Lebaran seperti sekarang ini. Kondisi serupa juga berlaku di beberapa negara berkembang lain. Dia menggambarkan penjualan kendaraan dalam bingkai piramida. Di mana posisi paling bawah (terbesar) biasanya diisi sepeda motor, di atasnya ada mobil bekas, lalu mobil baru dan yang paling atas (paling kecil) adalah kendaraan koleksi.

"Tapi di Indonesia tidak ada data yang mencatat itu (penjualan mobil bekas), jadi seakan-akan bisnis mobil bekas tidak sebesar mobil baru. Karena di mobil bekas ada yang namanya transaksi perseorangan, makin tambah tidak teridentifikasi lagi," ujarnya.

Realita juga menyebut bisnis mobil bekas lebih menjanjikan, karena melirik harga yang lebih terjangkau oleh konsumen. Apalagi faktor biaya yang tak besar. Meski ada kalanya beberapa bulan penjualan mengalami byar pet alias turun dan naik, itu merupakan dinamika normal. "Secara modal tidak terlalu besar, contoh punya uang Rp200 juta saja sudah bisa dapat tiga mobil. Beli saja yang Rp60 sampai Rp70 jutaan, jadi memang cukup gampang masuknya (bisnis mobkas), tapi apakah bisa sustain atau tidak itu tergantung," kata Hendro.

Selain APM, diler mobil bekas kini juga makin banyak peredarannya, bahkan di beberapa lokasi sifatnya justru bukan seperti sentra jual beli. Berkaca dari hal itu, secara pertumbuhan mobil bekas dinilai memiliki peluang yang cukup signifikan. "Dulu sentra mobkas cuma ada satu di Pecenongan, tapi saat harga sewa makin mahal dan lain-lain, mulai menyebar ke lokasi lain. Ada pasar mobil Kemayoran, Mangga Dua, dan lainnya. Sentra mobil bekas di Jabodetabek sekurangnya ada 13, paling baru ada di BSD, untuk Gading Serpong saja sudah ada tiga," ucap Hendro.

Selanjutnya: Mobil bekas taksi dan trik deteksi bekas tabrakan...

File Not Found