Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 31 Agustus 2017 | 05:21 WIB
  • Hakikat Perenungan Saat Puncak Haji

  • Oleh
    • Eko Priliawito
Hakikat Perenungan Saat Puncak Haji
Photo :
  • REUTERS/Ahmed Jadallah
Puncak Ibadah Haji, Jutaan Jemaah Memadati Arafah.
File Not Found

VIVA.co.id – Suara bising klakson kendaraan bersahutan memecah keheningan Kota Mekah pada Rabu pagi, 30 Agustus 2017. Meski Matahari belum tinggi, gelombang kendaraan yang mengangkut jemaah haji yang akan menuju Arafah mulai terjadi.

Suhu pagi itu berkisar 37 derajat celsius. Sayup talbiyah juga terdengar dari rombongan jemaah haji yang berjalan kaki menuju Mina. Kebanyakan mereka akan melaksanakan Tarwiyah.

Peningkatan pengamanan juga telah dilakukan, jalan-jalan utama di Kota Mekah mulai dijaga. Barikade polisi terlihat di jalan yang merupakan akses utama menuju Mina dan Arafah.

Seluruh kendaraan yang akan masuk dua wilayah penting tempat penyelenggaraan puncak haji itu diperiksa. Kendaraan yang tidak memiliki izin akan dipaksa untuk berputar balik. Antrean panjang kendaraan mengular. 

Di jalan utama yang berada di kawasan Shisha. Polisi berjaga di depan terowongan King Fath. Tidak hanya kendaraan yang tak berizin, polisi juga mencari jemaah yang tidak memiliki surat izin berhaji atau tasreh.

Tak jauh dari pos pemeriksaan, jemaah haji yang sepertinya tidak memiliki tasreh nekat menghindari pemeriksaan dengan mendaki gunung batu. Kebanyakan dari mereka hanya menggunakan sandal jepit. Ratusan jemaah ini saling bantu saat menjajaki gunungan batu.

Kesibukan di kantor Misi Haji Indonesia Daerah Kerja Mekah juga sangat terasa, meski sebagian petugas sudah berada di Arafah untuk mempersiapkan kedatangan jemaah yang mulai diberangkatkan pada pagi hari. 

Amirul Hajj yang juga Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan, untuk pelaksanaan puncak haji ini seluruh tenda jemaah dipastikan  baru dan dari bahan yang tahan api. Semua tenda telah terpasang. Tenda juga dilengkapi dengan karpet baru, pendingin ruangan dan water fan. Semua fasilitas telah siap digunakan jemaah.

Menurut Menag, haji tahun ini memang berbeda, terutama dalam bentuk kualitas layanan.

"Alhamdulillah bahkan tahun ini kita tingkatkan layanan katering, sebelumnya hanya 12 kali, tapi sekarang 25 kali makan tanpa mengurangi uang saku jemaah," kata Lukman Hakim di Daker Mekah, Rabu 30 Agustus 2017.

Semua fasilitas telah disiapkan karena pada Kamis, 31 Agustus 2017 inu, atau bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1438 Hijriah, jutaan umat muslim dari penjuru dunia, termasuk Indonesia, akan menjalani wukuf di Arafah.

Menurut Menag, ibadah haji merupakan perjalanan rohani menuju Allah SWT. “Bila kita menghayati dan mengamalkan secara baik dan benar, maka akan mengantarkan kita memahami jati diri sebagai manusia yang beriman dan bertakwa,” tuturnya.

Wukuf dilakukan dari saat tergelincir Matahari hingga terbenam Matahari. Wukuf di Arafah ini yang menjadi penanda puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji.

Disampaikan Menag, wukuf merupakan sarana kontemplasi untuk merenung dan memahami hakikat jati diri kemanusiaannya. Karena itu, ibadah haji jangan sekadar ritualitas yang hampa makna.

"Terpenting adalah perenungan kita, siapa kita sebagai manusia dan Allah sebagai Tuhan kita," kata Lukman.

Dengan berihram, semua orang tidak ada perbedaan. Semua harus meninggalkan atribut keduniawian, kepangkatan, dan kekayaan.

Sementara itu, anggota Amirul Hajj, KH Musthofa Aqil, berpesan agar jemaah haji Indonesia selalu pasrah atau lillah saat melaksanakan rangkaian ibadah haji.

Karena haji adalah ibadah yang luar biasa. Sejak awal sampai akhir pelaksanaan terdapat kepasrahan kepada Allah SWT. “Lillah artinya pasrah (hanya karena Allah)," katanya.

Musthofa mengajak jemaah selalu memohon ampunan dari Allah saat wukuf di Arafah. Karena dalam setiap ampunan Allah akan selalu ada rahmat.

Allah akan menurunkan rahmat sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang. Karena itu, jemaah diminta memperbanyak membaca istighfar ketika berada di padang Arafah. “Semoga menjadi haji yang mabrur,” katanya.

Imam dan Khatib salat Jumat di Masjidil Haram Syekh Shalih Alu Thalib juga menyampaikan beberapa pesan penting kepada para jemaah haji dari berbagai penjuru dunia.

Menurut Shalih, ibadah haji adalah ibadah totalitas yang menghapus dosa, menampilkan syiar dan simbol persatuan, menjunjung kehormatan dan keindahan, memupuk kebersamaan dengan bersama-sama melantunkan talbiyah.

Berhaji katanya, mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan angkara murka, nafsu duniawi, dan kecintaan terhadap materi. 

Terpenting, kata dia, memperbanyak doa sewaktu wukuf di Padang Arafah, berdoalah di Muzdalifah, dan berdoalah di tiap habis melempar jumrah.

Selanjutnya, Jemaah Haji Harus Disiplin

File Not Found