Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 26 Agustus 2017 | 05:46 WIB
  • Berdagang Kebencian, Bisnis Hitam Peretak Bangsa

  • Oleh
    • Harry Siswoyo,
    • Bayu Nugraha,
    • Agus Rahmat,
    • Anwar Sadat,
    • Daru Waskita (Yogyakarta)
Berdagang Kebencian, Bisnis Hitam Peretak Bangsa
Photo :
  • ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
Aksi Kampanye Anti Hoax di Jakarta beberapa waktu lalu.
File Not Found

VIVA.co.id – "Kita lawan opini kebohongan media bayaran" demikian tagline yang terpampang jelas di foto sampul akun Twitter bernama @SaracennewsCom.

Akun yang bertautan langsung dengan laman situs saracennews.com ini baru berumur setahun dan hanya memiliki pengikut 54 akun, dengan jumlah cuitan mencapai 1.464 buah.

Di Facebook, akun serupa menamai dirinya sebagai grup Saracen Cyber Team. Setidaknya ada lebih dari 136 ribu orang menjadi anggota dan dengan satu pengurus lalu 31 akun moderator.

Satu-satunya pengurus yakni akun bernama Jas. Pria ini yang kini dibekuk polisi atas perkara dugaan penyebar ujaran kebencian.

Tampilan muka akun Twitter SaracenNews.com

FOTO: Tampilan muka akun Twitter Saracen/@SaracenNews.com

 

Ia disebut-sebut sebagai ketua 'kelompok Saracen', yang memiliki peran sebagai perekrut anggota dan pengunggah segala konten provokatif dan SARA ke media sosial.

Di Facebook, akun Jas diketahui pertama kali dibuat pada 2011. Sementara itu, grup Saracen Cyber Team di Facebook dibuat pada 2015, lebih tua setahun dibanding akun Twitter mereka @SaracennewsCom.

Sebuah jejak digital yang relatif muda. Namun jangan salah, kepolisian menyebut jika kelompok Saracen ini bukan sembarangan.

Konon, ada 800 ribu akun yang dikelola oleh Saracen. Mayoritasnya adalah akun yang diretas mulai dari milik orang Indonesia hingga Vietnam.

Dari ratusan ribu akun itu, kemudian mereka bisa mendistribusikan informasi secara meluas. Termasuk merekrut anggota baru.

Karena itu juga lah, kelompok ini kemudian bisa membuat grup yang terorganisasi dan terstruktur. "Ada grup wilayah, grup organisasi. Jadi tidak lagi perbuatan orang per orang saja. Sudah satu kelompok," ujar Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Pol Irwan Anwar, Rabu, 23 Agustus 2017.

Selanjutnya, Mendulang Rupiah

File Not Found