Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 4 Agustus 2017 | 00:15 WIB
  • Konflik AS-Korut, Mengukur Ancaman Bagi Asia

  • Oleh
    • Ezra Natalyn,
    • Dinia Adrianjara
Konflik AS-Korut, Mengukur Ancaman Bagi Asia
Photo :
  • Central News Agency (KCNA) /Reuters
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan pejabat militer.
File Not Found

VIVA.co.id – Pemerintah Amerika Serikat resmi melarang warganya melakukan perjalanan ke Korea Utara. Aturan baru itu, buntut ketegangan hubungan kedua negara. Sejak pemerintahan Presiden Donald Trump, Korut getol melakukan uji coba senjata. Program nuklir pula terus berlanjut. Ditambah sikap tak acuh Korut, AS merasa benar-benar gerah.

Departemen Luar Negeri AS meminta agar seluruh warganya yang masih berada di Korea Utara segera hengkang dari negara tersebut. AS menyatakan bahwa mulai 1 September 2017 hingga satu tahun ke depan, AS akan melarang warganya menuju maupun melintasi negara pimpinan Kim Jong-un itu. Pengecualian hanya untuk jurnalis dan pekerja kemanusiaan dengan izin ketat dari pemerintah AS.

“Orang-orang yang saat ini berada di Korea Utara dengan paspor AS harus meninggalkan Korea Utara sebelum pembatasan perjalanan mulai berlaku pada hari Jumat, 1 September 2017,” dituliskan dalam rilis resmi Kemenlu AS sebagaimana dikutip laman Reuters, Kamis 3 Agustus 2017.

Selama beberapa bulan terakhir, hubungan AS-Korut, tegang. Bahkan eskalasinya meningkat dari pekan ke pekan. Berkali-kali Korea Utara unjuk kekuatan melakukan uji coba senjata mutakhir yang disinyalir memang ingin menggentarkan Amerika Serikat. Sekalipun, AS masih merupakan negara yang memiliki kekuatan militer paling kuat di dunia sesuai laporan berbagai lembaga internasional.

Setelah Presiden Donald Trump naik, beberapa kali Korut sudah melakukan uji coba senjata termasuk dua kali percobaan rudal balistik antarbenua yang disebutkan memiliki jangkauan hingga ke daratan Amerika Serikat.

Bahkan salah satu rudal balistik canggih itu diluncurkan hanya sehari sebelum hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang jatuh pada tanggal 4 Juli 2017 silam. Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengatakan bahwa peluncuran rudal balistik tersebut ibarat kado hari kemerdekaan untuk AS.

Dirilis otoritas Korut, Kim Jong-un mengatakan, rudal ICBM tersebut adalah kado untuk Amerika “si brengsek”.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan bahwa peluncuran yang bertepatan dengan Independence Day membuat ketegangan antara AS dan Korut semakin terbuka dan jelas. AS pada saat itu kembali menegaskan bahwa Korea Utara merupakan ancaman global.

Perlombaan senjata antara kedua negara berlanjut lantaran AS juga terpancing melakukan uji coba senjata canggih untuk merespons sesumbarnya Korea Utara. Sepekan setelah rudal antibalistik Korut dites, AS menguji coba rudal mutakhirnya, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Rudal milik AS tersebut menurut para pakar jelas bisa menandingi rudal Korea Utara. 

AS memiliki fasilitas THAAD yang tak hanya di berada wilayahnya namun juga di teritori Korea Selatan yang terlibat konflik semenanjung dengan Korea Utara selama ini.

Korea Utara sejak lama memang menjadi “musuh” Amerika Serikat di Asia mengingat Korea Utara menganut Komunis yang menjadi paham dimusuhi AS sejak lama. Sementara keberpihakan negara tersebut terhadap Korea Selatan di sisi lain, makin menegaskan permusuhan itu.

Hubungan AS dan Korea Selatan merekah sejak tahun 1953. Menurut laporan yang pernah dipublikasikan Congressional Research Service pada Mei 2017 yang bertajuk “US-South Korea Relations”, disebutkan bahwa hubungan AS dan Korea Selatan menguat salah satunya karena sama-sama menganggap Korea Utara sebagai masalah yang harus dihadapi.
 
Sejak tahun 2009, AS menambah jumlah pasukannya di semenanjung Korea tepatnya di Wilayah Korsel. Pula ikut mendorong penguatan militer Korsel dengan pembangunan THAAD di negeri tersebut. 

Selanjutnya...

File Not Found