Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 27 Juli 2017 | 06:15 WIB
  • Bertaruh Nyawa di Casablanca

  • Oleh
    • Lis Yuliawati,
    • Ade Alfath,
    • Eduward Ambarita,
    • Yunisa Herawati,
    • Bayu Nugraha,
    • Anwar Sadat
Bertaruh Nyawa di Casablanca
Photo :
  • VIVA.co.id/ Anwar Sadat
Polisi razia pengendara sepeda motor di jalan layan non tol Casablanca
File Not Found

VIVA.co.id – Rambu lalu lintas bergambar sepeda motor dalam lingkaran dan dicoret garis merah terpampang di jalur masuk Jalan Layang Non Tol (JLNT) Casablanca, Jakarta. Gambar yang dipasang di kedua ujung jalan itu menandakan sepeda motor tak boleh masuk ke sana. Namun, larangan itu tak digubris sejumlah pengendara kendaraan roda dua. Mereka kekeuh melintasi jalan yang membentang dari wilayah Kampung Melayu hingga Tanah Abang tersebut.

Adalah Muhammad Ajie, salah satu pengendara sepeda motor yang melintasi jalan itu. Dia mengaku melewati JLNT karena kondisi jalan macet parah. Ia mengetahui ada larangan melintasi jalan layang tersebut namun lebih memilih melanggar untuk mempercepat perjalanan. "Macetnya parah banget, saya buru-buru juga. Jadi ya terpaksa lewat sini," ujarnya, Rabu, 26 Juli 2017.

Alasan senada dikemukakan Rahmat, pengendara motor lainnya yang melintasi jalan itu. Pria yang berprofesi sebagai pengendara ojek online tersebut nekat melintas di sana untuk menghindari kemacetan di ruas jalan utama.

Dia sudah paham jika jalur tersebut dilarang untuk sepeda motor. Dia pun sadar nyawa dipertaruhkan ketika melintas di flyover dengan ketinggian 20 meter tersebut. Apalagi ketika melintas di atas jalan layang itu, angin dirasakan berembus sangat kencang.

Pemotor juga tak kapok walaupun setiap hari polisi menggelar operasi di ujung jalan. Malahan, jika ada operasi kepolisian, pemotor semakin nekat. Agar tak ditilang, mereka melaju di jalan sepanjang tujuh meter itu dengan cara melawan arah. "Ya bahaya, tapi mau bagaimana lagi. Kalau ditilang dendanya besar," kata Rahmat, Rabu, 26 Juli 2017.

Polisi menganjar denda tilang Rp500 ribu bagi pengendara sepeda motor yang kedapatan melaju di jalan itu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai sanksi denda saja tak cukup. Tindakan lebih tegas diperlukan lantaran aksi mereka itu membahayakan.

Menurut Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, tindakan tegas yang paling pantas diberlakukan ialah menyita sepeda motor milik penerobos. "Langsung denda dan sita motornya," kata Djarot di Balai Kota Jakarta, Senin 24 Juli 2017. 

Pemprov DKI Jakarta telah berkoordinasi dengan Korps Lalu Lintas Polri dan Dinas Perhubungan untuk melakukan operasi di jalan layang itu. Polisi pun melakukan razia untuk mensterilkan jalan tersebut dari pengendara sepeda motor.

Namun, langkah polisi melakukan razia akhir-akhir ini tak berjalan mulus. Mereka diprotes sejumlah pengendara ojek online. Para pengemudi tersebut  merasa dijebak polisi dengan menempatkan personel kepolisian di ujung JLNT. Ratusan pengemudi ojek online lantas turun ke jalan. Mereka memblokir Jalan Casablanca menuju Kampung Melayu, Selasa, 25 Juli 2017. 

Tudingan menjebak pengendara itu dibantah Kasubdit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi  Miyanto. Penindakan di ujung JLNT tersebut disebuut untuk memberikan efek jera bagi para pemotor. Menurutnya, di jalan masuk JLNT sudah ada rambu yang melarang sepeda motor untuk melintas. “Bukan menjebak, tidak ada menjebak," kata Miyanto di Mapolda Metro Jaya, Selasa, 25 Juli 2017.

Sehari setelah pemblokiran jalan itu, polisi tetap melakukan razia. Hasilnya, puluhan pengendara sepeda motor terjaring. "Padahal sudah jelas dilarang tapi masih aja (melanggar)," kata Briptu Kornelius, salah satu anggota kepolisian yang melakukan razia, Rabu, 26 Juli 2017.

Larangan bagi pemotor tersebut bukan baru kali ini berlaku. Aturan itu sudah diterapkan sejak jalan layang non-tol itu dibuka pada 2013. Pemotor dilarang melewati jalan layang ini karena alasan keselamatan. Sebab, embusan angin di ruas jalan layang ini sangat kencang sehingga dapat mempengaruhi keseimbangan pengendara sepeda motor dan terjatuh. "Anginnya kencang, lalu terlalu jauh jembatannya,” ujar Miyanto.

Pada 27 Januari 2014 lalu, tindakan pengendara sepeda motor yang nekat melintasi jalan layang non tol itu makan korban. Ketika itu, Windawati atau Wiwin yang tengah mengandung delapan bulan itu tewas seketika setelah tubuhnya terjatuh dari jalan layang tersebut. 

Kejadian bermula saat motor yang dikendarai suami Wiwin, Faisal melaju dari arah Tebet menuju Tanah Abang. Setelah melintas depan ITC Setiabudi, Faisal membelokkan setang motornya untuk memutar arah. Kabarnya, dia berbalik arah lantaran ada razia polisi. Namun, ketika melaju dengan melawan arus motornya bertabrakan dengan mobil Honda City. Seketika itu, Wiwin yang dibonceng di belakang terlempar hingga jatuh dari jalan layang tersebut.

Polisi berusaha melakukan pencegahan agar tak ada lagi kecelakaan di sana. Para pengendara pun diharapkan mematuhi aturan berlalu lintas. “Makanya harapannya berjalan tertib pengendaranya," kata Miyanto.

File Not Found