Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 22 September 2017 | 06:20 WIB
  • Lekaslah 'Sembuh' Setya Novanto

  • Oleh
    • Toto Pribadi,
    • Fajar Ginanjar Mukti
Lekaslah 'Sembuh' Setya Novanto
Photo :
  • ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Pengunjuk rasa membawa poster Ketua DPR, Setya Novanto, di depan Gedung KPK beberapa waktu lalu.
File Not Found

VIVA.co.id – Judul di atas adalah harapan – dan bisa juga doa – dari masyarakat yang dilayangkan dalam sejumlah komentar ke VIVA.co.id sejak memberitakan sakitnya Ketua Dewan Perwakilan Rakyat itu dalam beberapa hari terakhir. Keinginan serupa tentu juga muncul dari tim penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi, yang sangat berharap segera memeriksa Setya Novanto sebagai tersangka kasus korupsi proyek e-KTP.

Entah kebetulan atau tidak, Novanto mendadak “diserang” begitu banyak penyakit. Bukan dia yang bilang sendiri, namun dari kolega-koleganya yang menjadi bawahan Novanto di Partai Golkar.

Kabar serangan penyakit bertubi-tubi itu dilontarkan beberapa saat sebelum KPK dijadwalkan memeriksa Novanto sebagai tersangka. Penyakit-penyakit yang, kabarnya, mendera Novanto itu tergolong “kelas berat” dan mengerikan bagi orang seusianya.

Berawal dari gula darah yang tinggi, lalu vertigo, hingga menjalar pada masalah jantung dan ginjal. Ini yang membuat Novanto, kabarnya pula, sudah berhari-hari terbaring lemah di rumah sakit.

Alasan kesehatan itu pula yang membuat KPK dua kali gagal memanggil Novanto untuk diperiksa sebagai tersangka. Publik pun kini bertanya-tanya, bagaimana langkah KPK selanjutnya, apakah pada pemanggilan ketiga nanti bisa berhasil memaksa Novanto untuk diperiksa?

Reputasi KPK, untuk masalah Novanto ini, sekali lagi dipertaruhkan. Mampukah KPK  bisa tegas memeriksa dan mengambil langkah hukum atas seorang tersangka, yang kebetulan adalah pejabat tinggi negara dan juga pemimpin partai politik yang punya pengaruh besar di republik ini?

Masyarakat pun sangat berharap adanya kemajuan besar dari KPK untuk mengusut tuntas kasus korupsi kelas kakap ini. Bukan saja soal triliunan rupiah uang negara yang disikat secara bancakan oleh sekelompok koruptor, namun kasus ini pula sudah membuat banyak warga kesusahan.

Hak sebagian rakyat untuk mendapat e-KTP sampai sekarang belum juga dipenuhi oleh Negara, gara-gara kekurangan blangko dan ini merupakan imbas dari kasus korupsi itu. Makanya, publik sangat menaruh perhatian atas kasus korupsi ini. Dari sekian pejabat dan pengusaha yang sudah dijerat hukum, pemeriksaan atas Novanto ini lah yang diyakini bisa membawa kemajuan besar bagi KPK untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

Sempat dipanggil sebagai saksi oleh KPK, pada medio Juli lalu status Novanto naik menjadi tersangka dalam kasus korupsi megaproyek e-KTP. Ketua Umum Golkar ini dianggap ikut terlibat dalam kasus korupsi  yang merugikan negara Rp2,3 triliun dari total nilai proyek Rp5,9 triliun tersebut.

Setelah penetapan tersangka, KPK langsung bergerak cepat untuk mendalami keterlibatan dari sosok yang akrab disapa Setnov ini dalam proyek e-KTP. KPK memanggil Setnov untuk menjalani pemeriksaan pertama sebagai tersangka dalam kasus tersebut pada Senin 11 September 2017 lalu.

Namun saat itu Novanto mangkir dari panggilan KPK karena alasan mengalami kendala kesehatan dan dilarikan ke RS MRCCc Siloam, Semanggi, Jakarta. Tak hanya itu, Setnov juga mengajukan surat aspirasi ke DPR agar mengirimkan permohonan penundaan pemeriksaan ke KPK.

KPK seakan tak menggubris. Panggilan kedua dilayangkan dan meminta Novanto menjalani pemeriksaan pada Senin 18 September 2017 lalu. Namun lagi-lagi, Setnov tak memenuhi panggilan KPK dengan alasan yang sama, masih sakit dan kondisinya tak memungkinkan.

Menurut informasi dari orang-orang terdekatnya, Setnov ternyata mengidap begitu banyak penyakit mulai dari awalnya vertigo yang diketahui setelah ia terjatuh saat bermain ping pong,  lalu merembet ke masalah jantung, ginjal hingga gula darah. Ia kini dirawat di RS Premier Jatinegara.

“Ternyata terjadi penyempitan dan fungsi jantungnya tersumbat 80 persen," kata Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini DPP Golkar, Nurul Arifin, Senin 18 September 2017.

Bahkan menurut Nurul Arifin, pada jantung Setya Novanto kini sudah terpasang dua ring dan terus menjalani observasi di ICCU RS Premier Jatinegara. “Memang kelihatannya ada fungsi ginjal yang terganggu juga,” kata Nurul saat itu.

Seakan tak ingin terkecoh, tim penyidik dan dokter KPK langsung menyambangi RS Premier Jatinegara untuk memastikan kondisi terakhir dari Setya Novanto. KPK juga menemui langsung tim dokter yang menangani Setya Novanto.  

Menurut Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, saat itu pihaknya akan segera mempelajari hasil pemeriksaan kesehatan yang bersangkutan.  Bahkan KPK berencana meminta dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk memeriksa kesehatan Novanto sebagai pendapat medis kedua atau second opinion.

File Not Found