Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 27 Juni 2017 | 06:04 WIB
  • Aksi Dendam Jemaah Ansharut Daulah

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Foe Peace Simbolon,
    • Irwandi Arsyad,
    • Putra Nasution (Medan)
Aksi Dendam Jemaah Ansharut Daulah
Photo :
  • Antara/Jessica Helena Wuysang
Ilustrasi/Penangkapan terduga teroris
File Not Found

VIVA.co.id – Kepolisian kembali menyatakan, dua pentolan Jemaah Ansharut Daulah, atau JAD sebagai pelaku penyerangan terbuka di Markas Polda Sumatera Utara, Minggu dini hari, 25 Juni 2017.

Seorang pelaku bernama Ardial Ramadhan (30), tewas seketika dengan sejumlah peluru. Sedangkan satu lainnya, Syawal Pakpahan (47), berhasil dilumpuhkan, dua peluru bersarang di kakinya.

Dari pihak Kepolisian, seorang personel bernama Aiptu M. Sigalingging pun tewas bersimbah darah, usai melawan dua pelaku yang bersenjata pisau dapur.

Pemeriksaan polisi, aksi teror ini diduga telah dirancang sejak sepekan lalu. Kedua pelaku pun dipastikan berafiliasi dengan kelompok teror di Suriah, atau ISIS.

Kondisi rumah pelaku penyerangan Mapolda Sumut berinisial SP, di Jalan Pelajar Timur, Medan, Sumatera Utara, Minggu (25/6/2017).

FOTO: Rumah pelaku penyerangan anggota polisi di Polda Sumut

Itu ditunjukkan dengan sejumlah bukti berupa lambang ISIS, buku-buku radikal, dan pengakuan dari istri Syawal Pakpahan yang menyebut suaminya pernah ke Suriah pada 2013 silam.

Apapun itu, kini nama JAD melambung lagi. Organisasi yang konon dibentuk pada 2015 dan diketuai terpidana terorisme Aman Abdurrahman di Lapas Nusakambangan ini dipercaya menjadi dalang setiap teror di Indonesia. Setidaknya, sejak kejadian bom Thamrin pada awal 2016.

"Kami mensinyalir pelaku sel dari kelompok JAD," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Siapa JAD
Kelompok teror radikal di Indonesia, sejak lama sudah diibaratkan mencukur kumis. Mau serajin apa pun, ia akan selalu tumbuh dan tumbuh.

Di Indonesia, merujuk pada laporan The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC)--lembaga pengamat terorisme Asia Tenggara--yang berjudul Disunity Among Indonesian ISIS Supporters and the Risk of More Violence.

Kelompok JAD, secara prinsip bukanlah organisasi resmi. Ia seperti sebuah penyebutan umum kepada mereka yang mendukung pergerakan kelompok teror ISIS.

Namun, seperti dilaporkan IPAC, di Kota Batu Malang Jawa Timur pada 2015, memang ada kesepakatan membentuk sebuah organisasi baru yang diberi nama Jemaah Ansharut Khilafah (JAK).

Belum disepakati siapa ketua dari organisasi ini. Namun, dipastikan organisasi ini terdiri dari berbagai entitas dan menempatkan Abu Bakar Ba'asyir sebagai dewan penasihatnya.

Beberapa entitas yang konon telah mendeklarasikan bergabung yakni, Mujahidin Indonesia Timur pimpinan almarhum Santoso, alias Abu Wardah, Muhaidin Indonesia Barat pimpinan Abu Jandal, alias Salim At Tamimi, Jamaah Islamiyah (JI), Al Muhajirun (afilias Hizbut Tahir Indonesia), Tim Hisbah, dan ada juga Ansharut Daulah Islamiyah (ADI).

 Abu Bakar Baasyir, terpidana kasus terorisme di Indonesia

FOTO: Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir, pendiri Jemaah Ansharuut Tauhid (JAT)

Deklarasi inilah yang kemudian disebut intelijen Indonesia dengan deklarasi Jemaah Ansharut Daulah (JAD). Ini juga sebagai buntut dari dicapnya Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) yang dibentuk Abu Bakar Ba'asyir sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat pada 2012, dengan tuduhan sebagai dalang Bom Bali 2002.

Atas itulah, sejak tahun itu muncul istilah JAD. Meski tak jelas siapa yang dipastikan sebagai pemimpin, namun organisasi ini disebut-sebut sebagai pemasok milisi untuk perang di Suriah.

"Jemaah Ansharut Daulah hanya sebagai istilah generik untuk menyebut mereka yang mendukung ISIS," tulis laporan IPAC dikutip VIVA.co.id.

Berikutnya, kiprah JAD>>>

File Not Found