Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 26 Juli 2017 | 05:44 WIB
  • Terperdaya Mobil (Tak) Murah

  • Oleh
    • Rendra Saputra,
    • Jeffry Yanto Sudibyo,
    • Pius Yosep Mali
Terperdaya Mobil (Tak) Murah
Photo :
  • VIVA.co.id/Purna Karyanto
Toyota Calya.
File Not Found

VIVA.co.id – Demam mobil murah, tengah menjangkiti masyarakat Indonesia. Nyaris mobil itu sangat mudah ditemukan di tiap jalan raya, baik kota besar, hingga ke pelosok negeri. Publik seakan terperdaya dengan mobil murah, lantaran didukung beberapa faktor, yakni harga yang dianggap lebih masuk akal ketimbang mobil-mobil jenis lain dan dianggap paling mengerti kondisi kantong masyarakat Indonesia yang tengah bertumbuh. 

Selain itu, mobil murah juga didukung konsumsi bahan bakar irit. Dengan jargon mobil Rp100 jutaan, mobil murah ramah lingkungan, atau karib disebut Low Cost and Green Car (LCGC) seakan sukses menghipnotis masyarakat. Tak butuh waktu lama, LCGC menjelma jadi sebuah mobil laris manis bak kacang goreng.

Sebagai fakta, tengok saja penjualan secara wholesales LCGC secara nasional di kuartal pertama 2017, berhasil tembus 120 ribuan unit. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, 89 ribuan unit. Penjualan mobil penumpang sepanjang 2016, juga ditopang oleh penjualan LCGC sebanyak 228.800 unit dengan pertumbuhan sebesar 38,3 persen. Moncer!

Namun, fakta kini seakan jauh dari asa, harga LCGC yang ditawarkan para Agen Pemegang Merek (APM) terus merangsek naik. Jika di awal kemunculan ditawarkan kurang dari Rp100 juta, kini bahkan sudah menembus angka Rp150 juta dan dilakukan dalam kurun waktu yang singkat pula.

Padahal jika ditarik ke belakang, LCGC merupakan program mobil rakyat program yang diinisiasi pemerintah. Segmen mobil ini dibentuk, agar dapat dijangkau golongan masyarakat miskin dan menengah. Makanya disebut sebagai mobil murah, meski pemerintah harus menerima konsekuensi kehilangan potensi penerimaan perpajakan khususnya Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM).

Untuk mensiasatinya, pemerintah lalu melakukan pemberian insentif penghapusan PPnBM, agar diharapkan mampu diimbangi dengan penciptaan pasar suku cadang domestik, demi memenuhi kewajiban kandungan lokal yang pada akhirnya mampu mengompensasi kehilangan pendapatan dari sisi perpajakan.

"Sekarang sudah semakin terasa harga segitu Rp150 juta, mulai bikin sesak napas kalau masyarakat mau beli. Kalau dicermati kenyataannya, yang beli tunai mungkin enggak 20 persen, kebanyakan pakai pembiayaan (kredit)," kata Pengamat Otomotif Bebin Djuwana kepada VIVA.co.id, Selasa 25 Juli 2017.

Selanjutnya ===>>> Tak relevan

File Not Found