Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 6 September 2017 | 06:30 WIB
  • Duka Dunia untuk Rohingya

  • Oleh
    • Endah Lismartini,
    • Dinia Adrianjara
Duka Dunia untuk Rohingya
Photo :
  • REUTERS/Adnan Abidi
Aksi unjuk rasa pengungsi Rohingya di Kota New Delhi, India.
File Not Found

VIVA.co.id – Sudah hampir dua pekan etnis Rohingya kembali terpuruk dalam kekejian di negeri mereka sendiri, Myanmar. Tapi, suara maupun manuver Aung San Suu Kyi – tokoh demokrasi dan HAM yang kini jadi salah satu petinggi di Myanmar – untuk mengatasi krisis kemanusiaan atas etnis Rohingya di negara bagian Rakhine itu belum juga terdengar.

Itu sebabnya banyak warga dan sejumlah tokoh di berbagai belahan dunia kini menyampaikan keprihatinan mereka atas situasi di Myanmar. Mulai dari kicauan di media sosial hingga aksi unjuk rasa.  

"Dunia menunggu Anda, Muslim Rohingya menunggu Anda." Tulisan 'menunggu' itu disampaikan oleh Malala Yousafzai, gadis asal Pakistan yang terkenal karena pembelaannya pada hak-hak anak perempuan untuk tetap bisa sekolah. Malala, penerima Nobel Perdamaian pada tahun 2014, menyampaikan kegelisahan dan kesedihan atas tragedi kemanusiaan yang terjadi pada etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar. Ia mengkritik Aung San Suu Kyi, yang selama tragedi Rohingya tak juga bersuara.

Melalui akun Twitternya Malala meminta Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar untuk melakukan atau mengatakan sesuatu terkait aksi kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar kepada etnis Rohingya. Melalui media sosial itu, Malala meminta agar aksi kekerasan di Myanmar dihentikan, etnis Rohingya diakui kewarganegaraannya, dan seluruh negara di dunia bersedia membantu pengungsi Rohingya.

"Selama beberapa tahun terakhir, saya selalu mengutuk perilaku tragis dan memalukan ini. Saya masih menunggu rekan saya, sesama penerima Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi untuk melakukan hal yang sama. Dunia menunggu, dan Muslim Rohingya menunggu," tulis Malala, 4 September 2017.

Malala tak sendirian. Kesunyian Suu Kyi, penerima penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1991, atas aksi kekerasan yang terjadi di depan matanya sendiri membuat dunia kecewa.

Kesunyian Suu Kyi sudah terasa sejak Oktober 2016, ketika terjadi kekerasan yang sama terhadap etnis Rohingya di Rakhine. Saat itu Suu Kyi juga tak bersuara. Padahal sejak Januari 2016, Suu Kyi secara resmi sudah menjadi pemimpin Myanmar. Meski sudah tak lagi menjadi tahanan rumah, dan sudah menjadi pemimpin, namun perempuan paruh baya itu seperti tak terhubung dengan Rakhine. Entah sejauh apa jarak yang membentang, ia tak berkomentar.

Februari 2017, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra'ad Al Hussein mencatat, Suu Kyi tak sedikitpun menampakkan kondisi emosional ketika membaca laporan PBB tentang pembantaian terhadap Rohingya yang ia sampaikan pada Februari 2017.

Akhir Agustus 2017, konflik yang berujung pada tragedi kemanusiaan di Rakhine, Myanmar, kembali terulang. Dan Suu Kyi kembali diam. Ia tak berkomentar dan menunjukkan sikap jelas atas kekerasan dan kebrutalan tentara Myanmar terhadap etnis Rohingya.

Minggu lalu, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson juga mengecam Suu Kyi. "Aung San Suu Kyi pernah menghadapi tantangan besar di negaranya sendiri. Saya berharap saat ini ia bisa menggunakan kualitasnya yang sudah diakui untuk menyatukan negaranya, untuk menghentikan kekerasan dan mengakhiri prasangka yang menimbulkan sengketa antara Muslim dan komunitas lain di Rakhine," ujar Johnson seperti diberitakan oleh Reuters, 3 September 2017.

Sekjen PBB Antonio Guterres, mengaku sangat mencermati perkembangan atas situasi yang terjadi di Rakhine. Ia meminta seluruh pihak untuk menahan dan menenangkan diri untuk mencegah terjadinya bencana kemanusiaan.Sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, apa yang terjadi di Rakhine adalah genosida atau pembersihan etnis.

File Not Found