Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 25 Agustus 2017 | 06:38 WIB
  • Menggenapi Ganjil Genap

  • Oleh
    • Amal Nur Ngazis,
    • Afra Augesti
Menggenapi Ganjil Genap
Photo :
  • Twitter/@Google_IDN
Director of Growth for Waze, Di-Ann Eisnor
File Not Found

VIVA.co.id – Masalah pelik lalu lintas Ibu Kota DKI Jakarta adalah kemacetan di jalanan. Banyaknya kendaraan bermotor namun tak diimbangi dengan volume ruas jalan di Ibu Kota membuat hari-hari di Jakarta masih terus disesaki kemacetan, terutama di jalan protokol. 

Salah satu terobosan pemerintah DKI Jakarta untuk mengatasi kemacetan tersebut adalah pemberlakuan sistem pelat nomor ganjil genap di ruas jalan protokol yaitu Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan MH Thamrin, Jalan Sudirman. 

Aturan ganjil genap ini telah berlaku sejak setahun lalu, 30 Agustus 2016. Ganjil genap dipilih pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menggantikan kebijakan pembatasan kendaraan bermotor di jalan protokol dengan skema ‘Three in One’. Kebijakan ‘Three in One’ dipandang tak efektif untuk menekan kemacetan lalu lintas di jalan protokol.

Pemprov DKI memang menginginkan agar kebijakan tersebut bisa efektif, dan ternyata berdasarkan survei Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta atas uji coba aturan ganjil genap selama sebulan sebelum diberlakukan, punya dampak bagus bagi kondisi lalu lintas Jakarta. 

Laporan evaluasi aturan itu menyebutkan, waktu tempuh kendaraan di ruas jalan protokol mencapai 19 persen. Menurut Dishubtrans DKI Jakarta, kecepatan kendaraan juga meningkat rata-rata 20 persen dari sebelum adanya uji coba aturan ganjil genap. Selain itu, secara keseluruhan terjadi penurunan volume arus kendaraan, yakni rata-rata sekitar 15 persen yang teramati dari empat titik pengamatan.

Cara Pemprov DKI Jakarta menyelesaikan problem kemacetan di ruas jalan utama Ibu Kota dengan aturan ganjil genap mendapat perhatian dari aplikasi navigasi lalu lintas, Waze. Aplikasi milik Google itu turut bergerak mendukung penyelesaian permasalahan lalu lintas di Jakarta. Wujudnya Waze bekerja sama dengan sistem kota pintar Jakarta Smart City. 

Salah satunya adalah lahirnya platform Connected Citizens yang dipakai oleh sistem Jakarta Smaty City. Dia menuturkan, platform itu dimanfaatkan sistem kota pintar Jakarta untuk memantau dan mengevaluasi titik ganjil genap yang berlaku di beberapa ruas jalanan Jakarta.

Director of Growth for Waze, Di-Ann Eisnor mengatakan, aplikasi navigasi Google itu selalu ingin menjadi solusi dalam masalah lalu lintas di kota besar di Indonesia.

Eisnor memuji inisiatif pemerintah Jakarta yang memberlakukan kebijakan ganji genap. Sebab kebijakan ini menutupi kekurangan dari kebijakan ‘Three in One’ yang melahirkan isu sosial.

"Kebijakan ‘Three in One’ itu ternyata meningkatkan kepadatan sampai 101 persen. Dan dengan ganjil genap, itu beri efek positif, tak ada ruang joki dan eksploitasi anak," ujar Eisnor dalam acara Google for Indonesia 2017 di Jakarta, Kamis 24 Agustus 2017.

Seiring dengan aturan ganjil genap, memang banyak pengendara kendaraan yang melewati jalan utama Jakarta masih ada beberapa yang kebingungan atau lupa menyesuaikan dengan aturan ganjil genap. Melihat hal tersebut Waze tak berhenti hanya berkolaborasi dengan Jakarta Smart City. 

Aplikasi yang muncul dari Israel ini sudah menyiapkan solusi untuk menyesuaikan dengan aturan ganjil genap. Solusinya dinamakan licence plate

Eisnor menjelaskan, fitur baru di Waze ini akan mengingatkan pengemudi dalam menentukan rute perjalanan yang disesuaikan dengan aturan ganjil genap. Cara kerjaya pengemudi diminta untuk mendaftarkan dua digit terakhir kendaraannya untuk kemudian didaftarkan pada aplikasi Waze. Setelah terdaftar, pengemudi akan diingatkan oleh Waze untuk menempuh rute tertentu yang menyesuaikan aturan tersebut. 

"Cukup menuju ke pengaturan di aplikasi, kemudian ada opsi memasukkan dua digit. Jadi kami otomatis akan memberikan rute sesuai dengan instruksi yang ada di aplikasi. Instruksi di aplikasi sesuai dengan kebijakan ganjil genap. Hanya dua nomor terakhir, kami tidak perlu seluruh nomor pelat kendaraan Anda," kata dia. 

Eisnor menuturkan, fitur ganjil genap itu masih dalam tahap pengembangan akhir dan tak lama lagi bisa dihadirkan untuk pengguna di Indonesia, khususnya Jakarta. Menariknya, kebijakan pengaturan lalu lintas di Jakarta dengan aturan ganjil genap mulai menginspirasi pemerintah kota lain di dunia untuk menerapkannya. 

