Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 29 Juni 2017 | 05:23 WIB
  • Daya Beli Turun, 'Hadiah' Saat Lebaran

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Fikri Halim,
    • Rifki Arsilan
Daya Beli Turun, 'Hadiah' Saat Lebaran
Photo :
  • VIVA.co.id/Rifki Arsilan
Toko Sepatu di Pasar Baru sepi pengunjung Lebaran tahun ini
File Not Found

VIVA.co.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan daya beli masyarakat yang turun sejak awal masa Lebaran, akan terus berlanjut pada semester II-2017.

Kondisi ini terlihat dari belum bergairahnya daya beli masyarakat meski telah mendapatkan “suntikan” tunjangan hari raya jelang Lebaran (THR). Alhasil, pertumbuhan dunia usaha masih stagnan.

Apindo mengatakan, hampir semua perusahaan ritel mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat pada masa Lebaran tahun ini. Penjualan berbagai produk jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, industri makanan dan minuman (mamin) tahun lalu pertumbuhannya bisa 50 persen, sekarang hanya 10-15 persen. "Masyarakat punya uangnya, tetapi mereka tidak belanja dengan agresif," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, mencontohkan, untuk produk batik, pengusaha menyatakan bahwa penjualan turun hingga 20 persen dibandingkan tahun lalu. "Mereka mengeluhkan, ini baru pertama kalinya jatuh sekali," ujarnya.

Penurunan penjualan dialami oleh para pedagang di Pasar Baru, Jakarta. Meski ramai didatangi pengunjung selama tiga hari libur Lebaran, mereka mengaku mengalami penurunan pendapatan dibanding tahun lalu.

Pemilik toko tekstil Sidodadi, Bhavna Sadwani (25 tahun) menyatakan, pendapatan tokonya pada Lebaran tahun ini menurun cukup drastis jika dibandingkan pada tahun lalu. Ia mengaku penurunan pendapatan mencapai 20 hingga 30 persen jika dibandingkan musim Lebaran tahun lalu.

"Kalau bicara rata-rata omzet tahun ini, itu tidak seberapa dibandingkan tahun lalu. Kalau biasanya itu kami bisa dapat Rp10 juta ke atas per hari, kali ini bisa di bawah Rp10 juta," kata Bhavna Sadwani kepada VIVA.co.id di Pasar Baru, Jakarta Pusat, Rabu 28 Juni 2017.

Kondisi serupa juga disampaikan oleh pemilik toko sepatu Ladiva Shoe Store, Yan Dermawan. Menurut Yan, tingkat atau daya beli masyarakat tahun ini bisa dikatakan menurun jika dibandingkan tahun lalu. Terlihat dari peminat masyarakat terhadap sepatu-sepatu yang dibanderol dengan harga yang relatif tinggi.

"Jadi kalau dibandingkan tahun lalu memang daya beli masyarakat cukup menurun, tahun ini para pembeli itu lebih banyak yang mengincar sepatu yang kelas menengah ke bawah,” tuturnya. 

“Kalau dulu sepatu yang harganya mahal-mahal itu laku juga. Kalau sekarang lebih banyak kelas menengah ke bawah lah barang-barang yang terjual," kata Yan.

Ia menambahkan, pendapatan toko sepatu miliknya tertolong dengan adanya program Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang dimanfaatkan oleh para penerima KJP untuk membelanjakan kebutuhan sepatu untuk sekolah. Karena Lebaran kali ini jatuh bersamaan dengan tahun ajaran baru.

"Kalau tidak ada KJP sudah pasti berkurang sekitar 30 persen, jadi memang rata-rata yang datang itu mencari untuk sekolah. Jadi barang yang mahal tidak laku, kami tertolong dengan KJP juga," tuturnya.

Selanjutnya, Penyebab Turunnya Daya Beli

File Not Found