Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 05:59 WIB
  • Belajar dari Kasus Penyerangan Anjing Pitbull

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Diza Liane Sahputri,
    • Daru Waskita (Yogyakarta)
Belajar dari Kasus Penyerangan Anjing Pitbull
Photo :
  • Pixabay
Ilustrasi anjing pitbull.
File Not Found

VIVA.co.id – Pekan  lalu, seorang bocah di Malang, Jawa Timur, tewas akibat diserang anjing jenis pitbull. Ironisnya anjing yang menyerang Ramisya Bazigha gadis kecil berusia 8 tahun itu adalah salah satu anjing peliharaan orangtuanya.

Awalnya sang nenek yang sedang salat mendengar teriakan cucunya. Ketika dihampiri, Ramisya sudah tergeletak bersimbah darah dengan luka di bagian wajah dan leher akibat cengkraman anjing tersebut.

Tak jelas bagaimana awalnya hingga si anjing menyerang. Namun diduga, mainan si anak jatuh ke kandang anjing kemudian diketahui sudah mencengkram bocah malang itu.

AKBP Hoirudin Hasibuan mengatakan, pada saat kejadian, hanya ada korban dan neneknya di rumah. Akhirnya ayah si korban berhasil menjinakkan si anjing. Barulah kemudian gigitan yang mencengkram bocah malang itu bisa dilepaskan. 

"Bocah tersebut baru dilarikan ke rumah sakit, setelah mungkin sekitar 15 menit (digigit)," kata Kapolresta.

Anjing pitbull tersebut diketahui sudah lima tahun dipelihara oleh keluarga korban. Selama ini, sang ayah sempat ikut dalam komunitas pemelihara pitbull, namun tak ikut komunitas tersebut lantaran harus pindah ke rumah baru yang ditempati pada saat ini.

Kasus tersebut tentunya menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat. Terlebih hewan peliharaan yang telah 5 tahun bersama nyatanya bisa juga menyerang majikannya sendiri. Belum lagi masalah ketakutan terhadap beberapa gigitan anjing yang rentan memicu kematian.

Anjing sebenarnya adalah binatang yang bersahabat. Tapi, tentunya, mereka tetap binatang yang berisiko menggigit manusia. Faktanya, kasus gigitan anjing pada manusia, tercatat sebanyak 4,7 juta tiap tahunnya di Amerika, dan setengah dari itu merupakan anak-anak di usia 5 hingga 9 tahun.

Menurut data dari Centers for Disease Control, satu dari tiap lima gigitan anjing, menyebabkan cedera yang membutuhkan penanganan medis segera. Tidak hanya itu, anak-anak merupakan kelompok yang lebih berisiko cedera dibanding orang dewasa.

Praktisi Kesehatan Hewan drh Laksmi Budiwardhani  mengatakan, setiap anjing memiliki karakternya masing-masing, hal tersebut menentukan sifat si anjing apakah berpotensi untuk menyerang.

"Semua anjing pada dasarnya adalah hewan setia. Tetapi memang ada karakter tertentu yang ditentukan dari gen anjing tersebut misalnya, misal german sepherd yang berdarah penggembala, sedang Pitbull memang mempunyai darah petarung," ujarnya saat dihubungi VIVA.co.id.

Lebih lanjut, dokter yang aktif memberikan informasi seputar kesehatan hewan di lewat akun twitternya @the_mommies ini menjelaskan bahwa karakter anjing ditentukan banyak faktor.

"Selain gen, lingkungan juga banyak berperan. Apakah kebutuhan dasar hewan tersebut terpenuhi itu juga menentukan agresivitas. Tidak semua anjing bisa langsung bersahabat dengan orang asing, namun tidak sedikit juga anjing yang bisa langsung dekat dengan orang asing. Semua itu kembali ke cara pendekatan dan karakter," ujarnya.

File Not Found