Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 14 September 2017 | 06:04 WIB
  • Putra-putri Indonesia di Balik Efek Visual Film Hollywood

  • Oleh
    • Zahrotustianah
Putra-putri Indonesia di Balik Efek Visual Film Hollywood
Photo :
  • Dok.Ist
Samuel Simanjuntak (kiri), Faza Sulthon (tengah), Denny Ertanto (kanan)
File Not Found

VIVA.co.id – Gedung-gedung runtuh dalam sekejap, kota porak-poranda, dan serbuan makhluk-makhluk asing ke bumi membuat kita sebagai penonton film melongo takjub. Kehebatan efek visual dalam film-film Hollywood, sering kali membuat penonton terpukau. Bagaimana bisa semua yang berasal dari komputer itu terlihat sangat nyata di depan mata.

Meski Indonesia belum punya bujet yang cukup besar untuk membuat film dengan efek visual sekeren Hollywood, tetapi jangan salah, karena secara Sumber Daya Manusia, sebenarnya Indonesia tak kalah luar biasa. Di antara begitu banyak para kreatif di bidang efek visual Hollywood, rupanya terdapat sejumlah anak muda Indonesia di sana.

Kepada VIVA.co.id, tiga anak muda Indonesia berikut ini berbagi cerita serunya terlibat di balik proses pengerjaan efek visual film-film Hollywood. Siapa saja mereka? Yuk, ikuti kisah selengkapnya.

Samuel Ebijeser Simanjuntak

Pria yang akrab disapa Sam ini merupakan salah satu tim efek visual untuk sederet film blockbuster Hollywood. Beberapa di antaranya ada Wonder Woman, Suicide Squad, X-Men Days of Future Past, Cinderella, Pan, Tarzan, The Martian, dan X-Men Apocalypse. Saat ini, Sam juga sedang terlibat dalam pengerjaan Murder of the Orient Express yang akan dibintangi Johnny Depp.

Sam bekerja sebagai seorang environment TD/artist yang bertugas membuat lingkungan digital dengan menggunakan komputer. Ia mencontohkan, salah satu karyanya dalam film Wonder Woman adalah pembuatan pulau dan tebing yang ada pada adegan Gal Gadot berperang melawan tentara Jerman di pantai. Saat syuting, tebing-tebing dan pulau itu sesungguhnya tak ada di pantai asli.

Pria kelahiran Solo ini mengakui, keterlibatannya dalam dunia efek visual bermula dari kesukaannya dengan 3D Computer Graphics. Lulus S1, dia pun pergi ke Vancouver, Kanada, untuk belajar bidang ini lebih dalam. Setelah itu, Sam mulai bekerja di MPC untuk film-film besar, setelah delapan bulan di perusahaan berproyek serial TV sebelumnya.

 

MPC 3ddmp/Environment Xmen Team #vfxartist #xmenapocalypse #mpc

A post shared by Samuel Simanjuntak (@sam_jesser) on

Lebih lanjut, ayah satu anak ini menjelaskan, pengerjaan efek visual dalam satu film memakan proses yang begitu panjang dengan tim yang juga tak sedikit jumlahnya. Karena itu, hampir empat tahun bekerja di industri Hollywood, ia memahami, ketika namanya tak selalu tercatut dalam credit scene yang muncul di akhir film.

"Di beberapa film yang saya kerjakan, ada yang enggak masuk credit di akhir film, contohnya X-Men Days of Future Past, Cinderella, Tarzan, dan Suicide Squad. Tapi itu sudah biasa karena terkadang kalau terlalu banyak vfx (efek visual) artisnya, jadi enggak masuk semua, soalnya klien masukin secara random hehehe," jawab Sam.

Nama Sam namun pernah muncul di akhir film PAN, The Martian, X-Men Apocalypse, dan Wonder Woman. Namun, baginya, momen pertama kali ikut proyek Hollywood masih lebih mengharukan dibanding melihat nama di layar credit.

Berikutnya, Faza Amaly>>>

File Not Found