Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 18 Agustus 2017 | 06:16 WIB
  • Busana Kemerdekaan ala Selebritis Indonesia

  • Oleh
    • Lutfi Dwi Puji Astuti,
    • Bimo Aria
Busana Kemerdekaan ala Selebritis Indonesia
Photo :
  • Instagram Krisdayanti
Krisdayanti
File Not Found

VIVA.co.id – Seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, bersuka cita merayakan momen Kemerdekaan, tepat di hari Kamis, 17 Agustus 2017. Walaupun usia kemerdekaan bangsa ini tak muda lagi, 72 tahun, namun, semangat cinta Indonesia harus terus dikobarkan.

Dulu pemuda berperan sangat penting bagi masyarakat karena di tangan mereka nasib bangsa ini diperjuangkan. Peran pemuda saat ini memang tidak seperti dulu melawan penjajah, tetapi pemuda di zaman serba modern, punya cara tersendiri untuk membangkitkan semangat cinta Tanah Air nya.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan dan membangkitkan kembali rasa cinta pada NKRI. Sejarawan Asep Kambali pun menyatakan, bahwa bangsa Indonesia ialah bangsa yang kaya akan seni dan budaya sebagai produk kebahagiaan hasil dari kehidupan masyarakat Indonesia yang menunjukkan karakter masyarakat yang senang bermain dan kreatif.

Hal itu pun kata dia, bisa dilacak dari sejumlah bukti sejarah yang ada di Indonesia, salah satunya, motif kain tradisional seperti ulos dan motif batik yang menggambarkan berbagai kisah tentang konsep senyum dan kebahagiaan.

“Senyum sebagai manifestasi dari warisan budaya bangsa Indonesia juga dapat terlihat dari bukti sejarah di relief candi Borobudur dan motif kain tradisional seperti ulos dan motif batik yang menggambarkan berbagai kisah tentang konsep senyum dan kebahagiaan," ungkap Asep saat ditemui di Kawasan Kota Tua, Jakarta, Rabu 16 Agustus 2017.

Warisan yang Mendunia

Tak hanya sebagai warisan budaya, kain nusantara atau banyak disebut sebagai wastra nusantara juga menjadi bagian dari sejarah yang membanggakan bangsa. Kecantikannya, bahkan memukau masyarakat dunia. Beberapa waktu lalu, pameran dan pagelaran busana wastra Indonesia di Rond de Grote Kerk 12 Den Haag, Belanda mendapat apresiasi dari warga Eropa. Sebanyak 320 tamu undangan perwakilan dari berbagai negara menghadiri acara yang digelar pada 25-26 Juli 2017 lalu.

Selain tamu diplomatik, pameran dengan mengusung tema Batik Indigo dari Yogya untuk Dunia dan Traces of Gianyar Heritage City, itu juga dihadiri pecinta batik, pengamat fesyen, pengusaha ekspor-impor pakaian, sosialita, budayawan hingga pecinta wastra Nusantara. Kuasa Usaha ad interim Ibnu Wayutomo dalam sambutannya ketika itu mengatakan, pameran wastra Indonesia kali ini adalah yang terbesar di Eropa dalam tiga tahun terakhir dan yang membuatnya istimewa adalah kandungan seni budaya tinggi dengan teknik pewarnaan yang ramah lingkungan.

Bambang Hari, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag sekaligus penggagas acara menjelaskan, kegiatan ini ingin memperkenalkan berbagai jenis wastra atau kain yang dibuat secara tradisional dari seluruh Indonesia.

Kata dia, kekayaan tekstil Indonesia atau wastra bukan hanya batik dari Yogya saja tetapi ada tenun ikat, songket dari Padang, tenun Sumba, pinawatengan dari Manado dan lain-lain.

Sementara acara peragaan busana dengan konsep Natural Indigo Batik For All Seasson, menghadirikan karya dari empat desainer Bali dan dua desainer Yogyakarta. Empat desainer asal Bali, yakni Harry Rahmat Darajat (Ai Syarif), Tjokorda Gede Abinanda Sukawati, Pande Putu Wijana, dan Bintang Miraafriningrum. Sedangkan desainer asal Yogyakarta, yaitu Mayasari Sekarlaranti dan Goet Puspa.

Salah satu pengunjung warga Belanda, Luca mengaku mengagumi batik Indonesia. Menurutnya, desain batik itu sangat unik dan cantik.

“Dahulu, kakek saya pernah tinggal di Indonesia dan pernah menggunakan batik, jadi saya ingin tahu lebih banyak tentang batik. Karena itu, saya datang ke sini. Coraknya sangat beragam dan warna warni," ujar dia.

Kekaguman yang sama diutarakan oleh Lara Peteers, seorang pengusaha ekspor-impor batik dan tenun ikat asal Belanda. Rasa kagumnya terhadap wastra Nusantara yang membuatnya bekerja sama dengan perusahaan di Indonesia memproduksi berbagai jenis wastra, tidak saja dalam bentuk pakaian jadi tetapi juga dalam berbagai bentuk seperti tas, dompet dengan desain modern sesuai selera masyarakat Eropa.

“Saya melihat desain wastra Indonesia sangat indah dan saya ingin agar batik maupun tenun ikat dipakai warga dunia,” kata Lara.

Sebelumnya, acara dan seminar bertajuk Wastra: Indonesia Traditional Textile as a Key for Environmental Sustainable Fashion yang digelar di Kedutaan Besar RI di Wassenar Den Haag pada 24 Juli 2017 juga banyak dihadiri warga Belanda, yang terdiri dari pengamat tekstil, Indonesianis dan pecinta batik.

Henriette, pegiat seni asal Delf merasa beruntung bisa mengikuti acara tersebut karena selama ini hanya melihat batik sebagai salah satu produk budaya Indonesia. Ternyata, setelah mengikuti acara ini, dia baru mengetahui bahwa wastra Indonesia sangat beragam dan memiliki cerita di balik pembuatannya.

"Misalnya ada corak khusus yang tidak bisa dipakai oleh semua orang. Khusus untuk upacara tertentu dan orang tertentu saja. Nah ini sangat menarik," kata dia.  

Acara tersebut dibagi menjadi dua sesi yaitu tentang Indigo, yaitu jenis tanaman yang digunakan sebagai pewarna alami batik yang dipresentasikan Laretna T. Adishakti dan Mayasari Sekarlaranti. Mereka menjelaskan tentang Yogya, the World Batik City dan proses pembuatan warna alami untuk batik, yang menghasilkan warna biru.

Sementara sesi kedua berbicara tentang tenun Gianyar. Dengan judul Traces of Gianyar Arts & Woven Fabric yang dibawakan Catrini Kubontubuh dan Prof. I Wayan Dibia. Dalam acara itu, peserta tidak saja mendapat wawasan baru tentang wastra Indonesia tetapi juga disuguhkan berbagai tarian, peragaan busana endek, songket dan batik.

File Not Found