Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 15 Juli 2017 | 07:29 WIB
  • Swafoto Monyet Indonesia Hebohkan Dunia

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Swafoto Monyet Indonesia Hebohkan Dunia
Photo :
  • REUTERS / Sukree Sukplang
ilustrasi/Kawanan monyet liar saat swafoto alias selfie.
File Not Found

VIVA.co.id – Pengadilan banding di San Francisco, Amerika Serikat pekan ini menjadi ramai. Sebuah persidangan yang berlangsung 45 menit menjadi tontonan mahasiswa hukum dan masyarakat umum di negara bagian Negeri Paman Sam tersebut. 

Di ruang sidang, hakim dengan seksama menyimak pendapat masing-masing kubu yang berperkara. Pada Rabu 12 Juli 2017 waktu setempat, pengadilan banding di San Francisco itu menggelar sidang sengketa hak cipta swafoto atau selfie monyet Sulawesi yang bernama Naruto. 

Kasus gugatan hak cipta ini memang menyedot perhatian pengguna internet, pakar hukum, dan hak kekayaan intelektual dunia pada 2011 hingga kini. 

Sebelum ramai menjadi perbincangan, awal mula kasus swafoto ini saat fotografer alam asal Chepstow, Wales, Inggris, David Slater berkunjung ke Indonesia pada 2011. Dikutip dari BBC, saat itu Slater menjelajahi alam Sulawesi dan kemudian menemui sekawanan monyet.

Dia kemudian mengatur kameranya di atas tripod, meletakkan tombol potret jarak jauh, sehingga bisa diakses monyet Sulawesi. Kemudian, seekor monyet hitam betina Sulawesi yang diketahui bernama Naruto, menekan tombol potret beberapa kali dan menghasilkan foto, jadilah swafoto monyet Naruto yang tersenyum memperlihatkan giginya.

Kemudian Slater melisensikan swafoto monyet Naruto ini ke Cater News Agency. Dari situ kemudian foto diri monyet Naruto itu menyebar luas di internet. Salinannya diterbitkan perusahaan Blurb dan perusahaan milik Slater, Wildlife Personalities.

Seiring dengan penyebarannya, swafoto itu makin populer. Slater pun mendapatkan pemasukan beberapa ribu poundsterling, yang cukup untuk mengganti biayanya selama berwisata ke Indonesia. 

Kemudian pertengahan 2014, dikutip dari The Guardian, swafoto itu menjadi persoalan. Foto tersebut dipakai blog Techdirt dan ensiklopedia online, Wikipedia. Slater yang mengetahuinya langsung meminta kedua situs itu untuk menyetop penggunaan swafoto itu tanpa izin darinya. Slater yakin mantap mengaku sebagai pemilik foto diri monyet Naruto. 

"Swafoto itu bukan perilaku monyet yang tak disengaja. Itu membutuhkan banyak pengetahuan, ketekunan, keringat, dan penderitaan serta semua itu atas nama saya," kata Slater memprotes dikutip dari The Guardian.  

Sementara itu, blog Techdirt, berpendapat foto itu termasuk dalam domain publik karena monyet itu bukan secara legal pemegang hak cipta foto tersebut. 

Namun, kedua website itu menolak. Wikipedia mengklaim swafoto itu tak ada pemiliknya. Wikipedia berkukuh pemilik foto itu adalah sang monyet. 

Nyatanya swafoto itu makin meluas. Platform penyimpanan multimedia Wikimedia Commons juga mengunggah swafoto tersebut dan dikategorikan sebagai domain atau milik umum, dengan alasannya penciptanya adalah hewan bukan orang. 

Slater yang mengklaim pemilik hak cipta foto itu meminta pemilik platform tersebut, Wikimedia Foundation membayar atas penampilan foto tersebut atau menghapuskannya dari platformnya.  

Setali tiga uang, permintaan Slater itu ditolak mentah Wikimedia. Alasannya masih tegas, pembuat foto itu monyet bukan manusia.

Dari sini sengketa hak cipta swafoto monyet itu memanas. 

Pada Desember 2014, Kantor Hak Cipta Amerika Serikat memutuskan hewan tidak dapat memiliki hak cipta atas karyanya. Kantor tersebut menegaskan karya yang diciptakan oleh bukan manusia tidak tunduk pada undang-undang hak cipta Amerika Serikat. 

Kemudian pada 2015, Slater kian mendapatkan 'musuh' baru. Organisasi perlindungan hewan, People for the Ethical Treatment of Animal (PETA) menggugat Slater atas klaim hak cipta swafoto itu ke pengadilan distrik di AS. Menurut PETA, seharusnya pemegang hak cipta swafoto itu adalah monyet Naruto. 

Pada 7 Januari 2016, pengadilan federal AS di San Francisco, memutuskan monyet hitam Sulawesi itu tak bisa memiliki hak cipta swafoto. Alasan hakim saat itu, monyet itu bukanlah manusia dan hewan bukan bagian dari UU Hak Cipta Amerika Serikat. Kalah dalam persidangan awal, PETA memutuskan banding pada tingkat pengadilan berikutnya. 

Selanjutnya, Debat di Sidang Banding

File Not Found