Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 14 Oktober 2017 | 07:18 WIB
  • Pilu Sepakbola Nasional, Darah Kembali Tumpah di Stadion

  • Oleh
    • Satria Permana,
    • Radhitya Andriansyah
Pilu Sepakbola Nasional, Darah Kembali Tumpah di Stadion
Photo :
  • VIVA.co.id/Yandi Deslatama (7-10-2017)
Suporter PSS Sleman tertahan usai bentrok dengan Cilegon United
File Not Found

VIVA.co.id – Keceriaan di Stadion Mini Cibinong seketika sirna. Tak ada lagi senyum di antara penonton, hanya rasa takut dan panik terpancar dari wajah mereka.

Di sisi lain, beberapa dari mereka terlihat marah, penuh emosi. Itulah gambaran yang terlihat usai PSMS Medan menang atas Persita Tangerang dalam lanjutan babak 16 besar Liga 2.

Usai duel tersebut, kerusuhan pecah. Aksi saling lempar batu dan benda keras lainnya terjadi. Kerusuhan tak hanya terjadi di dalam stadion, tapi juga meluas hingga ke luar.

Sehari setelah kerusuhan, kabar duka datang dari suporter Persita. Salah seorang suporter bernama Banu Rusman tewas usai jadi bulan-bulanan oknum suporter PSMS yang berseragam TNI.

Memilukan, inikah sepakbola Indonesia? Ribut lagi, korban jatuh kembali?

Pelatih Persita, Bambang Nurdiansyah, menyesalkan kejadian ini. Dia tak habis pikir, pertandingan sepakbola yang seharusnya berfungsi sebagai sarana hiburan, justru berubah jadi ajang saling bunuh.

"Yang dikejar prestasi, bukan main bunuh-bunuhan. Ini hiburan rakyat. Saya berharap, ini jadi yang terakhir. Saya prihatin atas kejadian ini dan mengucapkan belasungkawa kepada keluarga korban," kata Banur kepada VIVA.co.id, Kamis 11 Oktober 2017.

Manajemen Persita pun akan melayangkan surat protes kepada PSSI. Mereka mendesak agar PSSI mengusut tuntas kasus ini.

"Karena, kami tidak ingin dukungan positif mereka kepada Persita, berubah jadi dukungan negatif oleh oknum suporter yang tidak bertanggung jawab," kata Direktur Persita, Azwan Karim.

Dari musim ke musim, kasus serupa selalu terjadi. Bahkan, sejak awal hingga pekan kedua Oktober 2017, sudah terjadi empat kerusuhan yang melibatkan suporter, termasuk bentrok pendukung PSMS dan Persita.

Bentrok pertama terjadi pada 30 September 2017. Tepat pukul 23.30, sekelompok Bonek berpapasan dengan ratusan anggota perguruan beladiri.

Sempat terjadi kesalahpahaman di antara keduanya. Bentrok terjadi, tapi mampu dilerai oleh petugas Polrestabes Surabaya.

Bentrok susulan terjadi saat ada dua anggota perguruan beladiri melewati rombongan bonek. Alhasil, mereka jadi bulan-bulanan Bonek. Kedua korban kritis dan meninggal dunia.

Kerusuhan lainnya terjadi saat Cilegon United bersua PSS Sleman, Jumat 6 Oktober 2017. Dalam duel tersebut, sempat ada kericuhan antara dua kubu suporter. Tapi, petugas keamanan bisa mengendalikan situasi dan korban jiwa terhindarkan, tapi yang terluka cukup banyak.

Dan, kericuhan terakhir terjadi saat Kalteng Putra berhasil mempermalukan Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo, Kamis 12 Oktober 2017. Peristiwa bermula saat pemain Kalteng Putra melakukan selebrasi kemenangan, padahal peluit tanda berakhirnya pertandingan belum berbunyi.

Emosi Bonek tersulut. Saat wasit meniup peluit akhir, Bonek melempar botol-botol minuman.

Tak sampai di situ, sebagian dari mereka merangsek masuk ke dalam lapangan. Upaya Bonek sempat dihalang-halangi polisi. Hingga akhirnya, Bonek mulai beralih merusak berbagai properti di dalam stadion.

Ini hanya bentrok yang terjadi di periode Oktober 2017 saja. Jika ditotal, sejak Januari hingga Oktober 2017, sudah lima suporter meregang nyawa akibat kericuhan di dalam stadion. Salah satunya adalah Ricko Andrean, korban salah sasaran amuk Bobotoh di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, 22 Juli 2017 lalu.

Selanjutnya...

File Not Found