Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 3 Oktober 2017 | 05:40 WIB
  • Setop Beli Batik Printing!

  • Oleh
    • Tasya Paramitha,
    • Linda Hasibuan
Setop Beli Batik Printing!
Photo :
  • ANTARA FOTO/Yusran Uccang
Proses pembuatan batik tulis menggunakan canting dan malam.
File Not Found

VIVA.co.id – Penetapan Hari Batik Nasional diawali dengan masuknya batik ke daftar Warisan Budaya Takbenda The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dalam katagori Representative List of Intangible Cultural Heritage of Humanity, melalui sidang tahunan Intangible Cultural Heritage UNESCO ke-4 di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009.

Sontak saat itu warga Indonesia dihantam euforia batik. Batik yang dulu dianggap kuno justru dengan bangga dikenakan di berbagai kesempatan dan bahkan didesain sedemikian rupa menjadi busana-busana modern, hingga dijadikan tas, kalung dan beragam aksesori.

Sayang, euforia ini kemudian melahirkan rival yang tak terduga, batik printing. Soal harga, jauh lebih murah. Proses produksinya pun memakan waktu yang lebih singkat.

Tapi batik printing bukan batik, melainkan kain atau tekstil bermotif batik yang diproduksi dengan mesin. Namun, karena harganya murah dan dapat mengikuti permintaan batik yang tinggi, maka batik printing pun kian merajalela di pasaran.

Usaha Batik Tulis Tergilas

Menurut Lien Dwiari Ratnawati, Kasubdit Warisan Budaya Takbenda Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, kemunculan batik printing mematikan usaha batik tulis dan cap.

"Printing kan pakai mesin, cepat banget. Sebulan bisa menghasilkan berbal-bal kain. Sedangkan batik tulis yang bagus membutuhkan proses pengerjaan selama 1-3 bulan, seperti batik kentongan yang dipendam di gentong jadi mahal," ujar Lien saat dihubungi VIVA.co.id via sambungan telepon, Senin, 2 Oktober 2017.

Ia mengatakan, batik tulis standar dengan kain berukuran 2x1,2 meter atau 1,8x1,2 meter, harganya paling murah Rp250 ribu. Sedangkan harga batik printing 1 meternya hanya Rp20-35 ribu.

"Batik printing merusak tatanan kerajinan batik. Sangat disayangkan ada batik printing buatan perusahaan lokal. Tapi parahnya ada juga yang buatan China dan banyak dibeli orang Indonesia," katanya.

Miris, karena yang diakui UNESCO justru bukan kain batiknya, tapi proses pembuatan batik tradisional, yaitu batik tulis yang dibuat menggunakan canting dan malam, serta batik cap. UNESCO mengakui proses membatik seperti itu hanya ada di Indonesia.

Kalau dibedah, nama 'batik' sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Jawa, 'amba' yang artinya 'menulis' dan 'titik' yang artinya 'titik'. Secara harfiah, batik merupakan seni menghias kain dengan ditulis dan diisi dengan titik-titik.

Proses pengerjaan batik dilakukan dengan cara ditulis dengan menggunakan canting dan cap berbahan logam yang dicelupkan ke dalam cairan lilin sebagai pembentuk motif sebelum dicelup ke dalam cairan pewarna baik yang berbahan dasar alami maupun kimia.

"Banyak yang belum tahu kalau yang diakui UNESCO bukan batiknya, melainkan cara membatik menggunakan canting dan malam. Masih banyak yang tidak tahu, karena memang sosialisasinya kurang. Perhatian dan rasa keingintahuan orang juga kurang. Makanya akhirnya mereka enggak bisa membedakan mana batik yang asli, batik tulis dan cap, dan mana batik tiruan alias printing," ucap Lien.

Perajin menyelesaikan pembuatan Batik Cap di Rumah Produksinya

Hal senada diutarakan oleh Laretna T. Adishakti selaku Dewan Pakar Paguyuban Pencinta Batik Indonesia Sekar Jagad. Menurutnya, kemunculan batik printing atau sablon memberi imbas negatif untuk perkembangan batik tulis atau cap.

"Batik tidak sekadar simbol atau motif, tapi ada suatu proses di dalamnya. Dalam membuat motif itu juga sebuah kemampuan dan karya tangan yang patut dihargai," kata Laretna.

Dia mengatakan, demi menyejahterakan para pembatik tulis atau cap, sebaiknya konsumen jangan membeli batik printing. Itu lantaran batik printing merusak citra seni membatik yang sesungguhnya.

Hal tersebut juga seharusnya menjadi komitmen warga Indonesia demi menjaga batik sebagai warisan budaya, yakni dengan mengedepankan batik yang dibuat dengan teknik dan proses membatik tradisional.

"Sebenarnya batik itu dulu dapat dikatakan sangat berkembang. Namun, hancur karena tiba-tiba keluar printing yang merusak harkat hidup seniman pembatik," ujar Laretna.

Selanjutnya...

File Not Found