Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 22 Juni 2017 | 06:30 WIB
  • Menyoal Sahur On The Road

  • Oleh
    • Bayu Adi Wicaksono,
    • Eduward Ambarita,
    • Ade Alfath,
    • Anwar Sadat,
    • Foe Peace Simbolon
Menyoal Sahur On The Road
Photo :
  • Twitter @TMCPoldaMetro
Polisi menertibkan lalu-lintas di jalur yang jadi lokasi Sahur on the road di Jalan MH. Thamrin Jakarta beberapa waktu lalu.
File Not Found

VIVA.co.id – Bulan Ramadan adalah bulan berlimpah pahala. Sekecil apa pun amal perbuatan yang dilakukan, maka akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.

Untuk mendapatkan pahala melimpah di Bulan Ramadan tak selamanya harus mengeluarkan biaya yang banyak, bahkan hanya dengan modal suara saja, akan diganjar dengan pahala yang luar biasa besarnya.

Namun, dewasa ini, banyak sudah orang yang salah kaprah dan salah arah dalam menjalankan ibadah sunah yang satu ini. Bukannya membangunkan orang sahur dengan tertib, kegiatan ini malah menciptakan suasana sahur semakin tidak kondusif.

Kegiatan itu bertajuk sahur on the road (SOTR). Dari namanya sudah dapat dipastikan kegiatan ini adalah sahur berkeliling di jalanan.

Fenomena SOTR di Indonesia muncul beberapa tahun belakangan ini, banyak orang terutama dari mereka yang terlibat dalam kegiatan kelompok penyuka kendaraan bermotor menggelar kegiatan ini.
 
Awalnya, SOTR diciptakan untuk meningkatkan amal ibadah dengan cara berkeliling membangunkan orang sahur dan juga membagikan makanan untuk Kaum Duafa.

Tapi, seiringi waktu berganti, kegiatan ini berubah menjadi sebuah kegiatan yang cenderung dibenci masyarakat di waktu sahur.

Bagaimana tidak, perilaku pelaku SOTR kini cenderung brutal, mereka tak peduli lagi kegiatan itu merupakan bagian dari ibadah, mereka hanya memanfaatkan momentum sahur untuk dapat menguasai jalanan, tanpa mempedulikan pengguna jalan lainnya.

Bahkan, dalam beberapa tahun ini, sering terjadi gesekan yang berujung pada bentrokan antar kelompok yang sedang menggelar SOTR.

Salah satu contohnya seperti yang terjadi Minggu, 18 Juni 2017, pukul 03.18 WIB. Dua kelompok SOTR terlibat saling serang dengan batu dan senjata tajam di Jalan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat.

Tak hanya itu, dua kelompok yang bentrok juga menggunakan senjata berupa petasan untuk menyerang kelompok SOTR lainnya.

Kondisi ini sungguh sangat disayangkan, sebab tak hanya menyebabkan jatuhnya korban, tapi akibat perbuatan pelaku SOTR itu, pengguna jalan terganggu hingga terpaksa mencari ruas jalan lain agar bisa aman dilintasi menuju tujuan.

Padahal pemerintah dan kepolisian sudah dengan tegas melarang masyarakat untuk menggelar SOTR dengan cara berkonvoi berkeliling kota. 

Sebab, kegiatan SOTR sangat mudah disusupi anggota geng-geng motor yang suka melakukan provokasi agar terjadi keributan. Terutama oleh geng motor yang suka berbuat kriminal.

"Tetapi yang on the road ini berkali-kali saya sampaikan itu lebih banyak mudarat-nya karena banyak diboncengi oleh geng motor dan rawan untuk berbuat kriminal," kata Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, baru-baru ini. 

Djarot menegaskan, pelarangan itu dikeluarkan bukan untuk masyarakat yang benar-benar melakukan kegiatan membangunkan orang untuk santap sahur. Tapi, pelarangan ditujukan bagi kelompok SOTR yang berkonvoi dengan kendaraan di jalanan.

"Bukan melarang sahurnya loh. Gara-gara saya keras untuk melarang sahur on the road, saya juga di-bully dianggap melarang sahur, dianggap tidak Islami, dianggap tidak sahur," kata Djarot.

Selanjutnya...Dilarang Polisi

File Not Found