"Ini fenomenal dan terima kasih Jakarta!" ujarnya. 

Dia menuturkan, saat fitur tersebut bakal dicicipi di Jakarta, Waze juga sedang menguji coba fitur ganjil genap tersebut di Rio de Janiero dan Sao Paulo, Brasil. Dia berharap semua ruas di kota tersebut bisa menerapkan fitur ganjil genap ala Jakarta. Eisnor menuturkan, kini sekitar 25 kota di seluruh dunia telah mengimplementasikan atau sudah memiliki aturan ganjil genap seperti Jakarta.

Kepala Jakarta Smart City, Setiaji mengakui kontribusi Waze dalam mengatasi kemacetan di Ibu Kota. Dia menuturkan kerja sama DKI Jakarta dengan Waze yakni untuk mendapatkan data dan informasi kemacetan di Jakarta. Data tersebut langsung diinformasikan ke masyarakat melalui portal Jakarta Smart City. 

Setiaji menuturkan data dari Waze dipakai untuk melihat bagaimana dampak sebelum dan sesudah pemberlakuan aturan ganjil genap. 

"Data Waze ini kami gunakan untuk analisa kebijakan transportasi seperti ganjil genap," ujar Setiaji kepada VIVA.co.id.

Soal kerja sama dengan Jakarta Smart City, Waze mengikuti kebijakan yang berlaku di Jakarta. Aplikasi milik Google itu bekerja bareng untuk melihat bagaimana implementasi aturan ganjil genap. Waze bersama dengan Jakarta Smart City mengukur dampak dari aturan ini.

Setelah sebulan pengukuran uji coba aturan itu, Eisnor mengatakan, ternyata menunjukkan adanya penurunan waktu perjalanan pengemudi sampai 19 persen. 

"Karena kami mampu mengukurnya dengan baik, dan dengan sangat cepat, maka kami memutuskan untuk memperluas program ini dalam jangka panjang," katanya.

Proyek ksatria

Menyelesaikan masalah kemacetan di Jakarta diakui memang bukan perkara mudah. Eisnor mengakui Jakarta adalah kota yang dinamis sekaligus tata kelola lalu lintas yang buruk dibanding kota di negara lain. 

Namun dia melihat, pemerintah Indonesia dan Pemprov DKi Jakarta tak berpangku tangan. Eisnor menuturkan ada inisiasi yang coba diwujudkan untuk mengatasi masalah kemacetan. Eisnor menyebutkan MRT dan LRT adalah sebuah langkah yang bagus untuk Jakarta. 

"Itu proyek ksatria. Saya pikir ini akan memberi komponen yang besar dalam rangka mengurangi kemacetan lalu lintas," kata dia. 

Director of Growth for Waze, Di-Ann Eisnor

Director of Growth for Waze, Di-Ann Eisnor

Meski inisiatif pembangunan lalu lintas berbasis massal itu penting, menurut Eisnor, upaya untuk memanfaatkan teknologi digital dalam menyelesaikan masalah lalu lintas perkotaan jangan sampai dikecilkan. Sebab menurutnya, penggunaan data dan informasi yang dimiliki warga dan pemerintah bisa dipakai untuk mempercepat tujuan perjalanan maupun menghindari kemacetan dengan cepat. 

Solusi yang ditawarkan Waze menurutnya mendukung arah tersebut. Bagaimana pengguna bisa mengetahui kendala di perjalanan dan bisa mengambil keputusan menghindari kemacetan lalu lintas.

"Saya pikir ini waktunya waktu yang tepat untuk mengimplementasikan teknologi dan memuaskan orang," katanya.

Waze memastikan akan terus menyesuaikan dengan kebijakan lalu lintas pemerintah Jakarta. Misalkan Pemprov menempuh solusi Electronic Road Pricing atau sistem jalan berbayar, maka aplikasi tersebut akan mencoba menciptakan solusi sesuai kebijakan yang ada.  

"Pekerjaan kami adalah memastikan memahami perubahan kebijakan dan mencoba untuk meresponsif dan terus terhubung dengan komunitas. Kami tak pernah menciptakan sebuah inovasi atau solusi sebelum kebijakan (itu lahir). Sebelum kebijakan tersebut terimplementasi kami tak akan menciptakan (solusi)" ujarnya. 

Sebagai rangkaian memberikan kemudahan bagi pengguna di Indonesia, Waze berupaya sedekat mungkin dengan orang Indonesia. 

Selain fitur berbasis pelat nomor kendaraan, Waze pada akhir tahun ini akan menambahkan perintah suara Bahasa Indonesia tanpa perlu memegang smartphone mereka. Navigasi nama jalan bakal diisi serangkaian suara orang Indonesia dalam Bahasa Indonesia. 

Suara Bahasa Indonesia ini tersedia untuk pertama kalinya. Suara baru ini diberi nama Dian. Ini lebih cerdas dibanding suara sebelumnya, lebih banyak tahu informasi jalan dan lainnya," ujar Eisnor.

Usai memperkenalkan Dian, Eisnor juga mengumumkan, mulai hari ini pengguna Waze di Indonesia bisa merekam suara mereka sendiri di Waze dan menggunakannya sebagai panduan navigasi di jalan raya. Sebab Waze baru saja meluncurkan fitur Perekam Suara.  

File Not Found