Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 25 Juli 2017 | 06:04 WIB
  • Menanti Damai di Al Aqsa

  • Oleh
    • Endah Lismartini,
    • Ezra Natalyn,
    • Bayu Adi Wicaksono,
    • Dinia Adrianjara
Menanti Damai di Al Aqsa
Photo :
  • REUTERS / Ammar Awad
Protes warga Palestina atas aksi penutupan masjid Al-Aqsa oleh Israel.
File Not Found

VIVA.co.id – Krisis berkepanjangan antara Israel dan Palestina kembali menajam. Kali ini, ketegangan terjadi di area masjid Al Aqsa.

Konflik bermula pada Jumat, 14 Juli 2017. Dikutip dari Middle East Monitor, Jumat pagi itu, tiga orang yang diklaim warga Palestina menyerang petugas keamanan Israel yang bertugas di masjid Al Aqsa. Dengan menggunakan sebuah motor, mereka memasuki area masjid dan menembaki militer Israel.

Empat tentara Israel terluka akibat tembakan. Dua di antara empat korban penembakan kemudian tewas. Tentara membalas serangan itu dengan menembak balik.

Ketiga warga Palestina itu terluka. Tentara Israel lalu menembak mati tiga warga Palestina yang sudah terbaring luka itu.

Kematian dua tentara membuat Israel memutuskan untuk menutup seluruh area dan melarang warga Muslim melaksanakan salat Jumat di masjid Al Aqsa.

Menurut Mufti Agung Yerusalem Sheikh Muhammad Hussein, ini untuk pertama kalinya terjadi penutupan masjid sejak 1969. Keputusan Israel menimbulkan reaksi keras. Ratusan warga Palestina demo.

Minggu, 16 Juli 2017, Israel kembali membuka area masjid. Tapi, kali ini dengan penjagaan yang ketat, termasuk menggunakan detektor logam bagi siapa saja yang ingin memasuki area tersebut, termasuk yang ingin menunaikan salat di masjid Al Aqsa. 

Syarat itu ditolak warga Palestina. Mereka menganggap pemerintah Israel menghalangi hak mereka untuk beribadah. Sebagai bentuk protes, warga Palestina memilih tetap melaksanakan salat di luar area masjid.

"Penutupan kompleks masjid Al Aqsa, pendudukan, dan pencegahan untuk melaksanakan salat sangat tidak adil bagi kami. Ini jelas melanggar resolusi PBB dan kesepakatan internasional. Kami meminta pertanggungjawaban dari pemerintah Israel. Kami akan tetap tinggal di luar masjid sampai mereka mengembalikan tempat ini," ujar Direktur Al Aqsa Omar Kiswani seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin, 17 Juli 2017.

Aksi protes warga Palestina dibalas dengan tindakan represif oleh militer Israel. Rabu, 19 Juli 2017, aksi bentrokan terjadi. Militer Israel menembakkan gas air mata dan peluru karet.

Konflik semakin memanas setelah beredar kabar Rafaat al-Herbawi, seorang pemuda berusia 30 tahun terbunuh saat berunjuk rasa. Beberapa jam setelah tewasnya Herbawi, imam besar masjid Al Aqsa Sheikh Ikrima Sabri juga dikabarkan tertembak. Ia terkena peluru karet usai menunaikan salat Isya di gerbang masjid Al Aqsa.

Jumat, 21 Juli 2017, otoritas Israel kembali membuat aturan. Mereka melarang jemaah Muslim yang berusia di bawah 50 tahun melaksanakan salat Jumat di masjid Al Aqsa. Diberitakan oleh Independent, pihak Israel menyatakan larangan tersebut diberlakukan untuk mengantisipasi terjadinya aksi kekerasan lebih lanjut.

Kelompok Hamas dan Jihad Islam, dua kelompok garis keras Palestina menyerukan pada pengikutnya untuk melakukan jihad melawan dan membela masjid Al Aqsa. "Masjid Al Aqsa merupakan garis merah, dan kami tak akan tinggal diam menghadapi serangan terhadap masjid Al Aqsa," ujar kedua organisasi ini seperti diberitakan oleh Times of Israel.

Rekaman video dan foto yang menjadi viral menunjukkan kesadisan pemerintah Israel menghadapi aksi warga Palestina. Mulai dari penembakan gas air mata dan peluru karet secara brutal, pembubaran paksa, hingga mengusir dengan kasar dan menendang warga Palestina yang sedang salat.

Selanjutnya, Kecaman Dunia

File Not Found