Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 29 Juli 2017 | 06:40 WIB
  • Menanti Koalisi Baru SBY-Prabowo

  • Oleh
    • Syahrul Ansyari,
    • Reza Fajri,
    • Lilis Khalisotussurur,
    • Agus Rahmat
Menanti Koalisi Baru SBY-Prabowo
Photo :
  • ANTARA FOTO/Kiki/IES
Pertemuan SBY dan Prabowo.
File Not Found

VIVA.co.id – Sebuah gerobak yang menyediakan nasi dan mie goreng tampak terparkir di dekat Pendopo kediaman Susilo Bambang Yudhoyono, Puri Cikeas, Kabupaten Bogor, pada Kamis malam, 27 Juli 2017. Gerobak tersebut memang disiapkan secara khusus untuk tamu yang juga cukup spesial dari Presiden RI ke-6 sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat tersebut.

Siapa tamu yang tengah ditunggu oleh SBY malam itu? Tidak lain tidak bukan adalah juniornya di TNI, Prabowo Subianto, yang juga Ketua Umum Partai Gerindra, partai yang selama pemerintahan Joko Widodo ini, bersama PKS, konsisten berada di luar kekuasaan.

Sekitar pukul 20.25 WIB, Prabowo akhirnya datang dengan ditemani sejumlah petinggi Partai Gerindra yang di antaranya adalah Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani, Wakil Ketua Dewan Pembina Hashim Djojohadikusumo, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, dan Edhy Prabowo. Mantan Panglima Kostrad dan Komandan Jenderal Kopassus itu mengenakan batik warna coklat garis merah dan hitam.

SBY yang juga ditemani pengurus teras Partai Demokrat seperti Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan, juga putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono, segera menyambut Prabowo. Menantu dari tokoh militer Indonesia, Sarwo Edhie Wibowo, itu terlihat mengenakan kemeja warna biru.

SBY lantas mempersilakan Prabowo duduk di Pendopo Puri Cikeas. Tak lama, seseorang menyuguhkan nasi goreng kepada keduanya. Mereka pun dengan lahap menyantap sajian makan malam tersebut. Setelah itu, sekitar pukul 22.00 WIB, SBY dan Prabowo menggelar konferensi pers bersama.

"Yang saya hormati Bapak Presiden SBY, dan rekan-rekan dari Partai Demokrat. Saya sebut Bapak Presiden karena kalau sudah purna gelar itu melekat terus, berdasarkan konvensi internasional. Seorang profesor, guru besar tidak ngajar lagi tetap profesor," kata Prabowo yang berbicara setelah SBY menyampaikan pernyataan.

Prabowo mengaku diundang SBY, dan dia sendiri meminta waktu untuk bertemu sudah lama. Prabowo lalu mengucapkan terima kasih pada SBY yang langsung mengundangnya begitu tiba dari lawatannya ke luar negeri.

"Setelah makan nasi goreng yang luar biasa enaknya. Nasi goreng ini menyaingi nasi goreng Hambalang. Intelnya Pak SBY masih kuat, kelemahan Pak Prabowo itu nasi goreng, asal diberi nasi goreng, Pak Prabowo setuju saja," lanjut Prabowo melempar guyonan yang diikuti tawa sejumlah orang yang turut serta dalam pertemuan itu.

Koalisi baru tanpa nama

Dalam konferensi pers itu, SBY menyatakan pertemuannya dengan Prabowo bukanlah sesuatu yang sangat luar biasa. Dia menegaskan pertemuan antara tokoh politik seperti itu sangat dimungkinkan di negeri ini.

"Contoh Pak Prabowo beberapa kali bertemu dengan Presiden Jokowi, apakah di Istana atau di kediaman Pak Prabowo. Saya sekali dua kali bertemu dengan Presiden Jokowi," kata SBY.

Menurut SBY, pertemuan antara tokoh politik, pemimpin partai politik adalah sesuatu yang biasa. Dia melihat menjadi luar biasa karena terjadi setelah 21 Juli yaitu ketika DPR mengesahkan Undang-Undang Pemilu.

"Dalam rapat paripurna DPR, Partai Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS berada dalam satu kubu dalam tanda kutip yang tidak menyetujui dikukuhkannya rancangan UU Pemilu yang sekarang sudah sah karena sudah disetujui oleh DPR. Barang kali itu yang jadi berita," kata SBY lagi.

Oleh karena itu, ketika berada di luar negeri, dan ada yang menginginkannya bertemu dengan Prabowo, dia menyambut dengan baik. Alasannya, komunukasi di antara tokoh-tokoh politik dengan tujuan dan niat yang baik adalah baik adanya. "Mudah-mudahan rakyat mengetahuinya, negara juga mendengarkannya," tuturnya.

SBY juga telah sepakat dengan Prabowo untuk terus mengawal negara ini, perjalanan bangsa Indonesia. Tindakan itu dilakukan berdasarkan kapasitas yang mereka miliki saat ini.

"Dari posisi kami, agar negara ini, perjalan bangsa ini mengarah pada jalan yang benar," kata SBY.

SBY menuturkan pengawasan diperlukan agar apa yang dilakukan oleh negara benar-benar dilakukan untuk kepentingan rakyat. Bukan untuk kepentingan kelompok atau individu-individu tertentu. "Bagi kami wajib untuk mengawal bangsa yang kita cintai ini," ujarnya.

Lantas, pengawalan seperti apa yang dimaksud? SBY pun memberikan penjelasan.

"Amat sering Partai Demokrat menyampaikan salah satu cara atau bentuk pengawalan apabila yang dilakukan negara benar, tepat, dan sesuai dengan kepentingan rakyat kita dukung. Tetapi kalau nyata-nyata tidak tepat, tidak benar dan apalagi melukai, mencederai rakyat akan kita koreksi, kita kritisi, kita tolak. Gamblang, tegas dan terang. Itu sikap kami," tegas SBY.

File Not Found