Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 10 Oktober 2017 | 05:44 WIB
  • Mengapa Nyamuk Jadi Pembunuh Mematikan?

  • Oleh
    • Anisa Widiarini,
    • Adinda Permatasari
Mengapa Nyamuk Jadi Pembunuh Mematikan?
Photo :
  • Pixabay/Nuzree
Gigitan nyamuk.
File Not Found

VIVA.co.id – Sadarkah Anda, bila nyamuk-nyamuk yang berkeliaran di sekitar Anda semakin banyak saja? Meski sudah dibasmi menggunakan obat serangga, nyamuk seolah tak berhenti datang dan mengganggu. 

Padahal, tak hanya menggangu kenyamanan, gigitan nyamuk juga disebut-sebut sebagai pemicu berbagai ancaman dari wabah penyakit berbahaya. Tidak sedikit penyakit akibat gigitan nyamuk yang telah terkonfirmasi (ditemukan di Indonesia, sebut saja demam berdarah dengue (DB), malaria, chikukunya, dan wabah zika yang belakangan hadir dan meneror ibu hamil.

Indonesia memang salah satu negara yang rentan ancaman penyakit yang ditularkan lewat gigitan nyamuk. Dewasa ini, jumlah penyakit yang ditularkan juga semakin meningkat. Salah satu penyebabnya adalah bertambahnya populasi nyamuk.

Menurut Dr. dr. Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI dari Pesatuan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi (PETRI), bertambahnya populasi nyamuk tersebut salah satunya dipicu dari perubahan iklim.

"Suhu atau temperatur yang semakin tinggi, membuat nyamuk jadi 'doyan kawin'. Sehingga, telur semakin banyak, semakin banyak juga orang yang tertular penyakit," ujar Leo ditemui VIVA.co.id di Jakarta.

Selain itu, nyamuk-nyamuk juga menjadi semakin 'bandel'. Menurut Leo, nyamuk merupakan serangga yang sangat pintar beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. 

Jika dulu nyamuk bisa ampuh dibasmi dengan obat nyamuk tertentu, belakangan nyamuk sudah kebal dan tidak mempan lagi menggunakan obat nyamuk itu.

"Jadi, nyamuk itu bisa terbang lagi, dia jadi tambah kuat. Karena, dia paling cepat beradaptasi dengan perubahan lingkungan, termasuk ruangan yang terus menerus disemprot obat nyamuk tertentu," kata Leo.

Nyamuk membunuh lebih banyak dari hewan buas

Ternyata, nyamuk adalah serangga kecil yang mematikan. Bahkan, data terbaru menyebutkan bahwa hewan kecil ini menduduki peringkat pertama hewan yang paling banyak membunuh manusia di muka bumi ini dibandingkan dengan hewan buas lainnya.

Data WHO tahun 2016 menunjukkan, jumlah kasus kematian akibat gigitan nyamuk mencapai 725 ribu per tahun. 

Jumlah penyakit yang ditularkan nyamuk mencapai 17 persen dari seluruh penyakit menular, dengan kematian mencapai satu juta per tahun, dan paling banyak terjadi di Afrika.

"Malaria menyebabkan kematian 14 ribu orang per tahun, terutama di Afrika. Sementara itu, di Indonesia, kematian akibat demam berdarah masih tinggi," ujar Leo.

Leo menambahkan bahwa lebih dari 2,5 miliar orang di lebih dari 100 negara berisiko tertular demam berdarah, dan 3,2 miliar orang berisiko tertular malaria.

Sedangkan bila dibandingkan dengan ular yang menduduki posisi kedua, kematian yang diakibatkan oleh ular diketahui jumlahnya hanya 94 ribu per tahun. Lalu, di posisi ketiga di duduki oleh anjing (rabies) yang mencapai hinga 25 ribu kematian. 

"Bukan karena nyamuknya itu sendiri, melainkan karena nyamuk adalah vektor tular yang menularkan, baik dari manusia ke manusia, atau dari binatang ke manusia," ujar Leo.

Ada tiga penyakit utama yang ditularkan melalui nyamuk, yaitu malaria, demam berdarah, dan filariasis. Selain itu, dana yang dihabiskan sekitar Rp2 triliun hanya untuk penanggulanan dan pengobatan ketiga penyakit ini.

Penelitian dr. Leonard tahun 2009 menunjukkan, satu kasus DB menghabiskan rata-rata 1,5 juta rupiah, belum termasuk transportasi dan lost of income dan biaya penanggulangan wabah. 

Sementara itu, jenis nyamuk penyebab ketiga penyakit tadi adalah Aedes (terutama Aedes aegypti) yang juga menyebabkan yellow fever, zika, dan chikungunya. Sedangkan nyamuk Anopeles (penyebab malaria) dan nyamuk Culex (nyamuk rumah atau kebon,) yang dapat menularkan kaki gajah (filariasis) dan enchepalitis.

Berikutnya, penting kenali jenis nyamuk>>>

File Not Found